LOGINSudah 3 hari Nisa berada di rumah sakit dan selama itu pula Dirga dan Mia memantau perkembangan pekerjaan kontrakan Mia dulu yang sudah dibeli oleh Dirga. Setelah mendengar cerita Nisa dari Dion, Mia pun meminta Dirga untuk merapikan rumah yang sudah dibeli itu agar bisa Nisa tempati. Dan tepat 3 hari ini, Mia benar-benar puas dengan hasilnya bahkan bisa dikatakan rumah tersebut lebih bagus dari rumah-rumah di sekitarannya. walaupun tidak bertingkat namun jauh lebih baik. Dirga juga meletakkan sofa di ruang tamu lalu membeli meja makan dan satu set perlengkapan dapur, di kamar juga diisi tempat tidur empuk dan lemari yang sangat nyaman. semua itu adalah permintaan dari Mia sendiri. Ia berharap selama tinggal di sini nanti, Nisa akan betah. Semua ini ia lakukan karena selama 3 bulan Ia di desa Embun Tirta, Nisa selalu membantunya. Bahkan Gadis itu setiap hari hampir datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan ada yang bisa dibantu atau tidak, jadi sekarang sudah saatnya bukan ia memb
Malam ini suasana di kediaman rumah Dirga dan Mia terasa begitu tenang. Keduanya kini sedang duduk di ruang santai dengan Mia yang berbaring dipaha Dirga. Pria itu mengusap rambut Mia lembut. "Tapi aku masih penasaran, kenapa Dion bisa sampai di sana? Kamu kasih izin?""Nggak ada yang bisa larang dia juga.""Kenapa gitu? Terus kerjaan Dion gimana? bukannya dia kerja di kantor kamu?"Mendengar celotehan Mia, Dirga langsung tersenyum. Ia mencubit hidung Mia gemas."Sepertinya kamu belum tahu tentang hal ini ya.""Hm?""Selama ini kamu cuma lihat Dion itu muter-muter bareng aku, keluar masuk kantor aku, lalu keluar masuk rumah ini. Iya kan."Mia mengangguk. "Memang iya kan?""Iya nggak salah sih. Cuma sebenarnya Dion itu direktur utama yang gabut.""Ha? Direktur utama apanya?""Dion itu direktur utama Mia. Coba deh kamu cari Skylight company di pencarian Google di ponsel kamu."Mia langsung menjangkau kembali ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja, selalu mencari skylight company
Nisa masih berada di ruang perawatan. Setelah berbicara dengan dokter, dan dipaksa oleh Dion, akhirnya Nisa menyetujui untuk dirawat inap. Walaupun sebenarnya ia sendiri merasa tak ada yang parah dari tubuhnya. Tapi mungkin ini untuk kebaikannya juga. Jadi mau tidak mau ia harus menuruti itu.Nisa menatap sekeliling ruangan yang begitu luas itu. Luas namun sunyi, itulah yang ia rasakan saat ini. Sejak ia masuk tadi, Dion belum terlihat.Nisa melirik ke samping. Di atas meja nakas ada ponsel yang tadi Dion pinjamkan padanya.Ia mengambil ponsel tersebut dan mencoba mencari kontak Dion. Ingin rasanya ia menekan lambang panggil namun ia takut akan mengganggu pria tersebut.Iseng mencari kontak lain, Nisa menemukan kontak Mia. Ia langsung melakukan panggilan video pada gadis itu.Cukup lama panggilan itu tak diangkat, sampai akhirnya wajah Mia muncul di layar ponsel.Tentu saja reaksi Mia pertama kali adalah terkeju. Karena yang gadis itu tahu, pemilik nomor itu adalah Dion. Namun saat vi
Suara itu menarik perhatian Nisa. Entah merasa malu atau lega dengan kehadiran Dion saat ini di rumahnya. Perlakuan orang tuanya yang saat ini membabi buta padanya membuatnya merasa lega dengan adanya Dion, namun melihat dirinya yang saat ini babak belur membuatnya benar-benar malu. Nisa melihat ponsel yang tadi Dion pinjamkan padanya ada di tangan Dion. Dengan cepat ia memeriksa kantong celananya namun tak ada ponsel itu. Itu artinya ia lupa membawa ponsel itu ikut serta saat ia turun dari mobil Dion.Ia bernapas lega. "Apa hakmu melarang saya? Dia anak saya darah daging saya terserah saya mau saya apakan.""Ya sudah silakan, mau anda pukul lagi silakan.. Tapi saya pastikan setelah itu Anda akan diseret ke kantor polisi." Ancaman Dion membuat pria paruh baya itu merasa sedikit panik. Dion melangkah masuk ke dalam rumah. Tatapannya cukup tajam Dion layangkan pada kedua orang tua Nisa. "Demi uang anda berani menghancurkan anak anda seperti ini. Anda pikir anda sudah hebat sebagai a
Tubuh Irwan masih menggigil. Dion menatap ke arahnya dan berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan Irwan yang terduduk, "Kau dulu meminta Mia menikah denganmu? Aku mendapat kabar darinnya." ucap Dion.Irwan semakin memucat. "Ta-tapi dia bilang dia sudah punya calon suami..""Ya. Dan kau tahu siapa calon suaminya?"Irwan menggeleng takut."Dirgantara Rasya Mahendra. Penerus utama hampir semua perusahaan milik Mahendra." Irwan mendadak sesak napas. Pria itu menyentuh jantungnya yang terasa sakit. Banyak warga yang mengerumuni namun tidak dengan Nisa. Gadis itu menarik Dion untuk menjauhi kerumunan tersebut.Ibunya Nisa melihat anaknya menarik Dion, namun ia tak bisa menahan karena suaminya juga meminta tolong untuk membantu Juragan Irwan.Nisa awalnya membawa Dion menjauh namun Dion menariknya kembali dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Dengan cepat Dion meninggalkan lokasi, membiarkan kehebohan terjadi di sana.Mobil berhenti di Jalan Setapak desa. Di kanan dan kiri mereka te
Mia baru saja sampai di Jakarta. Perjalan jauh membuatnya lelah. Setelah Dirga mengantarkan Mia ke kamar dan memastikan Mia beristirahat, Pria itu kembali keluar menemui Dion."Kau yakin?" Ucap Dirga."Kenapa? Aku terlihat sedang bermain?""Bukan itu maksudku. Kau baru saja bertemu dengannya, dan,""Kenapa? Kau meremehkanku?"Dirga menatap Dion jengah. "Terserah kau saja. Manusia keras kepala sepertimu susah diberitahu."Ucapan Dirga membuat Dion tertawa.____Seperti ucapan Dion dengan Dirga kemarin, hari ini pria itu pergi mengenakan mobil sport mewah miliknya. Tujuannya kali ini, desa Embun Tirta.Perjalan ke sana memakan waktu lima jam menggunakan mobil tersebut.Awan mendung menyambut Dion saat ia memasuki gerbang desa. Saat ia masuk, banyak pasang mata yang menatap ke arah mobilnya. Entah kenapa ia merasakan jika sekaya apapun warga desa di sini, tak ada yang punya mobil sekeren ini.Itulah kesombongan pertama yang Dion rasakan pada dirinya sendiri.Dion terus melajukan mobilnya







