로그인Lauren, a young woman who has been mistreated by her stepmother and sister after her mother's death. She is a hardworking individual who is looking for a peaceful life, away from the chaos and drama of the wealthy. Lauren's life takes an unexpected turn when she goes on vacation and meets Kaizer, a famous bachelor, and CEO who is in need of a fake girlfriend to avoid an arranged marriage. Kaizer proposes a deal to Lauren, offering her a way out of her current situation in exchange for pretending to be his girlfriend. Lauren is torn between her desire for a peaceful life and the opportunity to escape her stepmother and sister's mistreatment. She must navigate the complications of a contractual marriage and the challenges of living in the high society world. As Lauren and Kaizer's relationship develops, she must also confront her feelings toward him and decide what she truly wants. The story will explore themes of family, love, and self-discovery as Lauren makes difficult choices and ultimately chooses what is best for herself.
더 보기Sampai di kampus, aku sudah ditunggu oleh Daffa, Rafael, Vita dan Ilham. Mereka adalah teman aku sejak saat SMA. Kami sudah bersahabat sangat dekat. Dan aku juga tidak menyangka akan satu universitas dengan mereka berempat.
"Ayuna!" Teriak Daffa.
"Daffa." kataku sambil menghampiri Daffa.
"Kenapa kamu terlambat datang? Semua orang sudah berada di kelas." Kata Daffa.
"Tadi aku terlambat bangun dan mengalami macet saat di perjalanan." Kataku.
"Begitu, aku sudah menduga itu." Kata Daffa.
"Ayo kita masuk ke kelas." Kataku.
Aku dan Daffa masuk ke kelas. Semua mahasiswi melihat ke arahku. Mereka pasti tidak suka aku berada didekat Daffa. Ada dua mahasiswa yang membicarakan sebuah kampung.
"Kamu tahu tidak ada sebuah kampung yang menakutkan dan berisi banyak keanehan yang terjadi. Di sana ada air putih menjadi merah seperti darah dan makanan juga berubah menjadi ulat bulu dan kaki seribu. Lalu, siang hari menjadi gelap seperti malam dan juga sebaliknya. Yang paling aneh ada suara yang tidak jelas dari mana asalnya." kata mahasiswa itu.
"Benarkah? Menakutkan sekali kampung itu, apa namanya?" tanya mahasiswa lain.
"Tidak tahu juga dam belum pernah ada orang yang sampai di kampung itu. Karena saat terjebak akan sulit kembali." Kata mahasiswa itu.
"Begitu." Kata mahasiswa lain.
Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua. Lalu, Daffa bilang kepada aku.
"Itu tidak mungkin, mereka masih saja percaya dengan hantu." Kata Daffa.
"Kamu benar, Daffa." kataku.
"Ayo ke kelas!" Kata Daffa.
"Apa aku harus bersama dengan kamu?" tanyaku.
"Maksud kamu apa, Ayuna?" tanya Daffa.
"Tidak, hanya aku merasa sedikit tidak enak saja berjalan dengan kamu." Jawabku.
"Kenapa begitu? Kamu itu sahabat aku, apa salahnya?" tanya Daffa.
"Kamu itu mahasiswa terhindar di kelas dan pandai bermain musik. Kamu juga idola semua mahasiswi di sini." Kataku.
"Apa aku idola kamu juga, Ayuna?" tanya Daffa.
"Apa? Kita itu teman masa aku mengidolakan teman aku sendiri." Kataku.
"Artinya kau tidak tampan menurut kamu." Kata Daffa.
"Tidak, bukan begitu. Kamu tampan karena kamu pria." Kataku sambil tersenyum.
"Hanya itu saja, tidak ada yang lebih." Kata Daffa.
"Maksudnya? Sudah, apa kamu sudah mengerjakan tugas kemarin?" tanyaku.
"Sudah, memangnya kamu belum mengerjakan tugas kamu?" tanya Daffa.
"Sudah tapi tinggal satu pertanyaan lagi. Ini sangat sulit jadi aku tidak tahu apa jawabannya." Jawabku.
"Kalau begitu aku akan mengajari kamu." Kata Daffa.
"Terima kasih, Daffa!" Kataku.
Saat aku belajar bersama dengan Daffa. Vita datang dan langsung ikut belajar dengan kami berdua.
"Aku juga belum mengerjakan tugas, Daffa." Kata Vita.
"Kamu pasti sengaja tidak mengerjakan tugas supaya dapat bertanya kepada aku." Kata Daffa.
"Memangnya salah bertanya kepada sahabat sendiri?" tanya Vita.
"Tidak juga, aku hanya aneh terhadap kamu. Tapi kamu selalu tidak mengerjakan tugas kuliah. Kenapa?" tanya Daffa.
"Aku hanya lupa." Kata Vita.
Ilham berbicara kepada Vita.
"Vita, aku bisa mengajari kamu pertanyaan itu." Kata Ilham.
"Tidak perlu, aku hanya ingin dengan Daffa." Kata Vita.
"Baik." Kata Ilham.
"Baik, terserah kamu saja." Kata Daffa.
Ilham terlihat sangat sedih dan aku menghampiri dia.
"Kamu kenapa, Ilham?" tanyaku.
"Aku bingung, Ayuna." Jawab Ilham.
"Bingung kenapa?" tanyaku.
"Aku menyukai Vita tapi aku rasa dia menyukai Daffa. Aku memang jauh dari Daffa. Dia tampan dan pintar. Sedangkan aku hanya pandai membuat puisi itu juga tidak akan bisa membuat Vita tertarik terhadap aku." kata Ilham sambil terlihat sedih.
"Kamu menyukai Vita?" tanyaku.
"Benar, Ayuna." Jawab Ilham.
"Kamu jangan pesimis, puisi kamu adalah puisi yang sangat indah aku saja tersentuh membacanya. Ini sangat bagus." Kataku.
"Terima kasih, Ayuna!" Kata Ilham.
"Tidak masalah, apa yang kamu rasakan dapat kamu ceritakan kepada aku. Kita ini sahabat, bukan?" tanyaku.
"Tentu saja, kita sahabat." jawab ilham sambil tersenyum.
"Kalau begitu, aku kembali ke tempat duduk aku dulu." Kataku.
Rafael datang ke kelas dan memberi aku sebuah gambar.
"Ini untuk kamu, Ayuna." kata Rafael sambil menaruh gambar di atas mejaku.
"Bagus sekali, gambarnya terlihat sangat cantik." Kataku.
"Tentu saja, ini seperti kamu Ayuna." kata Rafael sambil tersenyum.
"Kmau bisa saja, aku cantik. Terima kasih, Rafael!" Kataku.
"Santai saja, kalau kamu suka atau kan menggambarkan yang lebih bagus lagi." Kata Rafael.
Lalu, semua mahasiswi meminta Rafael untuk menggambarkan wajah mereka.
"Aku juga ingin digambarkan oleh kamu, Rafael." Kata mahasiswi lain.
"Tidak, maaf aku sangat sibuk." Kata Rafael.
Rafael langsung kembali ke meja dia. Rafael juga menjadi idola di kelas kami. Daffa dan Rafael membuat aku menjadi sangat sibuk. Karena semua mahasiswi meminta untuk dapat berfoto dengan mereka berdua.
"Kalian memang idola semua mahasiswi." Kataku.
"Tentu saja, aku memang tampan. Benar, bukan Ayuna?" tanya Rafael.
"Benar, karena kamu pria." Kataku.
Daffa tertawa dan langsung berbicara kepada Rafael.
"Rasakan itu." Kata Daffa.
"Apa maksud kamu, Daffa?" tanya Rafael.
"Ayuna memuji kamu karena kamu seorang pria." Kata Daffa.
"Aku juga yakin Ayuna berbicara hak yang sama terhadap kamu, Daffa." Kata Rafael.
"Tidak." kata Daffa sambil gugup.
"Benar, kalian berdua memang pria." Kataku.
"Haha.. Rasakan itu Daffa. Jangan sombong jadi orang." Kata Rafael.
"Baik, tapi aku jauh lebih baik dari kamu." Kata Daffa
"Sudah hentikan! Kalian selalu saja bertengkar saat mulai berbicara berdua." Kataku.
"Dia yang memulai, Ayuna." kata Daffa.
"Tidak salah itu, kamu yang memulai malah menyalahkan aku." Kata Rafael.
"Sudah sebentar lagi dosen datang ke kelas." Kata Vita.
"Benar, nanti kalian bisa dihukum." Kata Ilham.
"Diam cupu!" Teriak Daffa.
"Berisik sekali kamu, Ilham." Kata Rafael.
"Kalian jangan bicara seperti itu kepada Ilham. Dia berita baik tapi kalian begitu." Kataku dengan kesal.
"Maaf Ayuna, aku tidak bermaksud seperti itu." Kata Rafael.
"Benar, Ayuna." Kata Daffa.
"Jangan meminta maaf terhadap aku tapi Ilham." Kataku.
"Baik, maafkan aku Ilham." Kata Rafael.
"Aku juga, Rafael." Kata Daffa.
"Tidak apa apa." Kata Ilham.
"Kalian harus mencontoh Ilham, dia bersikap dewasa tidak seperti kalian berdua." Kataku.
"Apa? Kita harus mengikuti Ilham?" tanya Rafael.
"Kamu bercanda, bukan?" tanya Daffa.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan Ilham?" tanyaku.
"Tidak, hanya saja kami itu berbeda Ayuna." kata Daffa.
"Benar Ayuna, kita tidak dapat seperti Ilham karena dia hebat." kata Rafael.
"Justru karena hebat kalian berdua harus menirukan sikap dia." Kataku.
"Ayuna memang suka bercanda." kata Rafael sambil tertawa.
"Benar, Ayuna lucu banget." Kata Daffa.
"Apa yang lucu? Tidak ada yang lucu, aku hanya ingin kalian belajar dewasa." Kataku.
"Sudah kamu hentikan Ayuna, kamu berbicara yang tidak masuk akal." Kata Vita.
"Kamu juga berpikir seperti mereka berdua?" tanyaku.
"Jelas, Ilham itu bukan pria yang keren. Dia itu cupu. Dan Daffa sudah sangat keren, tidak mungkin dia menirukan Ilham. Jangan membuat aku tertawa, Ayuna." Kata Vita.
"Kalian keterlaluan terhadap Ilham, aku sungguh kecewa dengan sikap kalian berdua." Kataku.
"Keterlaluan apanya? Kita bicarakan hal yang benar." kata Vita.
"Sudah, terkadang kita tidak sepemikiran." Kataku.
Ilham pergi dari kelas. Lalu, aku mengejar Ilham.
"Ilham! Kenapa kamu lari?" tanyaku.
"Tidak ada apa apa, mereka benar." Kata Ilham.
"Tidak, justru mereka itu salah. Kamu berpikir begitu juga?" tanyaku.
"Benar, harusnya kamu jangan membela aku." Kata Ilham.
"Kenapa?" tanyaku.
"Justru aku yang bertanya, kenapa kamu membela aku?" tanya Ilham.
"Karena kamu teman aku, tidak mungkin aku tidak membela kamu." Kataku.
"Terima kasih, Ayuna." Kata Ilham
Isang simple at romantikong candle light dinner ang bumungad sa kanilang dalawa matapos nilang magtungo sa balcony ng kwarto ni Kaizer. Napa-iling at napa-ngiti na lamang si Lauren habang pinagmamasdan ang mga dekorasyon sa balcony. “Hindi ba’t parang napaka-competitive mo naman?” pang-aasar na puna ni Lauren dahil sa ayos ng mesa. Habang tinatahak kasi nila kanina ang daan patungo sa cabin suite ay doon niya naalala ang usapan nilang dalawa na sabay magha-hapunan ngayong araw. Hindi na siya gaanong nag-ayos dahil ang buong akala niya ay sa dining hall o kaya naman ay sa isang restaurant sa loob ng cruise ship lang ang pupuntahan nila. Kaya naman hindi niya inaasahan ang ganoong set-up. Kailan man ay hindi niya pa naranasan ang bagay na ‘yon. Sino ba naman kasi ang gustong magtangka… hindi ba? At isa pa, wala naman siyang panahon para sa ganoong bagay. Masyado siyang abala para maka-survive sa naging buhay niya. Subalit, katulad din naman siya ng ibang babae na gustong maranasan a
Dahan-dahang umupo si Kaizer sa silya habang minamasahe nito ang ulo niya. Halos lahat yata ng activities sa cruise ship ay nasubukan niya. Tuwing nakikita o nakaka-salubong siya ni Lauren ay inaaya siya nito na magliwaliw sa cruise ship. Natatapat pa na nasa paligid nila si Claudia.Hindi niya alam kung nagkataon lang ba o talagang binabantayan ng babae ang kilos niya para makahanap ito ng tyempo na kausapin siya.“Here’s your coffee, Sir.” saad ni Jason matapos ibaba sa harap ni Kaizer ang isang tasang kape. Umayos naman ng upo si Kaizer saka dahan-dahang humigop ng kape. Matapos ilapag ang tasa sa lamesa ay tumingin siya kay Jason.“Report.” maikling utos nito.“Yes, Sir.” sagot ni Jason. Kinuha niya ang tablet saka inabot iyon kay Kaizer. Tinanggap naman ito ni Kaizer at saka tumingin sa dokumento na nakalagay roon.Tumikhim muna si Jason bago nag-umpisang mag-report.“Mr. Romero was the head of purchasing department* and the one that was responsible for sourcing and purchasing ra
“I want to try rock climbing first. That would be a good warm up.”Kaizer could only tag along and let her decide. Luckily he wore casual clothes after hearing her say ‘fun activities’.They first went rock climbing. Kaizer was shocked that she’s good at that activity. She keeps up with his speed and even has a great technique.“Wow, I really enjoyed it.”“I can really see it in your face.”Lauren looks away for a moment and when she looks back at Kaizer her eyes are sparkling.“I know what we will do next.”“What?”Lauren pointed at the back of Kaizer. He turned around. “Look up.” Sinunod naman niya ang sinabi nito. Nakita niya roon ang isang mahabang water slides. “It’s the best isn’t it?” she said like a child who was excited to buy the toy she wants.Kaizer could only shake his head. Mukhang magiging mahabang araw iyon para sa kanya. Napaka-energetic ni Lauren at hindi niya alam kung
Early in the morning, Stella and Marielle were already busy. Finally, the date for the engagement party was all set. It was 2 months from now that’s why the two of them were busy finding a great venue. Galing na sila sa iba’t ibang resort. Nagka-canvas kung saan may pinaka-magandang venue para sa engagement party ng anak. Naka-ilang resort na sila ngunit wala pa rin silang magustuhan sa mga ito. Minsan lang ‘yon kaya naman gusto nila na maayos ang lahat. Mula sa venue, invitation, gamit hanggang sa araw mismo ng event. Nasa isang pastry shop sila ng mga oras na ‘yon. Matapos kasi puntahan ang pang-apat na resort ay nagpasya sila na magpahinga muna sandali.Ibinaba ng ina ni Theo ang iniinom na fruit juice. Binaling ang tingin sa ginang na nasa harap niya. “Stella, akala ko ba ay sasama sa paghahanap ng venue si Hazel? Paano natin malalaman ang gusto niya kung wala siya rito?” nagrereklamo na saad ni Marielle.Ngumiti muna si Stella bago sinagot ang tanong nito. “May inasikaso lang d
Lauren was already drunk and Kaizer didn’t know how to deal with her. After eating too many sweets, she then began drinking non-stop. Tahimik lang itong umiinom kaya naman hindi alam ni Kaizer kung ano ba ang tumatakbo sa isip ng dalaga sa mga oras na ‘yon. Hindi niya ito pinigilan dahil baka magal
In the middle of the crowd, a brown-haired and grey-eyed middle-aged man walks toward them and warmly welcomes Kaizer. “Finally, I almost thought you rejected my invitation seeing how you don’t want to attend gatherings like this.” When he saw Lauren beside Kaizer, he curiously asked, “This beautifu
Napabuntong hininga na lamang si Lauren ng makita kung anong oras na. It's almost one in the afternoon. Matapos mag-agahan kanina ay bumalik si Lauren sa kwarto niya dahil sa antok. Iidlip lang sana siya pero masyado yatang napasarap ang tulog niya. Paanong hindi hahaba ang pagtulog niya, inabot na
Nakahinga ng maluwag si Kaizer matapos magsalita si Lauren. Akala niya ay kung ano na ang nangyayari rito. Sa halip na kausapin si Lauren upang pag-usapan ang tungkol sa kompanya, inilipat ni Kaizer ang atensyon kay Jason. Tahimik naman sa tabi si Jason at naghihintay sa utos ng amo.






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
리뷰