Share

Bab 5

Author: Lukman
Tak lama kemudian, dokter datang melakukan pemeriksaan. Setelah memeriksa kondisi lukanya, keningnya langsung berkerut dalam.

"Bu Sheila, luka bakar Anda seharusnya nggak akan jadi masalah besar selama perbannya rutin diganti dan mencegah infeksi sampai sembuh. Yang lebih merepotkan itu cedera di lengan Anda. Karena benturan dan penanganan yang terlambat, ligamen serta sarafnya mengalami kerusakan. Ke depannya ... saya khawatir Anda nggak akan bisa mengangkat barang-barang berat lagi."

Hati Sheila langsung terpukul. "Nggak bisa ngangkat barang berat? Kalau gitu ... bagaimana dengan pekerjaan eksperimen yang butuh ketelitian? Misalnya mengoperasikan alat atau mencatat data?"

Dokter menggelengkan kepala dengan raut penuh penyesalan. "Sangat sulit. Kerusakan saraf seperti ini akan memengaruhi kepekaan dan kestabilan jari-jari. Kecuali …. "

"Kecuali apa?" Sheila langsung bertanya.

"Kecuali kalau Anda menjalani operasi perbaikan saraf jenis baru. Namun, demi memastikan hasil pemulihan semaksimal mungkin dan menghindari gangguan obat bius terhadap saraf, operasi ini nggak bisa menggunakan anestesi total maupun lokal." Dokter menatapnya dengan nada berat. "Proses operasinya sangat menyakitkan. Selain itu, tingkat keberhasilannya juga nggak seratus persen. Bu Sheila, Anda hanya nggak bisa ngangkat barang berat nanti. Kehidupan sehari-hari Anda nggak akan terlalu terdampak. Sebenarnya nggak perlu sampai nanggung penderitaan seperti ini."

Hampir tanpa keraguan sedikit pun, Sheila berkata, "Dokter, saya akan jalani operasi."

"Anda .... "

"Saya harus dioperasi." Tatapan Sheila begitu tegas.

Tangannya harus tetap bisa digunakan untuk melakukan penelitian!

Dokter berusaha membujuknya cukup lama. Namun melihat sikapnya yang tidak tergoyahkan, akhirnya dia hanya bisa menghela napas dan menyetujui operasi tersebut.

Beberapa jam di ruang operasi menjadi siksaan paling panjang dan paling menyakitkan yang pernah dialami Sheila sepanjang hidupnya.

Pisau tajam membelah daging, menyentuh tulang, mengikis saraf ... setiap menit, setiap detik, disertai rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang dan hampir membuatnya pingsan.

Keringat dingin membasahi pakaian operasinya. Bibirnya tergigit hingga berdarah, sementara aroma darah memenuhi mulutnya.

Dia menatap lampu operasi yang menyilaukan di atas kepalanya. Di hadapan matanya terlintas adegan Susan menerima penghargaan dengan gemilang dalam kehidupan sebelumnya, wajah samping Jevan yang dingin, tatapan meremehkan putranya Jodi, dan juga ... dokumen-dokumen penelitian yang terbakar di dalam tungku batu bara.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, operasi itu akhirnya selesai.

Saat Sheila didorong kembali ke ruang rawat, tubuhnya sudah begitu lemas hingga tak punya tenaga untuk mengangkat satu jari pun. Namun jauh di dalam matanya masih menyala secercah api kecil yang enggan padam.

Hari-hari berikutnya, Sheila menjalani masa pemulihan seorang diri di rumah sakit.

Jevan menyewa perawat terbaik untuknya. Sesekali dia juga datang bersama Jodi membawa makanan bergizi, tetapi ayah dan anak itu tak pernah bertahan lebih dari beberapa menit sebelum dipanggil pergi oleh Susan dengan berbagai alasan.

Sheila tidak pernah menahan mereka, juga tidak pernah bertanya apa pun.

Hingga pada hari dia keluar dari rumah sakit.

Sheila mengurus sendiri seluruh prosedur kepulangan, membereskan barang-barangnya yang sederhana, lalu berjalan menuju pintu rumah sakit. Di sana dia melihat jip militer Jevan terparkir di tepi jalan.

Jevan dan Jodi turun dari mobil.

Jevan segera menghampirinya dan hendak mengambil barang bawaannya. "Semua urusannya sudah selesai? Kenapa nggak manggil aku? Ayo pulang."

Sheila menghindari uluran tangannya.

Gerakan Jevan langsung terhenti dan keningnya berkerut.

Jodi juga berlari menghampiri dan mendongak ke arahnya. "Ma, biar aku bantu menopang Mama!"

Pandangan Sheila melewati mereka dan mengarah ke dalam mobil ….

Di kursi belakang masih ada seseorang, yaitu Susan yang mengenakan mantel militer tebal.

Mengikuti arah tatapannya, raut wajah Jevan seketika berubah canggung. Dia mencoba meluruskan, "Susan juga keluar dari rumah sakit hari ini. Karena searah, kupikir nggak ada salahnya pergi makan bersama. Anggap saja ... jadi perayaan untuk menyambutmu pulang, juga untuk kesembuhan Susan."

Tanpa mengatakan apa-apa, Sheila masuk ke mobil dalam diam.

Mobil itu berhenti di depan sebuah restoran.

Setelah masuk, Jevan dan Jodi dengan sangat terbiasa memesan makanan. Semua yang mereka pesan adalah makanan kesukaan Susan, iga asam manis, ikan kukus, tumis sayuran tanpa bawang putih ....

Sheila duduk diam di samping dan tidak merasakan gejolak apa pun di hatinya.

Setelah semua hidangan tersaji, seorang pelayan datang sambil tersenyum. "Maaf semuanya. Restoran kami baru saja dibuka dan sedang mengadakan acara keluarga bahagia. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak bisa mengikuti kuis kekompakan. Kalau semua jawaban benar, akan ada hadiah! Saya lihat keluarga Anda sangat menarik dan anaknya juga lucu. Mau ikut mencoba? Hadiahnya model pesawat yang cukup bagus."

Mendengar ada model pesawat, mata Jodi langsung berbinar. Dia menarik tangan Jevan. "Papa! Aku mau ikut! Aku mau pesawat itu!"

Lalu dia menarik Sheila. "Ma, kita ikut bareng-bareng!"

Namun Sheila dengan tegas menepis tangannya.

"Aku nggak enak badan." Suaranya datar. "Kalian bertiga saja yang ikut. Kalian lebih terlihat seperti keluarga bahagia."

Kalimat itu membuat Jevan dan Jodi sama-sama tertegun.

Wajah Jevan langsung berubah keruh. "Sheila, apa kamu tahu apa yang barusan kamu bilang?"

"Tau." Sheila mengangkat cangkir teh dan menyesapnya. "Aku bilang, biar Susan yang gantiin aku!"

Melihat situasinya, Susan segera mencoba mencairkan suasana. Dengan nada lembut dan sedikit hati-hati, dia berkata, "Jevan, Jodi pengin banget, sementara Sheila sedang nggak enak badan ... gimana kalau untuk sementara aku pura-pura jadi mamanya Jodi dan menemani kalian ikut bermain? Lagi pula ... aku juga selalu menganggap Jodi kayak anakku sendiri. Nggak masalah."

Jevan memandang mata putranya yang penuh harap, lalu melirik wajah Sheila yang dingin dan acuh. Entah mengapa, amarah tanpa alasan muncul di hatinya, bercampur dengan rasa kesal yang tak bisa dia jelaskan.

Akhirnya, dia berkata dengan suara berat, "Ayo."

Di atas panggung ada beberapa keluarga yang ikut berpartisipasi. Pertanyaan yang diajukan pembawa acara semuanya berkaitan dengan ibu. Apa buah kesukaan ibu? Warna apa yang paling dibenci ibu? Kapan tanggal ulang tahun ibu? Apa masakan andalan ibu?

"Buah kesukaan Mama itu leci!"

"Warna yang paling dibenci Mama, warna kuning!"

"Ulang tahun Mama tanggal lima belas Agustus!"

"Masakan andalan Mama ... daging semur kecap!"

Sudah bisa ditebak, jawaban yang ditulis Jevan dan Jodi hampir sepenuhnya sesuai dengan kesukaan Susan.

Tepuk tangan langsung bergemuruh dari bawah panggung.

Pembawa acara tersenyum dan berkata, "Kelihatannya ayah dan anak ini benar-benar sangat sayang sama Ibu ya. Mereka ingat semuanya dengan begitu jelas! Selamat, kalian berhasil menjawab semua pertanyaan dengan benar!"

Jodi melompat kegirangan.

Pembawa acara melanjutkan, "Tapi, untuk mendapatkan hadiah utama, masih ada satu tahap terakhir, yaitu ritual cinta keluarga. Silakan Ayah mencium pipi Ibu, atau Ibu mencium pipi Ayah, sebagai ungkapan kehangatan dan kasih sayang keluarga! Mari kita beri mereka tepuk tangan penyemangat!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 15

    Tiga bulan setelah Sheila pergi, keluarga itu benar-benar runtuh.Kepribadian Jodi berubah drastis.Di taman kanak-kanak, dia memukul seorang teman hingga terluka hanya karena anak itu berkata, "Mamamu kabur dengan pria lain."Guru memanggil orang tua murid.Jevan datang dengan tergesa-gesa dan mend

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 14

    Sebulan setelah Sheila pergi, Jevan akhirnya berhasil melacak perkiraan lokasi pangkalan lembaga penelitian itu.Letaknya jauh di dalam gurun wilayah barat laut.Dia mengambil cuti tiga hari, menempuh perjalanan semalam dengan kereta, berganti beberapa kendaraan, lalu berjalan kaki sejauh hampir sep

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 13

    Dulu, saat Sheila masih ada, rumah mereka selalu bersih dan terang.Di meja makan selalu tersedia makanan hangat.Seragam militernya selalu tersetrika rapi.Putra mereka pun selalu tampak bersih dan terurus.Selama ini, Jevan mengira semua itu memang seharusnya begitu.Baru sekarang dia menyadari ba

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 12

    Malam itu, saat pulang ke rumah, Jevan mendapati bak cuci di dapur penuh dengan piring dan mangkuk kotor. Di lantai juga masih ada bekas susu yang tumpah.Siang tadi dia sempat mencoba membuatkan minuman untuk putranya. Namun karena tidak terbiasa, susu itu malah tumpah ke mana-mana.Dia membungkuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status