로그인Kafka datang ke sekolah dengan wajah lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Rio yang menyadari perubahan Kafka langsung mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan darinya."Kenapa sih, Kaf? Beda bener lo hari ini."Kafka yang sedang duduk di kursi hanya diam, sesekali menundukkan wajahnya lalu tersenyum lebar sekali. Sampai membuat Rio meringis."Jatuh cinta lo, ya?" tebak Rio. "Atau, udah nembak dia?"Kafka menoleh ke belakang, memukul kepala Rio dengan buku catatan milik cowko itu. "Berisik, bego!""Lagian lo nggak jelas banget dari tadi, cengar cengir. Kesurupan setan sekolah lo, ya."Kafka kembali membalikan badannya, melirik tempat Olivia duduk yang masih kosong. Rio yang menyadari arah tatap Kafka, langsung mengangguk paham. "Kan, bener. Kesambet setan dari kelas ini sih.""Nggak.""Terus?""Nggak ada terus-terus."Olivia memasuki ruang kelas dengan jaket berwarna putih, wajahnya ditutupi menggunakan masker. Saat dia menatap sekeliling kelas, matanya bersitatap dengan Kafka,
Hembusan angin malam menerpa wajah Kafka, memberikan kesan dingin dan sejuk di saat bersamaan. Di sampingnya ada gadis yang sejak sore sudah uring-uringan tidak jelas.Kafka terduduk di minimarket lantai dua, menemani Olivia yang menangis. Dia bahkan sudah coba berbagai cara untuk meredakan tangisan gadis itu.Sempat juga dia meminta maaf pada sekitar karena suara raungan Olivia, Kafka sendiri juga tidak tau kenapa gadis itu bisa menangis tersedu-sedu.Padahal, sebelumnya gadis itu dengan gamblang mengatakan bahwa dia sedang menyukai seseorang."Sampai kapan lo mau nangis kayak gini?" Kafka menggeser kotak tisu kedua Olivia, setelah sebelumnya habis satu kotak dan berakhir di tempat sampah yang penuh dengan gumpalan putih. "Nanti kalau nyokap lo tau muka lo bengep gitu gimana? Apa nggak kena amuk gue?" Olivia mengusap air matanya. Matanya sampai perih, dia bukan menangis karena menyukai seseorang. Dia menangis karena orang itu tidak peka-peka, padahal dia sudah mengkodenya berulang k
"Kafka!" "Apa?"Olivia melangkah pelan mendekati Kafka, nyeri di mata kakinya sudah perlahan memudar. Hanya saja belum bisa digunakan untuk berjalan cepat.Kafka yang melihat Olivia melangkah pelan, langsung menghampiri gadis itu. Berdiri tepat di hadapannya. "Udah gue bilang, gausah sekolah dulu. Ngeyel." Kafka menjentikkan satu jarinya ke kening Olivia. "Ih, sakit!""Mau ngapain manggil gue?" "Cuma mau bilang makasih."Kafka melipat tangannya di dada. "Buat apa? Perasaan gue nggak ngapa-ngapain.""Udah bantuin obati luka kaki gue sama udah jenguk, kemarin." Olivia tersenyum tulus. "Maaf kalau jadinya bikin lo repot." Kafka menggeleng. "Santai, nggak repotin sama sekali." Olivia bergerak gelisah, Kafka yang menyadari perubahan itu langsung menggeser tubuh Olivia ke tepi. "Mau ngomong sama gue?" "Hah?" "Gelisah gitu? Mau ngomong apa emang?" Ternyata ketebak, ya?Olivia menautkan kedua jarinya di belakang tasnya. "Lo sibuk abis ini?" "Nggak." Olivia menarik Kafka untuk menuju
"Daripada di kamar terus, mending di sini. Sumpek," ujar Sarah sambil lebih dulu melangkah keluar.Olivia menurut. Ia berjalan pelan menyusul Sarah, lalu berdiri di dekat pagar balkon. Angin sore langsung menyambut mereka, membawa udara yang jauh lebih sejuk dibanding di dalam kamar.Langit masih dipenuhi awan kelabu, tetapi di balik gumpalan itu, semburat jingga mulai muncul di antara celah-celahnya. Matahari yang perlahan turun membuat ujung langit berubah warna, memantulkan cahaya keemasan di atas deretan rumah yang terlihat dari balkon.Sarah menyandarkan kedua lengannya di pagar. "Bagus banget."Olivia ikut memandang ke arah yang sama. "Iya. Bahkan gue jarang banget liat sunset kalau sore dari sini.""Yah … rugi dong, kamar di lantai dua tapi nggak dipergunakan dengan baik."Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam memandang matahari yang sudah turun dari singgasananya. Tidak ada percakapan. Hanya suara angin dan sesekali suara kendaraan yang terdengar dari jalan depan rumah.Sar
Sarah mengetuk pelan pintu kamar tidur Olivia, setelah disahuti oleh si pemilik kamar, barulah dia memberanikan diri untuk masuk. Tujuannya ke sini sebenarnya untuk menjenguk Olivia, yang kata Kafka, sedang sakit karena habis makan bakso.Aneh sekali.Sebelumnya Olivia tidak terlihat kenapa-kenapa saat makan bakso bersama dirinya dan Panji. Bahkan, Sarah masih ingat bagaimana Olivia sempat mengomel karena Panji mengambil bakso terakhir miliknya. "Gimana ceritanya lo bisa sakit abis makan bakso?" gumam Sarah sambil menutup pintu di belakangnya.Olivia yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang hanya mengedikkan bahu. "Kayaknya karena kebanyakan sambal." Dia berhenti sebentar, lalu mengernyitkan dahi. "Tapi, gue cuma pake satu sendok sambal doang. Bingung nggak lo?"Sarah mendudukkan dirinya di sofa single milik Olivia. Tas yang dibawanya diletakkan asal di samping sofa. Matanya kemudian beralih pada Olivia, memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat lebih pucat dibanding biasanya.
Pagi-pagi sekali Kafka sudah bertengger di kap mobilnya. Pukul enam lebih lima belas menit, dia sudah memantau posisi Olivia di rumahnya. Mama Olivia yang menyadari kehadiran Kafka disana langsung menyuruhnya masuk ke dalam, menggandeng lengan Kafka erat. Senyumnya sumringah sekali."Kafka mau sarapan apa? Ada nasi goreng, capcay atau mau makan roti dan susu aja?'' ujar Mama Olivia.Kafka yang baru melangkah memasuki dapur langsung tersenyum kikuk, niatnya kesini hanya untuk memastikan keadaan Olivia. Justru Ibu gadis itu menyuruhnya sarapan."Apa aja, Tante. Kafka nggak terlalu lapar kok.""Oh, dibawa buat bekal aja ke sekolah. Gimana?" saran Mama Olivia. Diangguki Kafka.Mbok yang baru saja turun dari lantai dua membawa nampan berisi mangkok bubur yang sudah habis ke dapur, tersenyum menatap Kafka. "Eh, Mas Kafka. Rajin banget pagi-pagi udah kesini, mau jenguk princess ya?""Olivia udah sehat, Mbok? Gimana keadaannya sekarang?""Naik atuh ke atas, tanya sendiri sama Olivia nya. Mbo
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







