แชร์

Bab 6.

ผู้เขียน: brownies coklat
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 09:51:10

Olivia duduk termenung sendirian di kedai minimarket dekat rumahnya, sudah hampir larut malam dan Kafka belum juga menghubunginya sejak kemarin cowok itu pamit pergi duluan.

Ia tahu urusan keluarga yang Kafka maksud adalah Tante Ratna meninggal, Olivia akui ia khawatir keadaan cowok itu. Tapi ia masih enggan untuk memulai menghubunginya duluan.

Hari ini Kafka tidak masuk sekolah dan pengumuman tentang Bundanya meninggal bahkan sudah bergema di seluruh sekolah sejak pagi tadi, tapi Olivia tidak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 190.

    Hari kamis sore setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka, Olivia dan Kafka sepakat untuk menyambangi kediaman Kusuma. Kafka sudah berjanji untuk membenahi hal-hal yang seharusnya dia perbaiki, setidaknya dia akan mencoba meredam rasa ingin balas dendam demi bersama Olivia.Mobil Kafka terparkir rapi di pinggir jalan, tidak jauh dari kediaman keluarga Kusuma. Rumah bak istana itu terlihat menjulang di antara rumah lainnya.Gagah dan mewah.Seakan tahu pemilik di dalamnya memang bukan orang sembarangan.Olivia membuka kaca dari dalam tasnya, menyisir rambut yang sempat tidak beraturan karena kegiatan pramuka di bawah terik matahari siang tadi. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke berbagai sisi tubuhnya.Membuat Kafka terbatuk pelan, Olivia langsung buru-buru menyimpan kembali parfum dan sisir kecilnya. Lalu, menoleh khawatir pada Kafka yang sedang meneguk air."Duh, maaf. Nggak sengaja, harusnya gue pakai parfum di luar aja."Kafka mengibaskan kedua tangan di udara sembari mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 189.

    "Kenapa menghindar dari gue?"Olivia menoleh cepat pada laki-laki yang sedang menyesap kopinya di ruang tamu. Tatapannya sinis sekali, rasa malunya belum juga hilang setelah ketahuan bahwa dia dan Oliver bersembunyi di bawah meja demi menghindari Kafka."Nggak apa-apa."Kafka tersenyum tipis. "Kata Mbok, kalau lo ketemu gue seharusnya senang, ya? Kenapa ini malah jutek banget?" Olivia memutar bola matanya malas, kedua tangannya dilipat di dada. "Nggak, gue nggak jutek. Cuma lagi capek aja, udah malam." Duduk bersebelahan dengan Kafka di rumahnya bukan hal biasa yang mereka lakukan lagi setelah hubungannya kandas, rasanya ini seperti berbicara dengan orang asing.Ya, orang asing yang diam-diam saling suka?"Jujur aja sama gue kalau misalnya lo kangen, gue juga ke sini karena kangen sama lo." Jujur sekali?Olivia justru membuang muka, engga menatap Kafka yang sedang menatapnya intens. Laki-laki itu bahkan sudah memutar duduknya agar bisa menatap Olivia penuh."Liv," panggil Kafka. "G

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 188.

    Langit malam menyapa saat Olivia baru saja tiba di rumahnya, setelah pulang sekolah dia memilih mengelilingi mall bersama Sarah. Niatnya hanya menghilangkan pikiran tentang Kafka yang seharian memenuhi isi kepalanya.Belum langkahnya memasuki pintu pagar, kini dia dihadapkan pada siluet mobil yang sangat dia kenali mendekat ke arah rumahnya.Dengan gerakan super cepat, Olivia langsung melesat masuk ke dalam rumah. Gerakannya yang terburu, menimbulkan suara berisik yang membuat seisi rumah ikut keluar.Oliver memicing saat melihat adiknya berlari menaiki lantai dua dengan tubuh terhuyung kanan kiri, dia sempat menggeleng sebentar.Tepat saat Olivia sampai di anak tangga paling atas, suara Kafka dan Mamanya yang mengobrol terdengar. Membuat tubuh Olivia menegang dan penasaran di saat yang bersamaan.Oliver masih di bawah dekat tangga, Olivia masih bisa melihat tubuh tegap abangnya yang sedang menatap ruang tamu dengan kedua tangan terlipat di dada.Ini … bahaya!Olivia langsung melempar

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 187.

    Dentingan suara ponsel tidak sudah-sudahnya berhenti, membuat Kafka yang sedang berbicara dengan ayahnya langsung keluar dari ruang keluarga. Meninggalkan ayahnya dengan tatapan bingung.Kafka melangkah menuju taman samping, aroma hujan yang baru saja turun tercium jelas di udara. Rintiknya menetes pada setiap pohon yang warnanya menghijau kembali."Kenapa? Gue lagi di rumah bokap," jawabnya."KAFKAAA!!!"Suara jeritan dari seberang sana membuat Kafka menjauhkan ponsel, berdecak sebal pada si penelpon. "Nggak usah teriak-teriak, gue denger suara lo, Yo.""Lo beneran nggak sekolah, kan?" Di jawab gumaman oleh Kafka. "Kita pada ngumpul di kafe dekat sekolah."Kafka berdecak lagi, merasa obrolan ini tidak terlalu penting. "Gue matiin kalau cuma basa-basi.""Eh-eh? Bentar, tadi gue lihat Olivia pulang sama Sarah sambil nangis. Mukanya merah banget …." ujar Rio ragu.Tubuh Kafka menegang, napasnya seketika memburu. Dia tidak suka ketika mendengar kata 'menangis' disebut. Apalagi ini dari

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 186.

    Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang paling tenang karena tidak ada lagi Kafka yang menjemputnya di depan rumah, tidak ada lagi tubuh jangkung milik Kafka yang duduk di depan kap mobil sambil menelitinya dari ujung kepala hingga kaki.Tapi, entah kenapa kebiasaan ini membuat Olivia merasakan ada gelenyar aneh yang merambat di dadanya.Perasaan seperti sesak dan tidak nyaman.Perjalanan ke sekolah dengan diantar Oliver benar-benar tidak semenyenangkan yang dia harapkan. Sunyi menyapanya sejak masuk ke dalam mobil, tidak ada pertanyaan seperti biasa.Aneh.Oliver memarkirkan mobil tidak jauh dari gerbang masuk, membuat Olivia mengernyit.Oliver masih tidak bersuara, hingga tatapan lesu laki-laki itu bertemu dengan netra miliknya. Ada guratan sedih yang terpancar jelas di sana, tidak Olivia mengerti arti tatapan itu."Liv?"Olivia melepas seatbelt nya, setelahnya menyambar ransel miliknya yang berada di jok belakang. "Mm?""Kafka …."Olivia hentikan gerakan tangannya, belum sempat mengg

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 185.

    Kafka menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang, lampu di kamarnya belum dinyalakan. Hanya ada lampu tidur yang menyala redup di atas nakas.Dadanya sesak sejak kepulangannya setelah menemui Olivia. Amarah yang dipendamnya, tidak juga bisa keluar hanya dengan dia menghela napas berulang kali. Kafka marah pada keadaan yang tidak berpihak padanya.Kafka sudah memperjuangkan dan mempertaruhkan segalanya untuk berada di titik ini, tapi gadisnya justru bahagia ketika melihatnya menjauh. Ditengah kerisauan hatinya, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Kafka, kepalanya menyembul ke dalam. Diikuti suara rusuh dari belakangnya. Kafka tahu, itu teman-temannya."Kafka?"Belum ada sahutan, tapi Rio menangkap siluet tubuh Kafka di samping ranjang. Membelakangi pintu.Helaan napas terdengar nyaring di telinga teman-temannya, mereka bahkan memperlambat gerakan saat menyadari Kafka duduk termenung. Tidak menyambut mereka seperti biasa.Hendra yang menutup pintu dengan gerakan kasar, akhirnya

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status