Share

BAB 20.

Penulis: brownies coklat
last update Tanggal publikasi: 2026-06-20 12:36:48

Suasana laboratorium Biologi siang ini terasa gerah dan padat karena dua kelas digabungkan untuk sesi praktikum Biologi tentang pengamatan jaringan tumbuhan.

Olivia yang menggunakan jas lab berwarna putih, berusaha menjaga agar jas itu tidak terkena kotoran sedikitpun, kalau sampai kotor sudah pasti Mama mengomel seharian penuh.

Pembagian kelompok kali ini ia mendapatkan satu teman bersama dari kelasnya, dan juga ia harus berbagi meja dengan murid dari kelas sebelah, yang sialnya adalah Kafka d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 194.

    Hembusan angin kencang menerpa wajah Kafka, membuat rambutnya yang berantakan jadi semakin tidak beraturan. Matahari sudah mulai turun, menyisakan langit yang sudah menggelap.Karina duduk di samping Kafka, di kursi yang sudah rusak sisinya. Ditopang oleh kaki masing-masing agar tidak ambruk."Lo kenapa nyamperin gue? Mau marahin gue kayak Panji?" suara Karina ketus. Tidak menoleh ke samping.Kafka menarik napas.Berat sekali."Nggak. Gue cuma mau minta maaf sama lo kalau selama ini sikap gue ke lo kurang baik sebagai kakak," jelas Kafka.Tentu saja hal itu membuat Karina menoleh, dia sudah menahan tubuhnya agar tidak memutar menghadap Kafka. Takut kursi yang mereka duduki bergoyang."Tiba-tiba banget?"Kafka mengangguk. "Gue belum sempat jelasin ke lo soal Olivia sejak awal gue pacaran sama dia. Bukannya gue nggak mau ngobrol sama lo, tapi … rasa benci gue tiap lihat muka lo terlalu besar. Gue berusaha jauhin lo … karena tiap lihat kebersamaan kalian di rumah Papa, bikin gue merasa k

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 193.

    Sore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 192.

    Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 191.

    Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 190.

    Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 189.

    "Kenapa menghindar dari gue?"Olivia menoleh cepat pada laki-laki yang sedang menyesap kopinya di ruang tamu. Tatapannya sinis sekali, rasa malunya belum juga hilang setelah ketahuan bahwa dia dan Oliver bersembunyi di bawah meja demi menghindari Kafka."Nggak apa-apa."Kafka tersenyum tipis. "Kata Mbok, kalau lo ketemu gue seharusnya senang, ya? Kenapa ini malah jutek banget?" Olivia memutar bola matanya malas, kedua tangannya dilipat di dada. "Nggak, gue nggak jutek. Cuma lagi capek aja, udah malam." Duduk bersebelahan dengan Kafka di rumahnya bukan hal biasa yang mereka lakukan lagi setelah hubungannya kandas, rasanya ini seperti berbicara dengan orang asing.Ya, orang asing yang diam-diam saling suka?"Jujur aja sama gue kalau misalnya lo kangen, gue juga ke sini karena kangen sama lo." Jujur sekali?Olivia justru membuang muka, engga menatap Kafka yang sedang menatapnya intens. Laki-laki itu bahkan sudah memutar duduknya agar bisa menatap Olivia penuh."Liv," panggil Kafka. "G

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status