LOGINKetika cahaya mentari memasuki celah-celah tirai, Leiara yang tertidur larut di malam hari, mulai terganggu. Perempuan itu menggeliatkan badan, melakukan pereganggan sejenak, sebelum kemudian duduk di atas ranjang.
Dia menunduk, menatap perutnya, lalu menyentuh. “Good morning, babies. Apakah tadi malam kalian tidur dengan nyenyak.” Seolah teringat dengan sesuatu, dia mengeluas perlahan. “Oh, tadi malam … apakah kalian menendang?” Leiara tertawa kecilDi sebuah apartemen yang tenang, jauh dari kesibukan orang lain, justru memberikan satu perspektif yang berbeda. Pada pukul 07.15 pagi, suasana di dapur tampak berbeda dari biasanya.Aroma kopi semerbak menyerbu sekaligus memenuhi dapur ketika Leiara berdiri di depan kitchen island, mengenakan piyama satin berwarna krem dengan rambut panjang yang masih sedikit berantakan. Ia sibuk mengoleskan selai stroberi ke atas roti panggang, sesekali melirik ponselnya yang terus bergetar. Sesekali tangannya menyentuh pinggang.Astaga kehamilan diusia 8 bulan sungguh berat.Di ruang makan, Theodore sudah duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Secangkir espresso berada di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk menggulir layar tablet. Pekerjaan nya hari ini tidak sesibuk sebelumnya. Terutama ketika ia sudah mengerahkan tim inti sindikat mafia ke ‘medan’ perang.Well, setidaknya, itulah yang terlihat secara sekilas. Hal ini d
Heritage saat ini melenggang sepi. Di depan gerbang terjaga setidaknya lima pengawal. Mereka adalah anggota mafia yang memang memiliki sumpah setia untuk terus bersama Damon. Ketika masuk ke dalam mansion ala Jepang ini, dia langsung disambut para pelayan. Beberapa dari mereka menyapa dengan ramah, lainnya hanya memberikan sapaan berupa anggukanㅡbiasanya pelayan yang melakukan itu adalah pelayan baru. Sergei tidak mengharapkan para pelayan baru untuk beradaptasi dengan lingkungan di Haritahe secepat mungkin. Bagaimanapun juga ini adalah sarang utama dari kelompok sindikat mafia Lantsov. "Kepala keluarga, selamat datang. Tuan besar saat ini sedang memberikan makan ikan koi.""Hallo bibi," ucap Tuan Lantsov kala pelayan senior menyapa. Dia adalah pelayan yang datang ketika usianya menginjak 17 tahun, sangat setia, dan membantunya menjaga Heritage dengan baik. "Baik, terima kasih atas informasinya." Pria setengah baya itu melangkah denga
Kening tuan Lantsov mengerenyit tidak suka. "Jangan berbicara sembarangan. Sudah berapa bulan mayat kakak mu tidak ketemu, huh?" "Bukan begitu maksud ku, pa." Sebastian mengembuskan napas. Pria itu mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi di perusahaan. "Sergev mengatakan bekerjasama dengan Lexington Media untuk eksposur dan kontrol yang lebih terjaga. Aku berpikir bahwa itu adalah diri mu yang memberikan saran kepadanyaㅡ" Tuan Lantsov memotong cepat, "Saran apa? Papa baru menyelesaikan permasalahan di dock bersama anggota yang lain." "Iya, aku baru sadar papa ke pelabuhan karena ada masalah dengan barang yang baru saja diimport dari Rusia." Menarik napas, "Oleh sebab itu aku mengeluarkan pertanyaan tersebut. Apakah Theodore maish hidup?" "Sergev tidak memiliki gerakan yang mencurigakan. Namun, informasi yang dia berikan, sangat mirip dengan infromasi yang aku harapkan jika Theo mendatangi rapat." Tuan Lantsov tidak seger
Tuan Lantsov sudah tiga minggu belakangan merasa sesuatu akan terjadi. Dia sudah lama tidak muncul ke permukaan menemani putra sulung nya. Di dunia belakang butuh kepemimpinan agar tidak terjadi kekosongan untuk sementara waktu. Entah apakah cucu-cucunya yang akan menempati, atau dia harus mengatur ulang strategi bersama sang ayah. Namun, entah kenapa pria tua bangka satu itu justru jarang terlihat di Heritage.Perlu diingatkan kembali, Heritage adalah nama mansion ala Jepang milik Damon Lexington. Pria itu jarang sekali keluar rumah kecuali jika ada sesuatu yang penting.Sesuatu yang penting?Tunggu! Bukankah itu adalah kata kunci yang jelas?Benar, ayah nya tidak akan meninggalkan Heritage jika tidak ada kepentingan. Akan tetapi, apa ‘sesuatu’ ini?Pria itu duduk di kursi singgasana tempat biasa Theodore duduk. Sama sekali tidak terganggu dengan minimnya cahaya di ruangan. Pria itu justru menatap intens pada data pengiriman dan peneri
Louis Easterwood tidak pernah menyangka bahwa keluarganya akan sehancur ini. Entah kesalahan siapa, atau entah di mana letak kesalahan dari keluarga ini, karma seolah sedang mengarahkan keluarga Easterwood pada kehancuran internal.Bertubi-tubi keluarga ini mendapatkan cobaan, mulai dari masalah keturunan, ekonomi, hingga sekarang masalah yang baru saja terjadi, perceraian diantara kedua orang tua. Lebih mengejutkannya lagi, keesokan hari, Bernard, pengacara keluarga kembali datang. Kali ini dengan membawa dokumen perceraian dan juga harta gono-gini serta ahli waris.Mendegar huru-hara yang terjadi di rumah, kakek Easterwood datang berkunjung. Pria tua itu terang-terangan mengatakan bahwa putranya sangat tidak tahu berterima kasih dan juga menjunjung tinggi Sarah dengan alasan bahwa latar belakang keluarga Sarah berasal dari orang kaya.Well, Louis tentu ingat ketika dulu kecil, keluarga maternalnya memang memiliki kekayana yang lebih daripada keluarga Easterwoo
Bagi perempuan yang memang mendapatkan didikan bahwa suami di atas segalannya, dan tanpa pria dia tidak bisa melakukan apapun, Sarah jelas bukan agi ketakutan—dia menggila!Wanita itu sudah lama hidup mudah; bergelimang harta, apapun yang dia mau, selama masih menunjukkan bahwa Xender berada dalam cengkramannya, dia bisa melakukan apapun. Oleh sebab itu, sikap dan sifatnya yang cenderung tidak peduli serta ucapan bernada offensive sering kali diatasi sepenuhnya oleh sang suami.Dia mana tahu bagaimana ucapannya mampu merusak hubungan koneksi perusahaan dan interpersonal sangatlah dijunjung tinggi dalam etika dunia bisnis.“Pikirkan kembali, Xender.”Dua orang meninggalkan ruang kerja, satu melenggang pergi, sisanya mengejar dengan penuh kepanikan. “Kita sudah menikah, hampir dua dekade!” suara heels nya bergemeletuk dengan lantai, menciptakan sebuah bunyi echo dikesunyian. “Tidak bisakah kita melepaskan masa lalu dan moves on dengan yang sudah terjadi?”







