Share

Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci
Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci
Penulis: Tia

Bab 1

Penulis: Tia
Kenzo keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.

Melihat aku memegang ponselnya, dia sempat tersenyum.

"Giana, jadi hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ketiga itu ngecek HP-ku?"

Aku memutar layar ponsel itu ke arahnya.

Notifikasi dari hotel masih menyala.

Dia hanya melirik sekilas, lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Itu rekomendasi dari algoritma."

"Lalu, paket bertema yang ada di galeri ini juga disimpan oleh algoritma buat kamu?"

Gerakan Kenzo terhenti.

Sesaat kemudian, dia menghampiriku, menahan tengkukku dengan telapak tangannya, lalu menunduk dan mencium keningku.

"Kamu mulai mikir macam-macam lagi."

"Akhir-akhir ini kamu kebanyakan waktu luang, ya? Aku sudah bilang mau nyariin asisten rumah tangga, tapi kamu nggak mau. Kamu malah bersikeras mau ngerjain semuanya sendiri sampai kelihatan kayak orang yang selalu menderita."

Suaranya lembut.

Namun, kata-katanya terasa begitu menyakitkan.

Di atas meja makan masih terhidang masakan yang kusiapkan sejak sore.

Daging asam manis, tahu saus kepiting, dan sup iga.

Di tengah meja ada sebuah kue yang bentuknya sedikit miring.

Di atasnya tertulis: [Selamat Hari Jadi ke-3.]

Kenzo bahkan tidak melirik meja itu. Dia hanya mendorong sebuah kotak perhiasan ke hadapanku.

"Hadiah."

Aku membukanya.

Seuntai kalung mutiara.

Liontinnya berbentuk kelinci abu-abu.

Di bagian belakangnya terukir dua kata: [Ganti suasana.]

Ujung jariku langsung menegang.

Kalimat itu adalah kode yang sering diucapkan Yuna.

Namun, seolah tidak melihat perubahan ekspresiku, Kenzo berkata santai, "Yuna yang bantu milihin."

"Katanya akhir-akhir ini wajahmu kelihatan pucat. Dia bilang kamu lebih cocok pakai sesuatu yang lembut kayak gini."

Aku menatapnya.

"Hadiah untuk ulang tahun pernikahanku, tapi dia yang milih?"

Kenzo mengernyit.

"Giana, sejak kapan kamu jadi ngeributin hal kayak gini?"

Ponselnya kembali berdering.

Yuna.

Kenzo melirikku, sambil tetap mengangkat teleponnya.

Dari seberang terdengar suara Yuna yang nyaris menangis.

"Kenzo, kayaknya aku alergi lagi waktu pemotretan tadi."

"Obat semprotnya ketinggalan di mobilmu." Alis Kenzo langsung berkerut.

Yuna menarik napas beberapa kali, lalu menambahkan dengan suara pelan, "Jas putih kelincinya juga sampai robek gara-gara ketarik. Hari ini aku sial banget."

Kening Kenzo makin berkerut.

"Jangan bergerak dulu."

"Aku akan antarin obat semprotnya."

Aku tertawa kecil.

"Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ketiga."

"Dia bahkan nggak bisa nunggu buat beli obat semprot baru?"

Kenzo menutup telepon. Wajahnya pun langsung mengeras.

"Dia sedang kena serangan asma, dan sekarang kamu masih permasalahin ini?"

"Aku cuma mau nganterin barang itu, lalu kembali."

Aku menatapnya.

"Jadi, aku memang pantas menunggu?"

Dia menghela napas, seolah aku sedang bersikap tidak masuk akal.

"Giana, aku sudah pulang. Sebenarnya apa lagi yang kamu mau?"

"Bukankah selama ini kamu selalu paling pengertian?"

"Jangan merusak suasana malam ini."

Setelah berkata begitu, dia berbalik untuk berganti pakaian.

Aku mengikutinya sampai ke pintu kamar.

"Kelinci itu, kamu yang kasih?"

Tangannya yang sedang mengancingkan kemeja sempat berhenti.

"Iya."

"Aku sekadar ngasih saja waktu kuliah."

"Lalu angka 0717 di telinganya juga terukir begitu saja?"

Kenzo akhirnya menoleh.

Tak ada kepanikan di matanya.

Yang ada hanya tatapan dingin.

"Kamu ngacak-acak barangnya?"

Dadaku terasa sesak seketika.

"Reaksi pertamamu justru nuduh aku ngacak-acak barangnya?"

Dia berjalan menghampiriku dan mengangkat tangan untuk mencubit pipiku.

Tidak keras.

Namun, rasanya seperti sedang mendisiplinkanku.

"Giana, jangan buat dirimu kelihatan seburuk ini."

"Kamu itu Nyonya Hendriko, bukan perempuan kasar yang sibuk nangkap suaminya berselingkuh."

Aku menatapnya.

"Terus, kamu sendiri apa?"

Wajahnya langsung jadi muram.

Ponselnya kembali bergetar.

Yuna mengirim pesan suara.

Suaranya begitu lembut dan manja.

"Dokter Kenzo, kalau kamu nggak segera datang, pasien akan merobek bajunya."

Suasana hening selama dua detik.

Kenzo mematikan layar ponselnya.

"Dia cuma bercanda."

Aku mengangguk.

"Kalian memang pandai bersenang-senang."

Kilatan kesal melintas di matanya.

"Giana!"

"Aku dan dia nggak seperti yang kamu pikirin."

"Kalau kamu benar-benar nggak nyaman, nanti setelah aku pulang akan kubuat tenang."

Sambil berkata begitu, dia mengulurkan tangan untuk menyelipkan rambut yang jatuh di dekat telingaku.

Gerakannya masih sama terampilnya seperti dulu.

"Menurutlah."

"Simpan kuenya."

"Jangan sampai kamu marah lagi sampai sakit perut."

Pintu tertutup.

Di dalam rumah, hanya tersisa sepiring makanan yang telah dingin di atas meja.

Aku mengambil kalung kelinci itu dan mengusap "Ganti suasana" dengan ujung jariku.

Menjijikkan sekali.

Mereka mengukir kode rahasia itu di kalung yang akan melingkari leherku.

Saat aku memakainya di luar, rasanya seperti membawa lelucon tentang perselingkuhan mereka ke mana-mana.

Pukul dua dini hari, Kenzo akhirnya pulang.

Ada aroma parfum yang sangat samar di tubuhnya.

Bukan parfumnya.

Dia masuk ke dapur, menghangatkan semangkuk sup, lalu meletakkannya di hadapanku.

"Minumlah sedikit."

"Jangan jadikan tubuhmu sebagai pelampiasan karena marah padaku."

Dulu, jika dia bersikap seperti ini, aku pasti akan luluh.

Namun, ponselnya kembali menyala.

Yuna mengirim sebuah foto.

Kelinci abu-abu itu mengenakan jas dokter. Kerah kecilnya terbuka, dengan stetoskop menggantung di lehernya.

Pesan yang menyertainya berbunyi, [Keahlian Dokter Kenzo memang hebat. Lain kali aku akan cari kamu lagi.]

Aku mendorong mangkuk sup itu menjauh.

"Kotor."

Raut wajah Kenzo langsung menegang.

"Giana, apa malam ini kamu harus bicara setajam itu?"

Aku menatapnya.

"Mulai sekarang, nggak akan lagi."

Dia mengira aku akhirnya mengalah. Ekspresinya pun sedikit melunak.

"Nah, ini baru kamu yang aku kenal."

Dia mengulurkan tangan, hendak mengusap kepalaku.

Aku menghindar.

Tangannya berhenti di udara.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memberinya kesempatan untuk berdamai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 9

    Setelah bercerai, aku pindah ke sebuah apartemen kecil di selatan kota.Aku membeli seprai merah, cangkir merah, dan sebuah payung merah untuk diriku sendiri.Saat pertama kali datang ke rumahku, temanku tertawa dan berkata aku seperti sedang merayakan Tahun Baru sekali lagi.Aku mengangguk. "Memang benar.""Merayakannya lagi dari awal."Gaun pengantin itu tidak kuperbaiki.Renda lama peninggalan Ibu kusimpan terpisah dan tidak pernah lagi kujahitkan ke pakaian apa pun.Aku juga tidak menjadikannya benda kenang-kenangan.Renda itu terbaring tenang di dalam sebuah kotak kayu, seperti dulu Ibu diam-diam mencintaiku.Yuna akhirnya pergi.Kudengar dia menghapus semua unggahan di media sosialnya.Ada juga yang bilang dia pernah mendatangi Kenzo, tetapi ditolak dan tidak diizinkan masuk.Aku tidak pernah memastikan kebenarannya.Bagaimanapun juga, apa pun akhir kisahnya dengan Kenzo, itu sudah tidak ada hubungannya denganku.Sedangkan Kenzo ....Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Dia ha

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 8

    Setelah mengajukan perceraian, kami sepakat untuk datang bersama mengambil akta cerai.Di depan kantor catatan sipil, dia berdiri di bawah tangga sambil membawa sebotol soda jeruk.Embun membasahi permukaan botol kaca itu.Saat aku mendekat, suaranya terdengar begitu pelan."Giana."Aku mengangguk."Masuklah."Namun, dia tetap berdiri di tempatnya."Aku sampai harus pergi ke beberapa tempat untuk dapatkan ini.""Dulu, ini minuman kesukaanmu."Aku menatap botol soda itu.Dulu, aku pasti akan menerimanya.Hanya karena dia masih mengingat sedikit kenangan dari masa lalu, aku akan memaklumi semua luka yang telah diberikannya.Namun, sekarang aku hanya berkata, "Aku sudah nggak minum yang manis."Dia tertegun.Aku tersenyum tipis."Manusia bisa berubah."Jemari yang menggenggam botol itu perlahan memutih."Kalau begitu, akan kuingat lagi.""Apa yang sekarang kamu sukai dan nggak kamu sukai, akan kupelajari lagi dari awal."Aku menatapnya."Kamu tahu apa yang paling nggak aku sukai sekarang?

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 7

    Sebelum gugatan resmi diajukan, pengacaraku menjadwalkan satu kali perundingan terakhir.Pertemuan itu berlangsung di kantor pengacara.Kali ini, Kenzo akhirnya bersedia berkompromi dan menyetujui perceraian secara baik-baik. Dia mengenakan pakaian formal, setelan hitam dengan dasi abu-abu tua.Dasi itu dulu kubelikan untuknya.Waktu itu, aku pernah berkata bahwa warna abu-abu membuatnya terlihat lebih berwibawa.Baru belakangan aku tahu, ternyata bukan aku yang menyukai warna abu-abu.Yuna-lah yang menyukainya.Di ruang rapat, pengacara mendorong rancangan pembagian harta ke hadapanku."Pak Kenzo bersedia melepaskan rumah yang diperoleh selama pernikahan beserta seluruh tabungannya."Aku menjawab, "Bagi saja sesuai ketentuan hukum."Kenzo langsung mengangkat kepala."Giana, aku mau kasih semuanya padamu."Aku menatapnya."Berikan saja pada Yuna.""Dia suka barang-barangmu.""Aku sudah nggak suka."Wajahnya seketika pucat."Aku dan dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.""Itu urusa

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 6

    Yuna segera mengunggah sesuatu di akun media sosialnya.Sembilan foto sekaligus dalam satu unggahan.Setiap pakaian milik kelinci abu-abu itu ditata di bagian tengah, seolah sengaja dipamerkan.Ada setelan kerja, gaun ala putri kerajaan, jas dokter, hingga gaun pengantin mini.Keterangannya berbunyi, [Ada kebersamaan yang seharusnya tidak disalahpahami.]Unggahan itu sengaja disembunyikannya dariku.Namun, dia lupa bahwa kami memiliki terlalu banyak teman yang sama.Tak lama kemudian, tangkapan layar unggahan itu sudah dikirim ke ponselku.Seorang teman bahkan meneleponku dengan marah."Giana, dia sudah gila, ya?""Mau aku suruh orang memakinya?"Aku menjawab tenang, "Nggak perlu.""Biarkan saja dia mengunggahnya."Dua jam kemudian, unggahan itu tersebar di internet.Awalnya, orang-orang hanya menganggapnya sebagai tontonan untuk hiburan.Sampai seseorang mulai menguliknya dan menemukan bahwa setiap pakaian boneka yang dipamerkan Yuna ternyata persis sama dengan paket bertema yang pern

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 5

    Pada hari ketiga setelah meninggalkan rumah, aku pergi ke tempat perawatan gaun pengantin.Pegawai toko membentangkan gaun pengantinku di atas kain lembut.Satu sudut tudung pengantinnya hilang, menyisakan tepian yang kasar dan berjumbai.Dia mengenakan sarung tangan putih, lalu memeriksanya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng."Renda lama ini nggak mungkin dikembaliin sepenuhnya seperti semula.""Kalau hanya renda biasa, masih bisa diganti.""Tapi Anda bilang ini peninggalan keluarga. Jadi, kami nggak menyarankan Anda perbaiki sembarangan."Aku menatap bagian yang hilang itu sejenak, lalu mengangguk."Tolong buatin surat keterangan kerusakannya."Pegawai itu tampak tertegun."Anda mau ngajuin ganti rugi?""Bukan."Aku menutup kotak gaun pengantin itu."Aku cuma mau nyimpan buktinya."Baru saja aku selesai bicara, lonceng angin di pintu berbunyi.Kenzo berdiri di luar.Kelihatannya dia tidak tidur semalaman. Kemejanya kusut, sementara bayangan jambang mulai terlihat di dagunya.Di t

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 4

    Pada hari aku pindah, Kenzo tidak pulang.Dia hanya mengirim satu pesan.[Yuna sedang nggak sehat. Aku akan pulang nanti. Tenangkan dirimu. Jangan lagi bahas perceraian hanya karena sedang emosi.]Aku menatap pesan itu lama, lalu tersenyum.Sampai sekarang, dia masih mengira aku hanya sedang menunggunya pulang agar dia bisa membujukku.Ketika perusahaan jasa pindahan membunyikan bel, aku baru saja menutup kardus terakhir.Aku tidak menghancurkan barang-barang atau menggunting foto-foto kami.Aku hanya memasukkan salinan surat nikah, dokumen properti, riwayat transaksi rekening, dan kotak gaun pengantin ke dalam sebuah map, satu per satu.Sementara itu, semua pemberian Kenzo kutinggalkan di atas lemari dekat pintu masuk.Kalung, parfum, tas, jam tangan.Di bawah masing-masing barang, kuselipkan secarik catatan.[Yuna yang bantu memilih.][Yuna juga punya yang sama.][Yuna suka aroma ini.][Yuna bilang warna abu-abu cocok untukku.]Catatan terakhir kutaruh di bawah kalung kelinci itu.[G

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status