Share

BAB 188.

last update publish date: 2026-09-23 15:20:37

Langit malam menyapa saat Olivia baru saja tiba di rumahnya, setelah pulang sekolah dia memilih mengelilingi mall bersama Sarah. Niatnya hanya menghilangkan pikiran tentang Kafka yang seharian memenuhi isi kepalanya.

Belum langkahnya memasuki pintu pagar, kini dia dihadapkan pada siluet mobil yang sangat dia kenali mendekat ke arah rumahnya.

Dengan gerakan super cepat, Olivia langsung melesat masuk ke dalam rumah. Gerakannya yang terburu, menimbulkan suara berisik yang membuat seisi rumah ikut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 188.

    Langit malam menyapa saat Olivia baru saja tiba di rumahnya, setelah pulang sekolah dia memilih mengelilingi mall bersama Sarah. Niatnya hanya menghilangkan pikiran tentang Kafka yang seharian memenuhi isi kepalanya.Belum langkahnya memasuki pintu pagar, kini dia dihadapkan pada siluet mobil yang sangat dia kenali mendekat ke arah rumahnya.Dengan gerakan super cepat, Olivia langsung melesat masuk ke dalam rumah. Gerakannya yang terburu, menimbulkan suara berisik yang membuat seisi rumah ikut keluar.Oliver memicing saat melihat adiknya berlari menaiki lantai dua dengan tubuh terhuyung kanan kiri, dia sempat menggeleng sebentar.Tepat saat Olivia sampai di anak tangga paling atas, suara Kafka dan Mamanya yang mengobrol terdengar. Membuat tubuh Olivia menegang dan penasaran di saat yang bersamaan.Oliver masih di bawah dekat tangga, Olivia masih bisa melihat tubuh tegap abangnya yang sedang menatap ruang tamu dengan kedua tangan terlipat di dada.Ini … bahaya!Olivia langsung melempar

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 187.

    Dentingan suara ponsel tidak sudah-sudahnya berhenti, membuat Kafka yang sedang berbicara dengan ayahnya langsung keluar dari ruang keluarga. Meninggalkan ayahnya dengan tatapan bingung.Kafka melangkah menuju taman samping, aroma hujan yang baru saja turun tercium jelas di udara. Rintiknya menetes pada setiap pohon yang warnanya menghijau kembali."Kenapa? Gue lagi di rumah bokap," jawabnya."KAFKAAA!!!"Suara jeritan dari seberang sana membuat Kafka menjauhkan ponsel, berdecak sebal pada si penelpon. "Nggak usah teriak-teriak, gue denger suara lo, Yo.""Lo beneran nggak sekolah, kan?" Di jawab gumaman oleh Kafka. "Kita pada ngumpul di kafe dekat sekolah."Kafka berdecak lagi, merasa obrolan ini tidak terlalu penting. "Gue matiin kalau cuma basa-basi.""Eh-eh? Bentar, tadi gue lihat Olivia pulang sama Sarah sambil nangis. Mukanya merah banget …." ujar Rio ragu.Tubuh Kafka menegang, napasnya seketika memburu. Dia tidak suka ketika mendengar kata 'menangis' disebut. Apalagi ini dari

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 186.

    Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang paling tenang karena tidak ada lagi Kafka yang menjemputnya di depan rumah, tidak ada lagi tubuh jangkung milik Kafka yang duduk di depan kap mobil sambil menelitinya dari ujung kepala hingga kaki.Tapi, entah kenapa kebiasaan ini membuat Olivia merasakan ada gelenyar aneh yang merambat di dadanya.Perasaan seperti sesak dan tidak nyaman.Perjalanan ke sekolah dengan diantar Oliver benar-benar tidak semenyenangkan yang dia harapkan. Sunyi menyapanya sejak masuk ke dalam mobil, tidak ada pertanyaan seperti biasa.Aneh.Oliver memarkirkan mobil tidak jauh dari gerbang masuk, membuat Olivia mengernyit.Oliver masih tidak bersuara, hingga tatapan lesu laki-laki itu bertemu dengan netra miliknya. Ada guratan sedih yang terpancar jelas di sana, tidak Olivia mengerti arti tatapan itu."Liv?"Olivia melepas seatbelt nya, setelahnya menyambar ransel miliknya yang berada di jok belakang. "Mm?""Kafka …."Olivia hentikan gerakan tangannya, belum sempat mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 185.

    Kafka menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang, lampu di kamarnya belum dinyalakan. Hanya ada lampu tidur yang menyala redup di atas nakas.Dadanya sesak sejak kepulangannya setelah menemui Olivia. Amarah yang dipendamnya, tidak juga bisa keluar hanya dengan dia menghela napas berulang kali. Kafka marah pada keadaan yang tidak berpihak padanya.Kafka sudah memperjuangkan dan mempertaruhkan segalanya untuk berada di titik ini, tapi gadisnya justru bahagia ketika melihatnya menjauh. Ditengah kerisauan hatinya, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Kafka, kepalanya menyembul ke dalam. Diikuti suara rusuh dari belakangnya. Kafka tahu, itu teman-temannya."Kafka?"Belum ada sahutan, tapi Rio menangkap siluet tubuh Kafka di samping ranjang. Membelakangi pintu.Helaan napas terdengar nyaring di telinga teman-temannya, mereka bahkan memperlambat gerakan saat menyadari Kafka duduk termenung. Tidak menyambut mereka seperti biasa.Hendra yang menutup pintu dengan gerakan kasar, akhirnya

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 183

    "Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 182.

    "Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status