Patih Sela Amarta membuka kain putih yang berisi denah gambar kerajaan Sigaluh. Sang patih melingkari posisi barisan bertahan yang berada di tengah. Lalu dia mengarahkan garis dari Gerbang Barat ke arah gerbang selatan, dan dari barisan bertahan ke arah selatan juga. Lalu memberi garis kepada gerbang Utara ke arah Timur. "Nanti pasukan Jaka akan bergerak membantu perebutan Gerbang Selatan. Sementara sisa Pasukan Bara Yuda bersama pasukan barisan bertahan akan memecah pasukan musuh yang di pimpin Raksa Panjalu. Dan Pasukan Satya Ning Jagat akan memecah kelompok pasukan musuh di Gerbang Timur dengan ribuan pasukan berkuda yang sudah di siapkan. Mata-mata kita menangkap bahwa pasukan Lawe Segara akan menyerang langsung ke barisan pertahanan kerajaan. Ini memudahkan pasukan Satya Ning Jagat untuk bergerak. Sementara kita yang berada di barisan bertahan akan gunakan tong bahan bakar untuk memperlambat gerakan musuh dari arah timur." terang Patih Sela Amarta memberikan ara
Kuda itu berlari dengan kencang. Gerbang utara telah terlihat didepan mata. Nyai Laras memacu kudanya lebih cepat lagi. Hingga akhirnya dia sampai di pintu gerbang besar itu. Sesampainya di sana dia melihat asap tebal membubung di langit. Bau sangit menyeruak membuatnya tidak nyaman. Bau sangit itu berasal dari tubuh ribuan mayat yang di bakar di tembok sebelah luar. Bau darah masih terasa anyir menusuk hidung. Nyai Laras benar-benar tidak nyaman dengan aroma tidak mengenakan itu. Di pintu gerbang seorang prajurit menyambut kedatangannya. Pintu segera di buka lalu di tutup kembali. Sesampainya di dalam, Nyai Laras melihat banyak sekali tenda dan peralatan perang. Ribuan kuda berjajar rapi di bawah tembok. Nyai Laras turun dari kudanya dan membiarkan prajurit yang membawanya. Nyai Sari dan Anggita melambaikan tangan ke arah nya. "Bagaimana dengan pasukan pengejar itu Laras?" tanya Nyai Sari setelah Nyai Laras berada di hadapannya. Sen
Rombongan berkuda itu berhenti tak jauh dari Gerbang Timur yang telah di kuasai oleh Panglima Karna. Mereka melihat perkemahan yang di didirikan oleh prajurit pemberontak. Ke enam orang itu turun dari atas kudanya. "Gerbang utama telah di kuasai. Kita harus lewat mana Laras?" tanya Nyai Sari dengan suara berbisik. "Kita pantau lebih dulu. Hei prajurit, sini." panggil Nyai Laras kepada dua prajurit yang bersama mereka sejak turun gunung Sumbing. Kedua prajurit itu mendekat. "Ada apa nyai?" tanya salah satunya. "Apakah kalian berani berjalan ke gerbang yang lain? Jika ada gerbang yang masih dikuasai Kerajaan, kalian datang kesini dan kabari kami. Kami akan menunggu disini. Kalau bergerak ramai-ramai bisa terlihat." ucap Nyai Laras kepada dua prajurit itu. Sesaat dua lelaki itu saling tetap. "Baiklah, aku akan ke sebelah selatan dan temanku ke sebelah utara. Secepatnya kami akan lapor kesini jika masih ada gerba
Pertarungan masih terjadi antara Iblis Cantik dan Raden Mandala. Beberapa kali serangan Iblis Cantik mendarat di tubuh pemuda berkumis tipis mengenakan blangkon itu. Sedangkan Gondo Sula malah sudah mendapat korban untuk pedang Barong Ireng miliknya. Dua orang meregang nyawa dalam keadaan terputus kepalanya. Tak bisa mendesak lawan sedikitpun membuat Raden Mandala sangat marah. Dia menyerang membabi buta dengan liar. Justru kali ini dia membuat kesalahan dengan kurangnya perhitungan. Saat tubuhnya melesat dan menebas ke arah Iblis Cantik, dengan tenang wanita itu putar tubuhnya menghindari serangan Kuku Pancanaka itu. Dan dengan mudah menyarangkan pukulan dengan tenaga dalam tinggi ke punggung sang Raden. Terkena pukulan kuat membuat tubuh Raden Mandala terdorong ke arah Gondo Sula. Dengan sekali tebas, kepala Raden Mandala terlepas dari tubuhnya. Pedang Barong Ireng berlumuran darah. Melihat tuannya tewas, membuat Arya Loka berang. Denga
Kita kembali ke waktu Raden Mandala si tugaskan untuk meminta keris Batu Raden milik Pangeran Slamet yang di bawa Sekar Wangi atau Iblis Cantik. Setelah meninggalkan istana Sigaluh, Raden Mandala bersama sepuluh pendekar pilihan bergerak cepat menggunakan kuda menuju kawasan hutan Larangan. Menurut kabar mata-mata, Iblis Cantik terakhir kali terlihat berada di sekitar hutan dimana Begal Edan menghadang Jaka Geni, Ratu Ambarwati dan Putri Maharani. Di hutan itu pula Ratu Ambarwati di sekap dalam goa oleh Topeng Mas. Setelah perjalanan satu hari penuh Raden Mandala berhenti di sebuah kedai kecil di pinggiran kampung untuk beristirahat. Dia turun dari kudanya lalu berjalan masuk ke dalam kedai di ikuti para pendekar. Dua pendekar berjaga di pintu kedai, sedangkan dua lagi berkeliling sekitar kedai untuk memastikan keamanan daerah tersebut. Enam Pendekar lainnya masuk ke dalam kedai kecil. Melihat orang berpakaian mewah, pemilik kedai da
Serangan Bayan Taka sangat cepat saat tepat dihadapan Jaka Geni. Tebasan pedangnya penuh dengan tenaga dalam. Itu menunjukan betapa murkanya Bayan Taka terhadap Jaka Geni. Namun Jaka Geni dengan mudah mampu menangkis semua serangan. Bahkan sesekali kakinya mengait kaki orang tersebut hingga beberapa kali Bayan Taka terjatuh. Semakin dia marah dan lepas kendali, semakin mudah Jaka mempermainkan orang tua itu. Gerakan Bayan Taka semakin liar dan tidak beraturan. Dia benar-benar kehilangan kendali karena amarah. Jaka tak ingin membuang waktu terlalu lama. Setelah di rasa puas mempermainkan orang tua tersebut, dengan satu tebasan kuat, pedang Guntur Saketi telah membelah leher Bayan Taka dengan sangat cepat. Bahkan Bayan Taka tak sempat menangkis. Orang tua yang dulunya adalah orang kepercayaan Raja itu terkapar bersimbah darah. Menambah genangan darah yang sudah berceceran dimana-mana. Bayan Taka pun tewas di tangan Jaka Geni. Para prajurit