LOGINSore perlahan turun, menyisakan berkas cahaya keemasan yang memantul di lapangan yang masih basah karena gerimis siang tadi.Olivia dan Sarah duduk menghadap lapangan basket, tempat Kafka, Rio, Haykal dan Hendra bermain basket. Mereka saling lempar, dorong dan setelahnya bertengkar kecil yang dipisahkan oleh wasit dadakan, anak kelas 12.Di kanan kiri Olivia dan Sarah bertumpuk seragam putih milik para laki-laki yang sedang melakukan oper bola itu, beberapa menit lalu sejak bel pulang sekolah. Tiba-tiba ide bermain basket ini menjadi satu-satunya alasan Olivia dan Sarah masih duduk di tribun kecil.Menunggu pasangan masing-masing."Gue nggak nyangka akhirnya kita akan ada di momen kayak gini, ngeliat pasangan masing-masing main bareng. Kita duduk bareng buat menyemangati mereka." Olivia bersuara, membuat Sarah mengalihkan tatap.Senyum tipis terbit di wajah Sarah. Setelah seharian mereka melakukan tes pemilihan minat dan bakat untuk kelas 12, momen ini setidaknya sudah menjadi penyega
Siang ini keadaan kantin sekolah begitu penuh, bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Di beberapa stand makanan pun sudah mengantri, antriannya mengular hingga ke pintu masuk kantin. Membuat Olivia, Kafka dan juga Sarah mendelik tatkala melihat semua isi meja penuh.Hanya beberapa meja yang berisi dua orang, Rio sudah Kafka tugaskan untuk mencari tempat selain di kantin. Jika menunggu setengah isi kantin kosong, maka mereka akan kehabisan waktu istirahat. Alhasil mereka menempati taman samping sekolah.Sarah membagi setengah es jeruknya pada Haykal, laki-laki itu menyusul setelah tidak mendapatkan tempat di kantin. Sesuai arahan Kafka, semua teman-temannya berkumpul di taman samping. Membuat dua lingkaran.Lingkaran pertama berisi Kafka, Olivia, Sarah dan Haykal. Sedangkan di lingkaran kedua berisi Rio, Hendra dan teman-temannya yang lain. Makanan hasil traktiran dari Kafka ini membuat suara semakin riuh, saling berebut dan saling balas canda tawa.Olivia mengedarkan tata
Kafka berdiri di depan mobilnya, kedua tangannya bersedekap di dada. Netranya menatap erat pintu kediaman Kusuma yang masih belum terbuka, Olivia masih di dalam sana. Berbicara dengan ayahnya, entah membicarakan apa.Hardi meminta Kafka untuk menunggu Olivia di luar. Pria tua itu—entah firasat Kafka tidak enak— sejak mengajak Olivia mengunjungi tempat ini.Masih terjebak di dalam pusara rasa penasarannya, suara hentakan kaki yang mendekati Kafka, membuat Kafka menarik kembali dirinya. Memusatkan perhatian penuh pada gadis yang sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dari dalam rumahnya.Langkahnya yang pelan tapi dihentak itu membuat Kafka mengerutkan kening, gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya."Lo nggak diapa-apain sama bokap gue, kan?"Olivia melangkah mendekat, mengangsurkan sekantong plastik besar itu kepada Kafka. "Nggak, ini buat lo. Stok makanan seminggu."Tatapan Kafka turun, menatap heran pada tubuh gelisah Olivia. "Kok buat gue? Nggak mungkin banget bokap
Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg
"Kenapa menghindar dari gue?"Olivia menoleh cepat pada laki-laki yang sedang menyesap kopinya di ruang tamu. Tatapannya sinis sekali, rasa malunya belum juga hilang setelah ketahuan bahwa dia dan Oliver bersembunyi di bawah meja demi menghindari Kafka."Nggak apa-apa."Kafka tersenyum tipis. "Kata Mbok, kalau lo ketemu gue seharusnya senang, ya? Kenapa ini malah jutek banget?" Olivia memutar bola matanya malas, kedua tangannya dilipat di dada. "Nggak, gue nggak jutek. Cuma lagi capek aja, udah malam." Duduk bersebelahan dengan Kafka di rumahnya bukan hal biasa yang mereka lakukan lagi setelah hubungannya kandas, rasanya ini seperti berbicara dengan orang asing.Ya, orang asing yang diam-diam saling suka?"Jujur aja sama gue kalau misalnya lo kangen, gue juga ke sini karena kangen sama lo." Jujur sekali?Olivia justru membuang muka, engga menatap Kafka yang sedang menatapnya intens. Laki-laki itu bahkan sudah memutar duduknya agar bisa menatap Olivia penuh."Liv," panggil Kafka. "G
Langit malam menyapa saat Olivia baru saja tiba di rumahnya, setelah pulang sekolah dia memilih mengelilingi mall bersama Sarah. Niatnya hanya menghilangkan pikiran tentang Kafka yang seharian memenuhi isi kepalanya.Belum langkahnya memasuki pintu pagar, kini dia dihadapkan pada siluet mobil yang sangat dia kenali mendekat ke arah rumahnya.Dengan gerakan super cepat, Olivia langsung melesat masuk ke dalam rumah. Gerakannya yang terburu, menimbulkan suara berisik yang membuat seisi rumah ikut keluar.Oliver memicing saat melihat adiknya berlari menaiki lantai dua dengan tubuh terhuyung kanan kiri, dia sempat menggeleng sebentar.Tepat saat Olivia sampai di anak tangga paling atas, suara Kafka dan Mamanya yang mengobrol terdengar. Membuat tubuh Olivia menegang dan penasaran di saat yang bersamaan.Oliver masih di bawah dekat tangga, Olivia masih bisa melihat tubuh tegap abangnya yang sedang menatap ruang tamu dengan kedua tangan terlipat di dada.Ini … bahaya!Olivia langsung melempar
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol



![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



