LOGIN"Mia?" Dirga membuka pintu kamar Mia. Betapa syoknya pria itu saat mendapati Mia sedang melukai dirinya."Mia!!!" Dirga berlari sekencang mungkin dan langsung merebut kawat besi yang ada di tangan Mia lalu melemparnya jauh. Tatapan Mia tertuju pada Dirga, namun hanya sebentar karena setelahnya, Mia kehilangan kesadarannya. "Mia!! Mia bangun Mia! Mia!! MIA!!! Sial!" Dirga meringis melihat darah yang keluar dari goresan Mia pada tubuhnya. Ia menggendong Mia dan membaringkan Mia di atas ranjang. Ia mengambil pakaian Mia dan mengenakan pada tubuh gadis itu. Dirga panik. Ia ketakutan entah karena apa. Setelah terpasang semuanya, bahkan pakaian dalam Mia juga, Ia kembali menggendong Mia dan membawanya menuju mobil. Rumah sakit adalah tujuan Dirga kali ini. Pikirannya kacau. Kenapa Mia bisa melakukan hal gila ini. Dirga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melirik Mia. Pakaian gadis itu yang tadinya masih bersih, Kini sudah ada beberapa titik darah yang membasahi."Bre
Setelah pengakuan mengejutkan dari Dirga tadi, suasana di rumah utama mendadak mencekam. Ibunya Dirga menatap Aryan. Menuntut pernyataan resmi dari Aryan atas apa yang anaknya ucapkan tadi."Kau ingin membunuh anakku?" Tanya Anita pada Aryan.Nada bicara Anita terdengar sangat ramah, namun malah membuat sebagian yang ada di rumah itu merinding, termasuk Aryan dan Dea.Aryan menatap Anita dengan tatapan tenang. Ia tak ingin merasa diintimidasi oleh kakaknya itu.Walaupun nada bicara Anita terlihat santai, namun ia yakin dalam diri kakaknya itu saat ini sedang bergejolak.Aryan melangkah satu langkah mendekatkan dirinya pada Anita. Ia tersenyum, "apa Kau pikir aku tega melakukan itu pada keponakanku sendiri?"tanya Aryan."Tentu saja tidak. Aku tahu kau menyayangi Dirga. Tapi jika terjadi sesuatu padanya, kau orang pertama yang akan kucari. Aryan. Bahkan aku sendiri takkan pernah takut menghabisimu dan wanita itu." ucap Anita yang masih dengan nada bicara santainya.Anita lalu menatap De
Mobil Dirga berhenti di halaman luas kediaman utama keluarga besarnya. Di sana sudah terparkir beberapa mobil mewah dan salah satunya ada mobil Om Aryan.Dirga menatap Mia. Wajah gadis itu nampak gugup. Ia melangkah mendekati Mia dan langsung menggenggam jemarinya, menyalurkan ketenangan yang ternyata cukup ampuh membuat gadis itu nyaman. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya. Mia mengangguk, "aku baik kok. Kamu tenang aja.""Syukurlah. Kalau nanti kamu nggak nyaman, bilang sama aku."Mia mengangguk. Ia tersenyum. Setelahnya, Dirga menuntun Mia untuk masuk ke dalam. Mereka bergandengan, sampai menarik beberapa perhatian orang-orang yang mereka lewati."Selamat malam semuanya." ucap Dirga. Seluruh mata mendadak tertuju pada Mia. Penampilan Mia malam ini benar-benar Anggun, cantik luar biasa. Bahkan banyak dari para lelaki menatap lapar padanya. Dirga menyadari ketidaknyamanan Mia. Dirga yang tadi menggenggam jemari Mia kini berpindah merangkul pinggang gadis tersebut. Dibalik semua p
Sejak pengakuan Mia kemarin tentang dia bertemu dengan Alexa, Dirga harus mempekerjakan dua bodyguard di sisi Mia saat gadis itu ingin keluar rumah. Sebenarnya Mia sudah menolak, namun Dirga tetap memaksa. Pria itu justru mengancamnya tak memberi izin Mia keluar jika Mia tak mau adanya bodyguard.Alhasil, daripada tak diizinkan keluar, akhirnya Mia membiarkan dirinya dijaga kanan dan kiri oleh bodyguard sewaan dari Dirga. Tak bebas memang, tapi apa boleh buat.Dan saat ini, Mia sedang berada di sebuah resto cepat saji. Menikmati me time nya sebelum nanti malam ia harus menjadi pelayan lagi di pesta keluarga besar Dirga.Mia melirik dua bodyguard yang selalu pasang mata padanya. Ia menghela napas panjang. Sebenarnya ia tahu tujuan Dirga memposisikan bodyguard di sekitarnya itu bukan hanya untuk menjaganya, melainkan untuk memantau orang-orang yang tampak mencurigakan. Pasalnya, akhir-akhir ini banyak hal buruk yang terjadi. Dan itu tak lepas dari kecurigaan Dirga pada omnya, Aryan y
"Bagaimana hasil penelusurannya?" Dirga bertanya pada Dion dan Arnold yang kini duduk di hadapannya. Dion menatap Arnold ia mengizinkan rekannya itu untuk menjelaskan semuanya pada Dirga. "Setelah hampir 2 bulan ini saya mencari tahu semuanya, ini data-data yang saya temukan." Menyerahkan beberapa lembar kertas penting pada Dirga. Pria itu langsung mengambilnya dan membaca satu demi satu isi yang ada di dalam kertas tersebut. Dan pandangannya tertuju pada satu nama yaitu Aryan Abraham. Sontak saja Dirga tanpa sadar langsung meremuk kertas tersebut sampai tak berbentuk. "Bajingan." umpatnya. Sebenarnya apa mau pria sialan itu. Kenapa omnya sendiri mau mencelakakan dirinya."Saya sudah mencari tahu Apa tujuan utama pria itu melakukannya. Dan untuk penyelidikan sementara, semua ini ada hubungan dengan perebutan hak waris. Pak Dirga adalah cucu laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga besar ini. Dan kuota pak Dirga untuk bisa menjalani 80% perusahaan utama cukup besar. Kare
Waktu kini sudah berlalu. Mia juga sudah sembuh. Hampir sebulan ia berkurung di rumah, kini Mia benar-benar ingin berjalan-jalan santai di sekitaran komplek rumah.Akhir-akhir ini Dirga juga sibuk mengurus sesuatu dengan Dion. Bahkan beberapa orang yang tidak Mia kenal juga berkunjung ke rumah untuk menemui Dirga. Namun setiap orang-orang itu mendatangi Dirga, pria itu langsung membawanya ke ruang kerja. Jadi Mia tak pernah tahu apa yang sedang Dirga rencanakan.Dan hari ini, Dirga sudah berangkat dijemput oleh Dion pagi-pagi buta. Sebenarnya Mia ingin bertanya apa yang terjadi sampai-sampai Dirga terlihat begitu lelah setelah pulang dari urusannya. Namun ia tak ingin menyinggung apapun yang Dirga lakukan. Ia takut dirinya akan merepotkan Dirga jika sudah ikut campur.Langit hari ini tak cerah namun juga tidak mendung. Cukup sejuk untuk dibawa santai keluar rumah. Mia berjalan sembari bersenandung menuju taman yang memang disediakan oleh pengelola kompleks untuk warga sekitar bermain







