แชร์

BAB 42.

ผู้เขียน: brownies coklat
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-29 17:58:43

“Olivia,”

Suara Oliver memanggilnya dari luar kamar, Olivia masih belum tergerak untuk membuka pintu kamarnya. Tak lama kemudian ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.

“Abang mau ngomong sebentar.” suara Oliver terdengar samar, akhirnya Olivia tergerak untuk membuka pintu kamarnya.

Dilihatnya sang kakak yang sepertinya baru pulang, Oliver masih menggunakan jaket kulit cokelatnya. Rapi dengan setelan kemeja dan celana bahan.

“Abang abis dari mana?” Olivia membuka pintu kamarnya lebih leb
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 165.

    Hujan deras baru saja reda meninggalkan bekas tetesan air pada dedaunan. Aroma tanah yang masih basah menguap ke udara, bercampur dengan hembusan angin dingin pukul sebelas malam.Kafka sudah mengeluarkan motor dari basement sejak bermenit-menit yang lalu, sebelum hujan benar-benar berhenti. Olivia, gadis itu sudah mengomel lebih dari tiga puluh menit. Katanya dia akan kena omelan ibunya kalau sampai di rumah lewat dari pukul sembilan. Yang nyatanya, sekarang mereka masih setia duduk di atas motor mengarungi jalanan menuju rumah Olivia.Olivia mencebikkan bibirnya berkali-kali, enggan berpegangan. Padahal pulang diantar Kafka naik motor adalah idenya. Kafka sudah kekeh untuk mengantar dengan mobil, jadi mereka tidak akan kehujanan dan akan sampai rumah Olivia sebelum pukul sembilan. Lagi-lagi, Olivia merajuk."Masih lapar, nggak?" Suara Kafka terbawa angin. Tidak terdengar jelas oleh Olivia yang dibonceng.Olivia tetap bergeming, tidak juga menjawab pertanyaan Kafka.Kafka menolehkan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 164.

    "Makasih, Olivia."Olivia mendongak, mendapati wajah Kafka yang sedang mengamatinya. Dia tersenyum kecil. "Makasih untuk apa? Perasaan gue nggak lakuin apa-apa."Kafka menghela napas panjang, tatapannya kembali mendongak. Melihat langit malam sudah tidak lagi cerah seperti sebelumnya, air dari langit mulai menetes sedikit demi sedikit membasahi bumi. "Makasih buat nggak membahas apapun yang lo lihat."Olivia mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "Bukan ranah gue buat nanya hal pribadi lo," ujar Olivia tenang. Kedua tangannya memegang tiang besi balkon, ikut menghirup udara dingin karena gerimis. "Lo nggak menceritakan ke gue, ya berarti itu hal pribadi yang nggak boleh gue tanya. Gue masih tahu batasan, Kafka. Gue juga paham, nggak semua hal bisa lo ceritakan ke orang lain.Kafka menoleh, mendapati Olivia yang sedang memejamkan mata. Dia belum benar-benar bisa menamai perasaan nyaman pada gadis di sampingnya, Cinta? Sayang? Atau hanya sekedar peduli."Kenapa lo baik sama gue?" Masih

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 163

    Pemandangan kota dengan kelap kelip lampu kendaraan begitu indah jika dipandang dari atas, belum lagi menikmati hembusan angin yang menerpa seakan menenangkan hati.Kafka memejamkan mata sejenak, merasakan terpaan angin yang menabrak wajah tampannya. Kedua tangannya tetap bertumpu pada tiang besi balkon apartemennya. Di sampingnya sudah ada sebungkus rokok yang hampir tidak pernah dia sentuh sama sekali. Kafka berjanji pada mendiang ibunya untuk tetap menjauhi benda terlarang itu.Tapi, kali ini sepertinya Kafka akan mengingkari janji pada ibunya, membersamai rasa sakit dan sesak di dada dengan kepulan asap yang mengudara, terbang terbawa angin malam.Satu hembus, dua hembus hingga habis satu batang. Kafka terkekeh ringan, meratapi hidupnya yang tidak punya jalur lurus seperti teman-temannya yang lain. Rasanya, hidup Kafka sudah terlalu hambar.Dua batang Kafka beranikan, ini mungkin akan menjadi malam panjangnya setelah sekian lama dia sengaja mengubur perasaan itu dalam-dalam.Pera

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 162

    Kafka baru saja menginjakkan kaki di apartemen saat dia mendapati sosok ayahnya di belakang. Pria itu mengikuti Kafka sejak di basement. Kafka hendak menutup pintu, tapi ayahnya menahan. Tatapan matanya sendu. "Biarkan Papa masuk, Kafka. Papa perlu bicara sama kamu." Kafka menghela nafas pendek sebelum akhirnya dia memperbolehkan ayahnya masuk ke dalam apartemennya yang terang benderang. "Mau minum apa?" Ayahnya menatap Kafka bingung. "Hm? Kamu nawarin Papa minum?" "Basa basi." "Apa saja, boleh," sahutnya atas pertanyaan Kafka sebelumnya. Kafka meletakkan dua kaleng minuman soda di pantry, membuka satu kaleng untuk dirinya. Dan, memberikan satu lagi ke hadapan ayahnya. "Ada perlu apa?" Pria tua di hadapannya tersenyum menunduk, ikut membuka kaleng soda yang memancarkan beberapa tetes isinya ke celana hitamnya. "Hanya kangen dengan apartemen ini." Meneguk minuman, tapi matanya mengedar. "Apartemen ini sudah banyak berubah sejak bundamu pergi." Kafka menahan geraka

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 161.

    "Apa perlu gue nembak lo ulang? Biar satu sekolah tau, kalau lo itu punya gue dan akan selalu jadi punya gue." Ucapan Kafka berhasil membuat kepala Olivia menggeleng cepat. "Nggak, malu." Kafka yang sedang berdiri, kembali menganggukkan kepalanya. "Ya … kali aja Lo mau. Biar semua orang tau kalau Olivia cuma buat Kafka." "Apa sih, Kafka …." "Lah? Salting? Merah itu pipinya …" Kafka menunjuk pipi Olivia yang bersemu kemerahan. Kedua tangan Olivia naik memegang pipinya, dia sepertinya harus menjauhi Kafka mulai saat ini. Dekat-dekat dengan Kafka tidak membuat Olivia nyaman, justru merasa terancam. Sedikit salah saja taruhannya malu. Kafka beranjak meninggalkan Olivia yang terduduk dengan menahan senyumnya, sampai pegal kedua pipinya. Setelah Kafka benar-benar keluar dari kelas, barulah Olivia bisa tersenyum lebar sembari menunduk. "Olivia!" Suara Sarah menggema di ambang pintu kelasnya. Gadis itu melangkah cepat menuju arahnya. "Lo jatuh di koridor tadi? Si Panji liha

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAN 160.

    Olivia baru saja menginjakkan kaki di sekolah dengan keadaan riuh ramai. Koridor yang biasanya sepi, kini ramai dan penuh dengan orang-orang berlarian.Beberapa dari mereka datang dengan seragam yang basah kuyup, wajah kesal dan juga bibir misuh-misuh.Kafka yang menyadari kondisi di depannya sudah tidak lagi kondusif langsung menarik Olivia menuju lantai dua, tempat kelas mereka berada."Ngapain buru-buru sih, Kafka? Nggak lihat orang-orang lagi pada lari-larian, gue takut ketabrak sama mereka." Olivia masih mengikuti langkah besar Kafka.Kafka sibuk membelokkan badannya kanan dan kiri, menghindari kerumunan orang yang saling berteriak.Keadaan lantai dua juga tidak kalah kacau, air menggenang di lantai, bekas jejak kaki, bekas tanah. Oh, jangan lupakan bekas-bekas tisu yang memenuhi tempat sampah.Olivia bergidik ngeri memandang ini semua. Dia tidak habis pikir kalau ternyata efek banjir tadi juga membuat sebagian anak-anak di sekolahnya kerepotan."Kafka," Olivia baru merasakan tel

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status