로그인Di saat majikannya sedang larut dalam gairah yang hebat, Victoria justru sedang duduk terpaku sambil menempelkan ponsel di telinganya. Ia sedang berbicara dengan Paula, sosok yang memberinya upah jauh lebih besar dibandingkan gaji yang ia terima dari William setiap bulannya."Jadi awalnya dia memang tidur di kamar tamu?" tanya Paula setelah mendengar laporan bahwa pasangan itu sempat tidak tidur seranjang. Entah kenapa setelah mendengar William tidur seranjang dengan Laura membuat hati Paula menjadi sangat panas. Rasanya ia ingin datang ke rumah itu dan melabrak Laura agar tidak tidur satu ranjang dengan William. William hanya miliknya."Iya, Bu. Awalnya memang pisah kamar karena Bu Laura bilang dia merasa jijik kalau harus tidur dengan Pak William. Tapi saat Bu Laura sudah terlelap, Pak William menggendongnya dan membawanya kembali ke kamar utama," sahut Victoria sambil mengecilkan suaranya agar tidak terdengar sampai keluar kamar."Sial! Apa-apaan itu? Seolah tidak ada wanita lain
“Setidaknya kamu harus bisa berterima kasih karena biaya operasi pertama anakmu sudah kubayar dengan jumlah yang tak sedikit. Kau harus menikmati permainan ini, melayaniku sepenuh hati agar tidak terus-terusan merasa kau seperti sedang diperkosa oleh suamimu sendiri. Aku tidak akan menyakitimu kalau kau mau dengan tulus melayaniku, melayani donatur utama atas biaya rumah sakit putrimu.”Suara William terdengar sangat lembut tapi juga begitu menyakitkan di telinga Laura. Mungkin ini salah satu pengorbanan yang harus ia lakukan demi putrinya. Laura harus melayani sang suami meskipun dia jijik membayangkan suaminya menyentuh perempuan lain selama 10 hari ke belakang. Tubuh mereka sudah dalam keadaan polos. William sudah berada di samping Laura namun tangannya menggerayangi tubuh istrinya. Lama sekali rasanya menunggu Laura sampai benar-benar tidak mengeluarkan darah lagi di bagian intimnya. Dan kini, William tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, senjatanya hampir karatan karena tida
"Apa-apaan kamu ini, William? Kita datang ke sini untuk menghadiri undangan teman baik Mama dan Papa, tapi kamu malah mengajakku masuk ke kamar hotel. Apa belum cukup puas pelayanan wanita penghibur yang selama sepuluh hari ini menemanimu sampai kamu lupa jalan pulang?" cibir Laura dengan suara tertahan.Untungnya mereka sedang berada di meja sudut yang agak jauh dari kerumunan, sehingga cecaran Laura tidak sampai tertangkap oleh telinga tamu undangan lainnya."Pelankan suaramu, Laura!" bentak William dengan rahang mengeras.Hasrat yang tadinya sempat berkobar di dalam dada pria itu mendadak surut, berganti dengan rasa kesal yang meluap setelah mendengar tuduhan istrinya. Namun, William tetap memilih bungkam. Dia sama sekali tidak berniat menjelaskan ke mana sebenarnya dia pergi atau apa yang dia lakukan selama sepuluh hari menghilang. Dibiarkannya Laura tenggelam dalam pikirannya sendiri, meyakini bahwa suaminya memang sedang asyik memadu kasih dengan wanita lain di tempat lain.Kedu
“Suster, saya titip Aurora, ya. Nanti jam tujuh malam suster Jessica yang akan menjaganya. Terima kasih sebelumnya. Saya sudah menghubungi suster Jessica dan bilang saya ada urusan penting,” ucap Laura di depan ruangan suster.“Baik, Bu. Tenang saja, saya akan menjaga Aurora dengan baik sampai suster jaga datang,” jawab suster itu.Setelah mengucapkan terima kasih, Laura pun segera pergi dari rumah sakit. Sesuai dengan perintah William, dia benar-benar menunggu di lobby sampai akhirnya salah satu mobil mewah William berhenti di depan lobby rumah sakit. Seorang wanita yang usianya tak beda jauh dari Laura turun dan menghampiri Laura. “Selamat sore, Bu Laura. Saya mendapatkan perintah dari Pak William untuk menjadi sopir pribadi Ibu mulai detik ini. Perkenalkan nama saya Victoria, yang akan bekerja untuk Anda dan Pak William. Saya dibayar untuk menjadi pelayan di rumah anda serta sopir pribadi anda. Saya siap mengantarkan kemanapun Ibu mau pergi,” ucapnya ramah sambil sedikit membungku
Paula memukul setir mobilnya berulang kali setelah mendapat telepon dari William dan diputus secara sepihak. Padahal dirinya sudah jalan menuju ke rumah sakit untuk membatalkan biaya yang dibebankan ke rekening pribadi bosnya. Tapi tiba-tiba saja semuanya dibatalkan. Ada apa ini?“Brengsek! Apa-apaan ini? Plin-plan banget jadi laki-laki, pantas mudah disetir istrinya. Sialan!” umpat Paula. Darahnya mendidih seketika mendengar perintah William yang memintanya untuk membelikan Laura ponsel lengkap dengan nomornya. “Memangnya aku babunya wanita itu? Aku ini sekretaris ternama? Memangnya gak ada butuh lain yang dia suruh? Menjijikkan sekali!” Serunya lagi. Dia bahkan menepikan motornya di pinggir jalan hanya karena menerima telepon dari bosnya. Benar-benar begitu cepatnya berubah perintah William. “Apa bagusnya sih wanita itu sampai bikin Pak William kayak gak bisa pisah! Aku harus segera melakukan sesuatu, aku gak bisa diam begitu saja. Jangan sampai Pak William menerima anak itu dan b
"Waktu itu, setelah mengantarkan Bapak ke bandara, saya langsung menuju kelab malam karena teman saya merayakan ulang tahun di sana. Karena saya membawa mobil Bapak dan saya takut meninggalkan ponsel Bapak di dalam mobil, akhirnya saya bawa masuk. Saat itulah Laura menelepon, awalnya saya tidak lihat kalau nomor itu berasal dari rumah Bapak. Setelah saya lihat ulang ternyata memang nomor rumah, anda, langsung saya matikan. Berulang kali dia menelepon lagi tapi tidak saya angkat sampai akhirnya ponsel Bapak benar-benar saya nonaktifkan," ucap Paula dengan wajah yang dibuat sendu agar William menganggapnya jujur dan takut kena marah. Esoknya, setelah pertemuannya dengan Brian, William masuk kantor seperti biasa. Hal pertama yang ia lakukan adalah menginterogasi Paula karena wanita itulah yang memegang ponsel serta membawa mobilnya di saat ia sedang kalap waktu itu."Mengenai Laura yang datang ke sini, saya hanya menjalankan tugas dari Bapak. Kan Bapak sendiri yang bilang kalau Laura t







