MasukSore itu, Ny. Ratna bertemu dengan Eveline di sebuah restoran yang cukup tenang. Berbeda dari biasanya, pertemuan mereka kali ini terasa jauh lebih serius. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Ny. Ratna, dan sejak awal ia sudah menyimpan senyum penuh kemenangan di wajahnya. Eveline yang baru saja duduk langsung memperhatikan ekspresi wanita itu. "Tante kelihatannya sedang senang." Ny. Ratna tersenyum. "Memang ada kabar baik." Eveline mengangkat alis. "Kabar baik?" Ny. Ratna mengangguk pelan. "Tadi Tante bertemu Freya." Seketika senyum Eveline memudar. "Freya?" Ny. Ratna mengangguk. "Dan Tante akhirnya mendapatkan apa yang selama ini kita tunggu." Eveline terdiam. Ny. Ratna mendekatkan tubuhnya sedikit. "Freya tidak akan mempersulit perceraian." Mata Eveline melebar. Untuk sesaat, ia tampak benar-benar terkejut.
Siang itu, butik kecil yang menjadi tempat Freya mengembangkan RHEYA Atelier mulai dipenuhi aktivitas.Tidak lagi seperti beberapa bulan lalu ketika ruangannya hanya berisi beberapa rak pakaian dan kardus pesanan.Kini, beberapa pakaian hasil desain Freya tergantung rapi.Ada pula meja kecil untuk menerima pesanan, rak kain, serta beberapa kardus yang siap dikirim.Talita sedang memeriksa daftar pesanan ketika sebuah mobil berhenti di depan butik.Seorang wanita turun dari dalamnya.Ny. Ratna.Talita yang melihat kedatangannya langsung terdiam."Freya..."Freya yang sedang memeriksa desain di meja menoleh."Ada apa?"Talita menunjuk ke arah pintu.Freya mengangkat wajah.Seketika ekspresinya berubah."Mama?"Ny. Ratna masuk dengan langkah anggun.Matanya langsung menyapu seluruh ruangan.Ia melihat rak-rak pakaian.Beberapa pelanggan yang sedang melihat-lihat koleksi.Tumpukan paket yang sudah diberi label p
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa banyak perubahan di rumah itu.Namun diam-diam, sesuatu telah berubah dalam diri Freya.Ia tidak lagi menghabiskan waktunya menunggu Arga pulang.Ia juga tidak lagi bertanya ke mana pria itu pergi, dengan siapa ia bertemu, atau mengapa pesan-pesannya tidak dibalas.Untuk pertama kalinya sejak menikah, Freya mulai belajar menjalani hari tanpa menjadikan Arga sebagai pusat hidupnya.Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih.Bekas operasi di perutnya masih terasa nyeri, terutama ketika ia terlalu lama duduk atau bergerak.Tetapi pikirannya sudah mulai dipenuhi sesuatu yang lain.RHEYA Atelier.Pagi itu, Talita datang membawa beberapa contoh bahan.Ia meletakkan tumpukan kain di atas meja kerja kecil Freya."Aku sudah bicara dengan Bima."Freya langsung menoleh."Bima bilang apa?""Dia siap membuat sampel dari desainmu."Mata Freya berbinar."Benarkah?"Talita mengangguk."Katanya desain yang kamu kirim kemarin cukup menarik.""Dia bahkan bilang kalau has
Tentu. Saya ubah sapaan Arga kepada Ny. Ratna menjadi “Mama” dan menyesuaikan dialog agar konsisten.MenulisBab: Tekanan dari Sang IbuSejak pagi, Arga tidak bisa berkonsentrasi.Di ruang kerjanya, beberapa dokumen penting terbuka di atas meja. Laporan keuangan, proposal proyek, dan berkas kerja sama dengan Surya Kapital Group seharusnya menjadi perhatiannya.Namun satu hal terus mengganggu pikirannya.Freya.Sikap wanita itu pagi tadi terasa begitu berbeda.Selama bertahun-tahun menikah, Freya memang pernah marah. Pernah menangis. Pernah mendiamkannya.Tetapi tidak pernah seperti tadi.Tidak ada tuntutan.Tidak ada pertanyaan.Tidak ada usaha untuk menahannya.Seolah-olah Freya sudah benar-benar menyerah.Arga menyandarkan tubuhnya pada kursi."Kenapa dia berubah seperti itu?"Pandangannya kosong ke luar jendela.Biasanya, jika mereka bertengkar, Freya akan tetap menunggunya pulang. Bahkan setelah disakiti, wanita itu masih berusaha menyiapkan makan malam atau menanyakan apakah ia s
Pagi itu terasa berbeda.Tidak ada suara langkah Arga di kamar mereka.Tidak ada percakapan kecil seperti biasanya.Tidak ada pula Freya yang bangun lebih dulu untuk menyiapkan pakaian suaminya.Semalam, untuk pertama kalinya, Arga tidur di kamar tamu.Dan Freya membiarkannya.Ia tidak bertanya.Tidak memanggil.Tidak pula mencoba menghentikannya.Sepanjang malam, Freya justru terjaga cukup lama sambil menatap langit-langit kamar.Banyak hal berputar di kepalanya.Tentang Arga.Tentang Eveline.Tentang Ny. Ratna.Tentang rumah tangga yang selama ini ia pertahankan sendirian.Freya akhirnya menyadari satu hal.Ia tidak mungkin terus-menerus memaksa seseorang untuk mencintainya dengan cara yang ia inginkan.Jika hati Arga perlahan berpindah...Jika suatu hari takdir memang memisahkan mereka...Freya ingin dirinya sudah cukup kuat untuk menerimanya.Ia tidak ingin terus menggenggam seseorang yang mungkin sudah ingin pergi.Karena semakin erat ia menggenggam, semakin dalam pula luka yang
siang itu, ruang rapat utama Malik Group dipenuhi suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.Di atas meja tersusun dokumen kerja sama, laporan keuangan, serta rancangan proyek yang akan dijalankan bersama Surya Kapital Group.Arga duduk berhadapan dengan Pak Surya, ayah Eveline sekaligus pemilik Surya Kapital Group.Beberapa jajaran direksi dari kedua perusahaan juga turut hadir.Setelah hampir dua jam membahas berbagai detail kerja sama, Pak Surya menutup map di hadapannya sambil tersenyum puas."Saya rasa semua poin penting sudah kita sepakati."Arga mengangguk."Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."Pak Surya menyandarkan tubuhnya ke kursi."Surya Kapital Group akan mengucurkan pendanaan sebesar seratus miliar rupiah sesuai kesepakatan.""Dana akan dicairkan secara bertahap setelah seluruh dokumen selesai."Mendengar angka itu, beberapa direksi Malik Group saling berpandangan lega.Selama beberapa bulan ter
Pagi itu terasa begitu tenang. Udara masih lembap, langit belum sepenuhnya terang, dan suara azan Subuh menggema dari kejauhan, bersahut-sahutan dari masjid ke masjid. Freya membuka matanya perlahan. Cahaya lampu tidur yang temaram memantul di wajahnya yang tampak masih letih karena malam sebelumny
Pintu kamar berderit pelan. Arga masuk dengan langkah gontai, dasi sudah terlepas, wajahnya kusut penuh beban. Matanya merah, entah karena lelah atau terlalu banyak menahan emosi seharian.Freya yang masih duduk di tepi ranjang tersentak. Cepat-cepat ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, menye
Malam itu, rumah terasa lengang. Arga baru pulang larut, wajahnya lelah dan dingin, langsung masuk kamar tanpa banyak bicara. Freya hanya bisa menatap punggung suaminya dengan perasaan hampa. Kata-kata yang dulu menumbuhkan luka kini berubah menjadi penguat tekad. Kalau aku terus diam, aku akan sel
Akhir pekan itu, restoran mewah di pusat kota dipenuhi suara gelak tawa dan obrolan riuh. Ruang VIP yang biasanya digunakan untuk jamuan bisnis, kali ini dikuasai oleh sekumpulan wanita anggun bergaun elegan—para sosialita yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Di salah satu sudut meja panjang itu,







