LOGIN
Puncak Gunung Semeru...
"Hiatt!" terdengar suara teriakan keras dari atas pohon gundul. Lalu disusul seorang pemuda bert3lanjang dada melompat turun dan mendarat di atas ranting kecil yang sudah disusun rapi. Anehnya, ranting yang begitu kecil itu tak patah sama sekali setelah kedua kaki pemuda berambut gondrong sebahu dengan tubuh berotot itu mendarat disana. Plok Plok Plok! Terdengar tepuk tangan dari arah batu besar dimana seorang pria tua berpakaian lusuh duduk bersila sambil tersenyum menatap kearah pemuda tersebut. "Bagus! Bagus! Kau berhasil menguasai Ilmu meringankan tubuh secara sempurna. Dengan begitu, kau sudah layak dipanggil seorang Pendekar sejati, Jaka." kata sosok pria tua tersebut lalu tertawa terkekeh. Pemuda bernama Jaka itu tersenyum lalu melompat turun dari atas ranting dan mengambil bajunya yang tergeletak di atas batu. Dia mengibaskan pakaian putih dekil tersebut kemudian mengenakannya. Setelah itu, Jaka mendekati batu besar dimana pria tua itu duduk bersila di atasnya dengan santai. "Terimakasih Kakek Guru sudah mengajarkan ilmu ini padaku. Aku bersumpah, akan menggunakan ilmu yang selama ini aku pelajari darimu di jalan yang benar..." kata Jaka sambil membungkuk hormat. "Heleh...Tak perlu sopan seperti itu. Tak biasanya kau terlihat sopan padaku bocah Geni," kata pria tua itu lalu disusul tawanya yang terkekeh-kekeh. Jaka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kakek guru, apakah benar kabar yang aku sirap dari desa di bawah bahwa di daerah Kerajaan Sigaluh ada harta langka?" tanya Jaka sambil menatap pria tua tersebut. "Memang. Mungkin saja harta itu berjodoh denganmu anak muda. Selain itu, aku mendapat kabar kalau orang yang pernah aku kenal menghilang. Tapi itu bukan persoalan bagiku. Yang aku pikirkan sekarang adalah, di wilayah Sigaluh, ada satu kerajaan tak terlihat. Jadi kau bisa menyelidiki tempat itu tapi kau harus berhati-hati. Konon katanya, tempat itu bukanlah Kerajaan manusia. Kemungkinan itu adalah kerajaan dedemit Penunggu hutan," kata pria tua tersebut. Kakek tua itu memiliki nama Mahameru atau yang dikenal sebagai Pendekar Tangan Dewa. Sepak terjangnya di dunia persilatan sudah tak diragukan lagi. Namun karena kini dia sudah tua, Ki Mahameru yang dipanggil Ki Meru itu memilih untuk tidak lagi berkelan seperti dulu dan fokus melatih seorang murid. Jaka yang sejak kecil dirawat oleh pria tua itu sudah menganggapnya seperti kakek sendiri. Itulah sebabnya dia sangat menghargai si kakek yang meski suka bercanda tapi tetap tegas kepada muridnya. "Sekarang latihanmu sudah selesai. Kau boleh beristirahat. Besok kau akan mendapatkan latihan lagi dariku. Ini adalah satu ajian Sakti yang aku miliki dan menjadi pukulan andalanku. Yaitu Pukulan Gledek Membelah Langit." kata Ki Meru. "Gledek Membelah Langit...? Apakah itu pukulan yang mengeluarkan petir dari telapak tangan Kek?" tanya Jaka. Ki Meru tertawa kecil lalu melotot secara tiba-tiba membuat Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukan. Kalau yang itu adalah Pukulan Gledek Samber Nyawa! Itu juga ada latihannya lagi! Tapi, yang paling penting adalah ajian Gledek Membelah Langit ini lebih dulu. Karena untuk mengerjakan Pukulan Sakti lainnya, harus menggunakan ajian ini terlebih dahulu." kata Ki Meru. "Oh...jadi begitu...Aku penasaran, seperti apa pukulan yang akan kakek guru ajarkan padaku. Tapi, sepertinya aku pernah melihat kakek menggunakan Pukulan itu saat bertarung melawan ular penunggu mata air di lereng gunung sebelah barat..." kata Jaka. "Benar. Aku pernah menggunakan itu untuk melawan ular raksasa yang sisik nya sangat keras itu. Sisik ular itu menjadi keras karena lahar panas yang melapisinya hingga menjadi batu keras. Eh, tapi...bukankah waktu itu terjadi kau masih sangat kecil?" tanya Ki Meru. "Entahlah...Tapi aku merasa kakek baru saja melakukan itu beberapa tahun yang lalu..." sahut Jaka membuat Ki Meru mengusap wajahnya beberapa kali sambil berpikir. "Apa iya...? Seingatku, waktu itu kau masih sangat kecil. Bahkan kau belum bisa cebok sendiri setelah ngising..." kata Ki Meru membuat Jaka tertawa terbahak-bahak lalu menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Entah kenapa dia merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Ki Meru gurunya tersebut. "Ah, kenapa kakek membahas hal memalukan seperti itu?" batinnya dengan wajah memerah. "Sudah sana mandi mumpung masih sore! Ingat, jangan pergi ke mata air itu setelah matahari terbenam." kata Ki Meru lalu dia bangkit berdiri kemudian melompat. Lompatan Ki Mahameru memang terlihat sangat ringan. Dalam satu kali gerakan saja, tubuh pria tua tersebut sudah berada hampir sepuluh tombak jauhnya dari Jaka. "Wah, ilmu Kaki Awan milik Guru sudah sangat sempurna. Dia bisa melompat hingga sejauh itu seperti terbang..." ucap Jaka sambil tersenyum takjub. Lalu sejurus kemudian dia teringat dengan pesan gurunya kalau dirinya tidak boleh mandi di mata air yang ada di timur gubuk tempat mereka tinggal setelah matahari terbenam. Selama belasan tahun Jaka berada di puncak Semeru, tak sekalipun gurunya lupa akan hal itu. Pria tua tersebut selalu mengingatkan Jaka agar tidak mandi di mata air setelah matahari terbenam. Dan selama itu pula, Jaka menuruti peringatan dari gurunya tersebut tanpa membantah atau mempertanyakannya sekali pun. Jaka mandi di mata air yang jernih di timur tempat tinggal dirinya bersama sang guru. Setelah membersihkan tubuh, pemuda itu melangkah menuju ke gubuk berukuran sedang yang ada di bawah batu besar. Gubuk kayu itu sudah berdiri disana sejak sebelum Jaka ada di tempat tersebut. Sesampainya di depan pintu gubuk bagian depan, Jaka mencium aroma singkong bakar yang seketika itu juga membuat perutnya keroncongan. "Aku merasa lapar sekali...Huh, benar juga, sehari ini aku berlatih sangat keras agar bisa menguasai ilmu Kaki Awan milik kakek secara sempurna. Jadi wajar saja kalau aku merasa lapar," batin Jaka lalu masuk begitu saja ke dalam gubuk kayu tersebut. Begitu dia masuk, ternyata benar, di atas meja kayu kecil yang sudah reyot itu tersaji singkong bakar yang masih ngebul di atas daun jati. Jaka mengambil satu lalu meniupnya agar tak begitu panas. Kemudian dia menggigit singkong tersebut. "Huah! Oanas!" serunya sambil mengunyah dengan cepat karena saking panasnya. Ki Meru keluar dari ruang belakang dengan tergopoh-gopoh. Matanya melotot melihat Jaka yang tengah kepanasan. "Oalah, baru matang sudah kau santap saja!" umpat nya keras namun Jaka tak menggubris karena dia merasakan lidahnya kelu. Ki Meru mengambil satu gayung air di belakang kemudian menyodorkannya kepada Jaka. "Minum ini, biar cepat sembuh!" ucapnya. Jaka segera menerima air tersebut kemudian meneguknya hingga habis. "Haaah! selamat...!" seru Jaka membuat Ki Meru menepuk kepala pemuda itu. "Lain kali makan dengan tenang dan jangan asal ambil." ucap pria tua tersebut yang disambut dengan senyuman bersalah Jaka. ***Ratu Lu Che berteriak kesakitan. Sesaat tadi setelah dia tertusuk pedang Chang Yun, tiba-tiba dia merasa tubuhnya seperti tersengat api yang sangat panas hingga tubuhnya terpental. Itu adalah ledakan kekuatan petir milik Chang Yun. Para pengikut Ratu Lu Che langsung menyerang kearah Chang Yun begitu melihat ketua mereka terluka. Cakar besi yang menggantung di pinggang segera mereka pakai untuk mengeroyok Chang Yun. "Jangan gegabah!" teriak Ratu Lu Che, namun para pengikutnya terlanjur menyerang. Chang Yun tidak gentar menghadapi delapan orang sekaligus. Dengan ajian Gledek Sambar Nyawa yang dia pelajari dari Jaka Geni, dengan lincah Chang Yun menangkis dan menyerang. Shin tak menyangka Chang Yun adalah seorang pendekar berkelas. Bahkan ketua di Serikat Teratai Biru berhasil dia lukai. "Lu Che, kau terlalu ceroboh." ucap Shin dalam hati. Dia lebih serius mengamati Chang Yun bertarung daripada melihat ke arah Jak Geni. Itu karena dia penasaran dengan kekuatan yang baru saja gadis it
Jaka Geni dan Chang Yun berhenti di sebuah kuil tua. Bangunan kuil itu seperti sudah lama sekali tidak di gunakan. Melihat dari patung-patung di sana, terlihat bahwa itu kuil Buddha. "Bagaimana menurut mu Chang Yun, ada kuil ditengah hutan." celetuk Jaka. "Tidak masalah kak, sepertinya ini kuil yang di bangun oleh pejabat sebelumnya, hanya saja melihat keadaan kuil ini seperti sudah puluhan tahun di tinggalkan." sahut Chang Yun. Mereka mendorong pintu kayu besar yang langsung menuju halaman kuil. Halaman itu terlihat cukup luas, banyak rumput tinggi dan sampah daun kering menumpuk. Jaka melangkahkan kaki pertama kali ke halaman tersebut. Chang Yun menyusul. Mereka melangkah dengan waspada. Saat kaki Jaka melangkah ke arah dalam, dia mendengar suara berdesing dari kejauhan. "Chang Yun! merunduk!" teriak Jaka Geni. Gadis itu seketika merunduk. Sebuah pisau melesat di atas kepalanya lalu menancap di tembok. Mereka berdua menoleh ke arah depan mereka. Tak di sangka, Kun Long dan R
Ratu Lu Che berkelebat cepat menuju tempat persembunyian Jaka Geni dan Chang Yun. Saat dia bersama para bawahannya hampir sampai di dekat sungai, mata wanita itu terbelalak melihat beberapa mayat yang terkapar. "Kita terlambat! cepat kejar mereka!" seru Ratu Lu Che kepada para wanita bawahannya. Kun Long yang saat itu berada di seberang sungai menemukan dua mayat yang tergeletak tak jauh dari gubuk di atas pohon. Di periksa nya dua mayat yang tewas dengan lubang di kepala. Dia memperhitungkan jarak dua mayat itu dengan gubuk yang ada di atas pohon. "Jaraknya sudah cukup untuk mengintai, tapi... dalam gelapnya malam, bagaimana dia bisa melempar dengan tepat ke arah dua orang bodoh ini? Apakah dia turun lebih dulu? Akan tetapi jika dia turun, dua orang ini bisa kabur terlebih dulu. Dari keadaan tewas mereka yang saling bertumpu kan itu artinya mereka tewas di tempat tanpa perlawanan." batin Kun Long. Dia angkat golok nya ke atas. Dari ujung golok itu keluar cahaya hijau berkilat.
Tiga orang itu saling tatap saat seorang mata-mata yang mereka kirim datang menghadap. Puluhan pendekar langsung tertuju kepada seorang Pendekar berpakaian putih yang baru saja datang. "Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" tanya Ratu Lu Che. "Kami menemukannya, saat ini Huang Li tengah mengawasi mereka." ucap lelaki yang baru saja datang tersebut. Kun Long menyeringai lebar. "Baiklah, apakah kita akan berangkat sekarang?" tanyanya meminta pendapat. Shin si Iblis Putih diam tak menjawab. Dia tak bersuara sedikit pun. "Kita akan serang mereka bersama. Melihat kematian Sio Tong, pendekar asing bernama Jaka Geni itu bukanlah orang biasa. Bahkan sampai membuat Kaisar mengutus Yang Sian Kan putra Yang Jie. Itu pertanda orang asing ini pendekar yang berbahaya." ucap Ratu Lu Che menanggapi ucapan Kun Long. Shin tersenyum sinis. Mata merahnya sedikit menyala. Ratu Lu Che dan Kun Long saling tatap melihat senyuman Shin yang menurut mereka mempunyai makna tersendiri. "Apa kamu punya pend
Pendekar berpakaian putih itu bergetar mendengar ucapan Chang Yun yang mengandung ancaman untuknya. Di tambah pedangnya yang telah buntung membuat keberaniannya runtuh. Chang Yun mendekati orang tersebut. Dalam hatinya dia ingin tertawa saat melihat lelaki itu terkencing kencing melihat dia melangkah semakin dekat. "Siapa kalian!?" tanya Chang Yun menghardik. Wajah orang tersebut pucat seketika mendengar hardikan sangat gadis. "Kami... kami hanyalah pendekar biasa dari kota Yao Chang. Kami di suruh orang Serikat Teratai Biru untuk mencari kalian... kami tidak ada maksud menyerang atau berbuat jahat! kami hanya memata-matai kalian, itu saja!" ucap lelaki itu terbata-bata. Chang Yun menatap tajam ke arah lelaki tersebut. Pedang nya di acungkan ke kening lelaki berpakaian putih itu. Senyum kecil menyeruak di bibir gadis itu. Melihat senyum manis Chang Yun, lelaki itu pun membalas senyuman si gadis. Dan ternyata itu adalah senyuman terakhirnya sebelum mata pedang Chang Yun yang tela
Mata Jaka Geni terbuka. Telinganya yang sudah terlatih mendengar satu gerakan. Dia menoleh ke arah Chang Yun yang masih terlelap. Jaka menutup tubuh Chang Yun yang terbuka. Kemudian dia memakai pakaiannya. "Apakah orang Serikat Teratai Biru lagi? cepat sekali mereka melacak keberadaan ku," batin Jaka Geni. Perlahan Jaka menggeser tubuhnya dan menuju ke arah pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Dengan tanpa suara Jaka membuka pintu tersebut. Kepalanya nongol untuk melihat ke bawah. Matanya berkilat hijau saat dia merapal ilmu Segoro Gaib. Pemuda itu tersenyum. Dia melihat ada beberapa orang mendekam di semak yang ada di seberang sungai. Dan ada lagi dua orang lainnya yang sudah berada tak jauh dari pohon dimana gubuknya berada. "Sepertinya kalian mencari mati datang ke sini, aku akan menuntun kalian mereka menemui pencabut nyawa," ucap Jaka dalam hati. Jaka mengambil dua baru kecil yang dia bawa ke atas. Biasanya Jaka melempar burung di pagi hari dari atas pohon itu. Tapi kali i