Compartilhar

Antarkan Bajuku

last update Data de publicação: 2026-06-10 10:42:11

“A-apa?! Yang benar saja!” seru Catherine begitu mendengar rencana gila Sean.

Sean mendengus keras. “Bukankah kau sendiri yang meminta seperti itu? Siapa yang tadi bilang kalau dirinya akan mendapatkan pekerjaan, sehingga dia tidak butuh tawaran kerja sama dariku!”

Tanpa perlu disebutkan lagi, Catherine tahu persis kalau orang yang dimaksud Sean adalah dirinya. Dia memang optimis akan menemukan pekerjaan lain. Tapi … ini sama sekali jauh dari rencananya!

“Setidaknya biarkan aku pergi sendiri!”
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kenapa Butuh Darahku?

    “Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Perlu Cap Darah?

    “Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ayamnya Terlalu Menggoda

    “Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Apakah Cantik Saat Kupakai?

    “Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nona?” tanya Ami begitu mendekat.Sebelum Sean sempat menggerakkan bibirnya, Catherine mencuri start terlebih dahulu. Dia berkata, “Apa boleh saya menanyakan tentang gaun ini?”Alih-alih menunjuk pada gaun yang tengah ditenteng Sean, tangan Catherine terarah pada sebuah gaun putih bermotif floral yang masih terpajang di display.“Oh, tentu saja Nona,” sahut Ami, lengkap dengan senyum ramahnya.Catherine pun bertanya, “Apa ada gaun yang seperti ini, tapi motif bunganya berwarna gelap. Seperti ungu atau biru?”“Ada, Nona. Tapi kain tile-nya berwarna lilac. Untuk kain yang putih, kami hanya menyediakan motif berwarna pink dan kuning. Bagaimana? Apa Anda berkenan melihatnya?” balas Ami.“Boleh,” setuju Catherine.Ami lalu mengambil dress putih floral yang ditunjuk oleh Catherine. Dia juga bertanya, “Ukurannya disamakan dengan ini, Nona?”“Iya,” angguk Catherine.Setelah mendapatkan konfirmasi itu, Ami melangkah pergi menuju gudang. Meninggalkan Sean dan Cat

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Pilih Sesukamu, Cathie

    “Ada aku di sini, tidak perlu memikirkan soal harga,” ujar Sean. Tangannya juga sengaja menepuk-nepuk kantong, memberi kode kalau dia akan mengurus semuanya.Catherine menggelengkan kepala. “Tidak boleh begitu.”Menghembuskan napas kencang, Sean lantas berujar, “Dengan gaji bulananmu yang cuma seupil itu, paling-paling kau cuma bisa beli satu atau dua potong baju saja.”“Apa?” kaget Catherine. Sepasang matanya membola tak percaya.Menggapai tangan Catherine untuk dia gandeng, Sean lantas mulai menaiknya menuju eskalator. Dalam perjalanan, dia berkata, “Anggap saja ini fasilitas yang harus aku penuhi.”“Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi,” balas Catherine.Kepalanya menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai tampil di pipi. Malu karena Sean tiba-tiba menggandeng dirinya. Membuat Catherine merasa kalau mereka adalah pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.“Baguslah kalau kau mengerti,” lega Sean di dalam hati.“Perhatikan langkahmu,” ujarnya lagi ketika mereka sudah sa

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Apa Kau Tahu Seatbelt, Cathie?

    Catherine menelan ludahnya dengan susah payah.Amarah yang tadi sempat menguasai dirinya, kini mulai goyah. Firasatnya juga buruk soal ini.“God dammit!” umpat Sean sambil memukul setir sebagai pelampiasan amarah.Dia lalu menjelaskan, “Aku begini karena kau malah terlihat kebingungan saat aku suruh memakai sabuk pengaman.”“Tunggu dulu,” henti lelaki itu seraya menoleh. Sorot matanya dipenuhi oleh keputusasaan ketika bertanya, “Jangan bilang kalau kau tidak tahu soal seatbelt, Cathie.”“Mampus!” jerit batin Catherine.Segera dia memalingkan pandangan ke arah lain. Bibirnya berucap gugup, “Sabuk … anu, aku tahu kok.”Dihadapkan pada kebohongan Catherine yang begitu jelas, Sean semakin murka. Urat di lehernya pun terlihat tegang.“Kalau begitu, coba tunjukkan padaku. Mana benda yang aku maksud,” pintanya geram.Catherine kembali menelan ludah. Tangannya gemetaran menyentuh beberapa benda secara asal. Dia sungguh tidak punya kesan sedikit pun tentang sabuk pengaman yang disebutkan oleh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status