Share

3

Author: princessa
last update publish date: 2023-06-06 09:15:40

"Ceraikan aku." Kania berujar dengan tegas setelah mendengar penuturan Cakra bahwa ia sudah berpacaran dengan Della selama setahun. Ingatannya akan rasa sakit kala ia keguguran sementara suaminya bersenang senang dengan wanita lain membulatkan tekadnya untuk berpisah. Lagipula wanita mana yang rela dimadu. Perpisahan satu satunya jalan yang terbaik untuk dirinya.

Cakra menghampiri Kania yang duduk di sisi ranjang. "Nia, maafkan mas. Mas ga bisa menceraikanmu. Mas sayang sama kamu. Tapi kamu harus ngerti, gimanapun mas harus tanghung jawab sama Della." ucapan lembut Cakra tak membuat Kania tersentuh. "Harusnya mas berpikir seribu kali sebelum mas berselingkuh. Mas sudah menodai pernikahan kita. Mas tega mengkhianati aku. Ngga mas, aku ga bisa. Aku tetap ingin bercerai."

Cakra mulai memutar otak mencari cara supaya Kania mau memaafkan dirinya. Dia tak bisa bercerai dengan Kania. Seluruh aset dan harta yang ada, semuanya atas nama Kania. Ya, wanita itu begitu pintar sehingga saat awal pernikahan mereka, ia tak diberi celah sedikit pun untuk menguasai harta peninggalan orangtua Kania. Apalagi perusahaan tempatnya bekerja, mayoritas saham adalah atas nama istrinya. Bisa bisa ia didepak dari perusahaan bahkan dari rumah mereka saat ini. Ia bakal menjadi gembel kalo seperti ini caranya.

"Nia, tolong pikirkan lagi. Setidaknya pikirkan lima tahun kebersamaan kita. Ini ujian pernikahan, kita pasti bisa melewati semua ini. Mas mohon, setidaknya pikirkan dengan matang selama seminggu. Setelah itu baru kita bicarakan lagi." Kania menimang apa yang Cakra katakan. Namun tekadnya terlampau kuat. Untuk apa lagi dipikirkan, semua sudah jelas. Apa yang Cakra lakukan benar-benar keterlaluan. Baginya pengkhianatan yang suaminya lakukan sudah menodai janji suci mereka.

"Tidak. Mau seminggu ataupun sehari, keputusanku sudah bulat. Aku ingin bercerai. Sebaiknya kau bawa wanita murahan itu pergi dari rumahku dan bawa pula semua barang-barang milikmu keluar dari rumah ini." Kania sudah tak sanggup lagi melihat wajah mereka. Tak peduli jika Cakra menganggapnya wanita jahat, namun rumah ini miliknya. Rumah yang diwariskan orangtuanya untuk dirinya. Kania tak sudi jika rumah yang berharga ini ditempati dua orang penzina.

Rahang Cakra mengeras mendengar kata-kata Kania. Sorot matanya memancarkan amarah. Ia merasa ucapan Kania merupakan penghinaan baginya.

Plak.

Dengan penuh emosi Cakra menampar Kania. Hal yang belum pernah sekalipun ia lakukan. Karena memang selama ini Kania tak pernah sekalipun berlaku ataupun berkata yang menyakiti hatinya. Namun kali ini semua berubah. Kania terkejut bukan main. Tak hanya karena kuatnya tamparan suaminya, namun juga tindakan kasar yang dilakukan suaminya ini merupakan yang pertama.

"Mas..." Suaranya bergetar, airmatanya menetes membasahi pipi.

"Maafkan mas, tapi apa yang barusan kamu ucapkan benar-benar keterlaluan. Sepertinya lebih baik aku memberimu waktu agar kau berpikir ulang atas apa yang kau ucapkan barusan." Cakra beranjak keluar sambil mencabut kunci yang tergantung di sisi dalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya dari luar. Kania berlari mengejar Cakra namun ia terlambat. Kania menggedor gedor pintu meminta Cakra membuka pintu kamarnya.

"Mas!! Buka pintunya!! Mas Cakra!!!"

========

Kania terduduk lemas dibalik pintu. Sejak tadi malam ia berusaha meminta Cakra membuka pintu namun suaminya itu tak menggubrisnya. Kania hanya bisa menangis tersedu tak menyangka suaminya akan berbuat seperti ini. Perut Kania bersuara minta diisi, sejak kemarin ia belum makan apa apa. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Kania berharap Cakra akan membuka pintu karena sebentar lagi ia harus berangkat kerja. Baju kerja milik Cakra masih di dalam kamar, berarti Cakra akan masuk ke kamar sebentar lagi.

Benar saja, suara kunci terdengar dari balik pintu. Kania segera bangkit dan menunggu pintu dibuka. Tak lama wajah suaminya terlihat didepan pintu. Cakra yang melihat wajah istrinya begitu membuka pintu langsung memeluk Kania. "Maafkan mas, Nia. Maaf. Entah apa yang merasuki pikiran mas sampai berbuat sejauh ini." Ucapnyapenuh sesal. Mendengar hal itu, Kania yang baru saja akan memaki Cakra, luluh akan permintaan maaf suaminya itu. "Kamu pasti lapar. Ayo, kita sarapan dulu. Mas sudah menyiapkan makanan untukmu." Cakra membimbing Kania menuju meja makan. Diatas meja tersaji dua piring nasi goreng lengkap dengan segelas jus jeruk kesukaannya. Kania mengedarkan pandangannya mencari wajah wanita selingkuhan suaminya, namun tampaknya wanita itu sudah pergi karena ia tak melihat kehadirannya.

"Ayo makan, kau pasti lapar dari kemarin belum makan." Cakra menyantap nasi goreng yang berada dihadapannya. Nasi goreng buatan bi Imas, asisten rumah tangga mereka. Kania yang memang sejak tadi sudah kelaparan, ikut menyantap makanan yang sama dengan Cakra. Ia pikir setidaknya ia harus mengisi perut sebelum membahas masalah perceraian. Sambil sesekali meminum jus jeruk, Kania makan dengan lahap. Cakra yang melihat pemandangan didepannya tak berkata apa-apa. Ia tak ingin mengganggu acara sarapan paginya dengan pertengkaran.

Selesai menghabiskan sarapan, Kania tiba-tiba saja merasakan pening di kepalanya. Kepalanya terasa berputar tujuh keliling. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Apa karena semalaman tak tidur dan hanya menangis? Apa karena perutnya kosong sejak kemarin. Kania berusaha bangun dari kursi sebelum akhirnya terjatuh dan tergeletak didepan meja makan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   EPILOG - KESEMPATAN KEDUA

    Lima tahun telah berlalu sejak Kania mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya.Rumah yang dahulu terasa seperti penjara kini dipenuhi suara tawa.Pagi itu, Kania berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman. Seorang anak perempuan kecil berlari mengejar kupu-kupu dengan rambut yang dikuncir dua. Sesekali terdengar suara tawa Cakra yang berusaha menangkap putri mereka sebelum gadis kecil itu berlari terlalu jauh."Mama! Lihat!"Kania tersenyum."Pelan-pelan, Sayang."Anak itu mengangkat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangannya, lalu tertawa bahagia sebelum kupu-kupu tersebut kembali terbang.Kania memejamkan mata sejenak.Pemandangan sederhana itu seharusnya terasa biasa.Namun bagi Kania, itu adalah keajaiban.Dahulu ia pernah berdiri di tempat yang sama dengan hati yang hancur. Pernah menangis seorang diri karena kehilangan anaknya. Pernah berharap kematian segera datang karena ia tidak lagi sanggup menjalani hidup.Kini semuanya terasa begitu jauh."Nia."Suara Cakra

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   32

    Kebenaran terbesar akhirnya terbuka.Cakra secara tidak sengaja menemukan bukti bahwa ayah Della pernah mencoba mendekati Kania dengan cara yang tidak pantas.Ia langsung menghampiri Kania."Nia."Kania menatapnya."Apa?""Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Kania terdiam."Karena aku tahu Mas tidak akan percaya."Cakra menunduk."Aku akan percaya."Kania tersenyum pahit."Dalam kehidupan yang dulu, aku juga pernah berharap begitu."Cakra mengangkat wajah."Apa?"Kania terdiam.Ia hampir mengatakan semuanya.Tentang kehidupan pertama.Tentang kematiannya.Tentang bagaimana ia kembali.Namun ia belum siap.Cakra hanya bisa melihat air mata Kania."Aku minta maaf."Kania menggeleng."Jangan minta maaf karena sesuatu yang belum kau lakukan."Cakra menatapnya.Kalimat itu membuatnya semakin sadar bahwa Kania menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.Waktu berlalu.Kehamilan Della semakin besar.Akhirnya hari kelahiran tiba.Della melahirkan seorang bayi laki-laki.Cakra datang ke rumah

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   31

    Malam itu Della meminta bicara dengan Cakra. Kania mengetahui percakapan itu akan terjadi. Ia tidak mendengarkan dari balik pintu. Tidak perlu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Della. Beberapa saat kemudian Cakra keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius."Nia."Kania menoleh."Ada apa?""Della bilang sesuatu."Kania diam.Cakra menarik napas."Dia hamil."Kania menatapnya.Dalam kehidupan pertama, kabar itu membuat dunianya runtuh.Sekarang?Kania hanya tersenyum."Selamat."Cakra terdiam."Kau tidak marah?""Kenapa aku harus marah?""Nia...""Kita bisa melakukan pemeriksaan kalau memang diperlukan."Cakra menatapnya."Kau percaya padaku?"Kania tersenyum tipis."Aku percaya kebenaran akan muncul."Kemudian ia pergi.Cakra masih berdiri di tempatnya.Ia tidak mengerti.Dahulu Kania akan menangis.Sekarang perempuan itu justru tenang.Dan untuk pertama kalinya, Cakra merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari sedang menjauh darinya.Kania tidak berniat langsung

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   30

    Gelap.Begitu gelap hingga Kania tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah benar-benar mati.Tubuhnya terasa ringan.Tidak ada rasa sakit.Tidak ada suara mesin rumah sakit.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada suara Cakra.Hanya kesunyian.Kemudian sebuah tangisan bayi terdengar.Tangisan yang begitu kecil.Begitu jauh.Kania berusaha meraihnya."Anakku..."Tangannya bergerak, tetapi tidak menemukan apa pun."Maafkan Mama..."Air mata mengalir dari sudut matanya."Maaf..."Kemudian semuanya berubah menjadi cahaya.Kania tersentak bangun.Napasnya memburu.Ia langsung memegang dadanya.Matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan.Langit-langit putih.Tirai berwarna krem.Tempat tidur besar.Aroma parfum yang sangat ia kenal.Kania terdiam.Ini kamarnya.Kamar yang sudah lama tidak pernah ia lihat.Kania menunduk.Tangannya bergerak menyentuh perut.Datar.Tidak ada luka.Tidak ada darah.Tidak ada rasa sakit.Kania langsung bangkit dari tempat tidur.Ia berjalan menuju cermi

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   29

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Kan."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   28

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Nia."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status