Se connecterHailey mendongak pelan, mati-matian mengerahkan seluruh sisa kewarasannya untuk mengontrol raut wajah, sorot mata, dan getaran di bibirnya. Ia harus terlihat natural, menepis segala kepanikan akibat percakapan rahasia yang tak sengaja ia dengar pagi ini. “I-iya ... Selamat pagi,” sapanya tipis, suaranya terdengar agak serak, tertahan oleh bongkahan rasa cemas yang mendadak menyumbat tenggorokannya.Mathias memicingkan mata biru lautnya sedikit. Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, meneliti paras Hailey yang tampak sepucat kertas dengan intensitas tajam yang begitu intimidatif—sebuah tatapan yang selalu mampu menelanjangi kebohongan Hailey tanpa perlu kata-kata.“Kau tidur nyenyak?” tanyanya dengan nada datar seraya menarik kursi di kepala meja dan meraih iPad miliknya, menyembunyikan sebagian ekspresinya di balik layar kaca.Hailey menggigit bagian dalam pipinya begitu keras hingga ia bisa merasakan getirnya darah. Jemarinya meremas kain taplak meja porselen di bawah lipatannya ku
“Bagaimana dengan ayahnya?” tanya Mathias dari dalam ruangan, nadanya santai seolah sedang mendengarkan laporan perkiraan cuaca harian.“Itu poin utamanya, Tuan. Carlos Ruiz yang berada di Madrid sudah menerima kabar ini sejak dini hari tadi,” bisik Nash pelan tapi terdengar jelas di telinga Hailey yang bergemetar di luar pintu. “Pria tua itu sangat murka mengetahui putra tunggalnya dihajar hingga kritis di Meksiko. Dia tidak terima. Selama ini tidak ada satu pun yang berani menyentuh keluarganya tanpa konsekuensi fatal.”“Lalu?” kekeh Mathias—sebuah terkekeh sinis yang amat dingin dan meremehkan.“Carlos Ruiz membatalkan seluruh agenda bisnisnya di Spanyol dan langsung terbang menggunakan jet pribadi menuju Los Cabos pagi ini,” terang Nash terdengar serius “Dia telah mengontak beberapa koneksi pejabat lokal serta otoritas keamanan di Meksiko. Dia menuntut pertemuan mendadak dengan Anda siang ini pukul dua di sebuah klub eksklusif di area marina untuk meminta pertanggungjawaban atau d
Aroma parfum maskulin dan whisky pahit itu seolah masih menyangkut di pangkal tenggorokan Hailey, mengikis habis kesadarannya bahkan sebelum kedua mata wanita itu benar-benar terbuka. Sentuhan yang bagaikan sengatan listrik membekas, seolah menenggalamnya makin dalam di sebuah mimpi yang tak bisa dikatakan indah, tapi tak juga dikatakan buruk.Hailey pagi itu tidak terbangun oleh deru ombak di luar jendela atau sinar matahari di Los Cabos yang menerobos celah gorden, melainkan oleh sensasi terbakar yang begitu membekas. Sentuhan kasar jemari Mathias di rahangnya, desakan napas beraroma dominasi murni yang mengurungnya di antara rak buku, hingga kehangatan intens saat bibir pria itu melahap puting payudaranya dan setiap detail dari detik-detik terlarang di ruang kerja semalam menghantam kepalanya tanpa ampun.Hailey terengah kecil, terduduk kaku di atas kasur king-size. Refleks, jemarinya meraba leher dan tulang selangkanya sendiri. Kulitnya masih terasa hangat dan sensitif, seolah men
Hailey terkesiap dalam remasan ciuman itu, rasa terkejut sempat membuatnya hendak menahan dada Mathias. Namun, kehangatan bibir Mathias yang beraroma whisky pahit bercampur dominasi murni perlahan melahap habis seluruh pertahanan dirinya. Ketakutan, kecemasan, dan sisa-sisa trauma mimpi buruknya meleleh tak berbekas, digantikan oleh gelombang gairah sengit yang membakar dadanya.Desahan halus lolos dari celah bibir Hailey ketika ciuman Mathias berubah makin intens, menuntut balasan. Jemari Hailey yang gemetar perlahan merambat naik, meremas kain kemeja putih di bahu kokoh Mathias, menarik pria itu lebih dekat seolah mencari perlindungan di balik sosok dominan yang bersedia menghancurkan apa saja demi dirinya.Ciuman yang semula berupa tuntutan penuh dominasi kini berubah menjadi gairah yang membakar seluruh ruang kerja sunyi itu. Gelombang panas merayap cepat dari dasar perut Hailey, mengikis habis sisa-sisa kewarasannya. Punggung Hailey kini sepenuhnya menemp
Hailey melangkah masuk, menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi getaran kecil di tubuhnya. “Aku … aku terbangun.”Mathias meletakkan gelas kristalnya kembali ke meja. Dentingan kaca beradu dengan meja terdengar nyaring di tengah ruangan sunyi. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi eksekutif, menatap Hailey dari atas sampai bawah dengan selapis intimidasi yang tak pernah pudar.“Lalu? Kenapa malah berjalan ke mari?” tanya Mathias dingin.Hailey menggigit bibir bawahnya, memajukan langkah hingga kini berjarak hanya beberapa meter di depan meja kerja Mathias. “Aku mimpi buruk. Mimpi tentang kejadian di restoran tadi.”Seringai tipis yang dingin dan sarat sindiran terukir di sudut bibir Mathias. Pria itu mendengkus pelan. “Mimpi buruk? Pria brengsek itu sudah dipastikan tidak akan bisa berdiri tegak selama beberapa minggu ke depan, Hailey. Apa lagi yang kau takuti dari cecunguk seperti it
Keheningan kembali membentang di dalam mobil mewah itu. Tak lama kemudian, mobil mulai mamasuki gerbang tinggi dan kokoh vila yang ditempati Hailey dan Mathias selama ada di Meksiko. Tampak di sana deretan para penjaga sudah menunduk hormat di kala mobil masuk ke dalam vila.Sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu untuk Mathias di sisi kanan, sementara pengawal lain membukakan pintu untuk Hailey di sisi kiri. Tampak Mathias turun tanpa sepatah kata. Jas abu-abunya yang sempat sedikit kusut kini disampirkan begitu saja di salah satu lengannya, memperlihatkan kemeja putih yang lengannya sudah dilipat hingga bawah siku.Pria itu masuk lebih dulu. Langkah kakinya lebar dan penuh penekanan saat melintasi foyer luas berlantai marmer krem. Hailey menyusul melangkah masuk, jemarinya meremas pelan tas genggam kecil yang dibawanya. Rasa bersalah, bingung, dan cemas beradu rumit di dadanya. Wanita itu memandangi punggung tegap Mathias yang berjalan tanpa menoleh se
Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b
Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka







