LOGINMalam semakin larut, tetapi deburan ombak menjadi iringan nada ditengah keseunyian. Lee membawa Leiara menuju sebuah batu besar yang letaknya skeitar 100-meter dari tempat pavilion di mana Nyonya Lantsov biasa minum the. Pria itu menekan sesuatu yang tidak terlihat oleh Leiara. Lalu, bebatuan di depan mereka terbuka perlahan.
Leiara merasa takjub melihat kejadian di depannya. “Maafkan atas ketidaknyamanan anda, pintu ini dibuat untuk keamanan Nyonya.”Cahaya lampu samar di malam hari akibat pergerakan mobil yang konstan, menjadikan sebuah pemandangan tersendiri. Gemelut dalam pikiran, rasanya tidak lagi terasakan ketika melihatnya. Di depan, sosok Sergev menyetir. Dia melirik melalui spion di dalam, "Apakah anda tidak ingin mengungkapkan diri di depan madam dan nyonya, tuan muda kedua?""Nah," jawab Theodore. "The situation right now is queit dengerous, don't you think so?""I think it's depend on the person." Theodore tidak lagi menjawab. Beberapa hari terakhir ini, Leiara tidak pernah ke Apartemen. Sepertinya perempuan itu terlalu takut dengan beberapa 'kejutan' yang ia berikan. Membuatnya mau tidak mau harus pulang ke mansion. "Kita pergi dulu ke toko kue."Sergev menatap melalui kaca dengan pandangan bingung, "Maaf?" "Madam mu sepertinya belakangan ini mulai jarang merasakan craving." Sergev tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu belum menikah, dan
Sudah hampir seminggu Clara berlalu lalang di daerah Connecticut dan Yale University. Kedatangannya kali ini adalah atas paksaan kakek Easterwood yang meminta nya untuk menghubungi Leiara dan meminta maaf. Bonusnya, dia bisa berbicara soal keuangan $5 juta yang sepat disinggung. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan. Masalahnya terletak pada dia sendiri tidak tahu di mana Leiara tinggal, dan jam berapa biasanya perempuan itu ke kampus. Sehingga, tidak mengherankan apabila dia seperti orang kebingungan di daerah ini. Darren Smith sesekali menemani. Sejak kejadian kebocoran produk, Clara tidak memiliki banyak waktu bersama sang kekasih. Pria itu sibuk ikut membantu perusahaan. "Bagaimana, apakah sudah bertemu dengan saudara tiri mu?" Clara menggelengkan kepala, "Tidak." Mengembuskan napas, "Aku lupa untuk menanyakan alamat dan jadwal kelas dia ke kakek." Darren tidak mengatakan apapun. Pria itu memiliki gerak gerik yang s
Ketika cahaya mentari memasuki celah-celah tirai, Leiara yang tertidur larut di malam hari, mulai terganggu. Perempuan itu menggeliatkan badan, melakukan pereganggan sejenak, sebelum kemudian duduk di atas ranjang. Dia menunduk, menatap perutnya, lalu menyentuh. “Good morning, babies. Apakah tadi malam kalian tidur dengan nyenyak.” Seolah teringat dengan sesuatu, dia mengeluas perlahan. “Oh, tadi malam … apakah kalian menendang?” Leiara tertawa kecil ketika tangannya merasakan satu pergerakan di dalam perutnya. Sepertinya tadi malam ia tidak mimpi. Merasakan tendangan aktif dari kedua anaknya, samar-samar dia bisa merasakan. Tetapi sepertinya, Leiara tidak tahu bahwa di sisi ranjang lainnya, pemilik kamar telah kembali. Hari ini dia ada deadline untuk mengumpukan tugas kuliah. Sehingga, ia akan pergi ke café untuk mengerjakan semua tugasnya. Berjalan ke kamar mandi, Leiara dengan kondisi masih setengah terpejam, menggoso
Malam semakin larut, tetapi deburan ombak menjadi iringan nada ditengah keseunyian. Lee membawa Leiara menuju sebuah batu besar yang letaknya skeitar 100-meter dari tempat pavilion di mana Nyonya Lantsov biasa minum the. Pria itu menekan sesuatu yang tidak terlihat oleh Leiara. Lalu, bebatuan di depan mereka terbuka perlahan. Leiara merasa takjub melihat kejadian di depannya. “Maafkan atas ketidaknyamanan anda, pintu ini dibuat untuk keamanan Nyonya.” “Tidak masalah,” ucapn Leiara, “Kau tidak perlu meminta maaf pada siapapun, Lee.” Lee tidak membalas, pria itu hanya tersenyum kecil. Lalu, mereka menuruni anak tangga yang tidak ada habisnya, sementara pada sisi tembok, terdapat penerangan cahaya dari lampu kuning. Sekitar 10 menit kemudian, barulah mereka sampai di ruang bawah tanah. “Kau sudah datang, Lee.” Suara yang Leiara dengar memang benar adalah suara Nyonya Lantsov. Akan tetapi, pembawaann
Suara dock di bagian belakang mansion terdengar hingga ke dalam. Leiara yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang mengusak rambut panjangnya, berjalan mendekat ke arah balkon. Dia membuka sedikit tirai kamar, lalu mengamati banyaknya orang yang berlalu lalang dilengkapi dengan persenjataan lengkap. Kening perempuan itu mengerenyit, ada apa ini? Sejak kapan bodyguard keluarga Lantsov memiliki persenjataan lengkap, oh, tidak—apakah mereka adalah para mafia yang sering disebut oleh kebanyakan orang?Jika iya, maka jujur saja, ini pertama kalinya Leiara melihat para mafia ini secara langsung. Alih-alih diisi oleh preman berwajah seram, kebanyakan dari anggota mafia di sini cukup tampan, beberapa di antara mereka memang terlihat seperti preman di luar sana, tetapi dalam jumlah yang bisa dihitung jari. Perempuan itu segera menutup tirai. Mencoba mengingat apa yang belakangan ini sedang terjadi. Namun sayang, tidak ada dari ingatan percakapannya perihal sesuatu terjadi di
"Bagaimana kuliah mu?""I think I'm doing good," jawab perempuan berambut hitam. Keduanya saat ini sedang berada di ruang keluar menikmati tayangan drama di televisi. "But recently I tend to be forgetful." Nyonya Lantsov membalas dengan tawa ringan. Wanita itu memberikan potongan buah apel yang biji bagian dalamnya sudah dibersihkan pada sosok perempuan keturunan Asia - Amerika disampingnya. "Hahaha, pregnancy brain memang seperti itu." Menyantuh perut Leiara, "Artinya anak-anak mu secara maksimal mengumpulkan nutrisi mereka. Remember, kecerdasan otak anak-anak kita menurun dari seorang Ibuㅡtidak memungkinkan juga faktor ekstenal seperti ayah, menjadi salah satu diantaranya. You don't have to be worried."Leiara bergumam mengiayakan. Dia terus mengambil buah-buahan yang dikupas oleh mertuanya. Kepalanya mendongak kala sesuatu yang ada ditangan, direnggut begitu saja oleh seseorang. "Sebastian!""What?" jawab pria yang tiba-tiba datang mengambil buah apel di tangan Leiara. "Can't I







