Share

4

Author: princessa
last update publish date: 2023-06-06 09:15:43

Della merasa bosan berada didalam kamar yang ukurannya tak lebih besar dari kamar kos miliknya. Ruangan yang hanya terdiri dari ranjang berukuran queen size dengan dua buah nakas disisinya serta sebuah lemari dua pintu itu memang sedianya hanyalah sebuah kamar tamu yang berada dilantai dua didalam rumah mewah ini. Sambil mengoyang-goyangkan kakinya, ia duduk di pinggir ranjang memainkan ponsel keluaran terbaru miliknya yang baru saja dibelikan oleh Cakra seminggu yang lalu. Meski matanya tertuju pada ponsel pintar itu namun dalam hatinya ia menggerutu kesal menunggu Cakra yang tak kunjung datang. Beruntung masa masa morning sickness yang biasa diderita ibu hamil sudah ia lewati. Setidaknya ia tak kesulitan melewati pagi ini seorang diri.Sepuluh menit berlalu, suara derit pintu membuatnya mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Maaf ya sayang, kamu lama nunggu ya?" Lelaki berbadan tegap dengan paras rupawan itu menghampirinya dan memeluknya sambil bergelut manja di bahunya. "Mas Cakra ngapain aja sih, aku bosan tau sendirian disini." keluh Della. Paham suasana hati kekasih gelapnya itu sedang merajuk, Cakra merogoh kantong celananya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.

"Nih supaya kamu ga ngambek terus, mas punya sesuatu buat kamu." Della yang semula bermuka masam seketika menjadi senang kala Cakra menunjukan sebuah cincin berlian yang indah yang ia yakin harganya mahal. "Serius mas ini buat Della?" Berlagak tak percaya namun tetap mengambil cincin dari tangan Cakra, Della terkesima dengan kecantikan cincin berlian itu. Cincin yang tak pernah ia miliki seumur hidupnya. "Iya dong sayang, mas serius ngasih ini buat kamu. Masa mas bercanda. Nah sekarang kamu pakai cincin itu dan tunggu di bawah. Mas mau membereskan semuanya sebelum Imas balik dari pasar." Ucap Cakra. Della sudah paham maksud dari perkataan Cakra. Tanpa disuruh dua kali, ia mengambil tas dan ponselnya lalu menuju ke lantai dasar. Sedangkan Cakra menyusul lima menit kemudian.

Turun dari tangga, Della disuguhkan pemandangan seorang wanita tergeletak didepan meja makan. 'Sekarang aku yang menjadi nyonya dirumah ini dan bersiaplah menghadapi neraka yang akan menjadi tempat tinggalmu' batin Della sambil melangkahi Kania, sang pemilik rumah.

Imas hanya bisa tertunduk lemas kala majikannya mengancam dirinya. Satu hal yang paling ia takuti didunia ini adalah kehilangan anak lelaki satu-satunya. Ia sudah bekerja untuk Tuan Cakra dan Nyonya Kania sejak lima tahun lalu. Selama ini tak pernah ada masalah dalam pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga, pun dengan kedua majikannya itu. Bahkan Kania sebagai nyonya di rumah itu selalu berlaku baik padanya bahkan sudah menolong dirinya saat anaknya yang baru berusia tujuh tahun tiba-tiba didiagnosis menderita sakit kanker otak. Kania tanpa pamrih membiayai seluruh pengobatan anaknya.

Namun sekarang dihadapannya, tuan Cakra mengancam akan meminta Imas mengembalikan seluruh biaya yang telah dikeluarkan istrinya itu jika ia tak menuruti semua perintah tuan Cakra. Sesungguhnya ia ingin sekali menolak karena ia berhutang budi pada nyonya Kania, namun dari mana ia bisa mendapatkan uang sebesar tiga ratus juta. Bahkan jika ia bekerja dua puluh empat jam setiap harinya di berbagai tempat, ia tetap tak akan mampu melunasi hutang-hutangnya.

Dan tak hanya itu saja, bahkan tuan Cakra mengancam akan membuat Yogi, mantan suaminya yang merupakan seorang narapidana dan seorang pecandu narkoba itu, mengambil anak mereka. Bagaimana bisa ia mengalahkan kekuasaan tuan Cakra yang begitu besar jika ia menolak perintah dan menolong nyonya Kania.

Imas kini hanya bisa merasa bersalah pada nyonya Kania. Ia juga merasa kasian bagaimana bisa nasib buruk menimpa orang sebaik nyonya Kania. Namun ia hanyalah orang kecil, seorang. rakyat jelata yang miskin. Ia tak bisa berbuat banyak selain tetap bekerja dan mungkin ia bisa memberi bantuan sedikit bagi nyonya Kania.

Sementara itu, setelah beres membungkam Imas Cakra menghampiri Della yang sedang sarapan. "Sayang, habis ini mas berangkat kerja ya. Mulai sekarang kamu santai dirumah aja, ga usah kerja lagi. Kamu fokus jagain si jabang bayi aja ya." Cakra mengelus lembut rambut Della yang di cat berwarna kemerahan. "Mas yakin sudah beresin semuanya? Terus masalah pernikahan kita gimana mas? Sebentar lagi perut aku bakalan keliatan dan orang tuaku pasti akan tahu." Sebenarnya orang tua Della sudah tahu bahwa ia sedang hamil. Bahkan mereka sudah tahu niat busuk Della sejak awal. Kehidupan mereka yang miskin membuat mereka menghalalkan segala cara supaya anak perempuan tertua dikeluarga mereka bisa menjerat seorang pria kaya raya demi menaikkan derajat mereka.

"Kamu tenang aja, aku bakal urus semuanya. minggu depan bisa dipastikan kamu sudah menyandang gelar nyonya Cakra Wibisono." Mendengar penuturan Cakra yang penuh keyakinan, Della pun tersenyum sumringah terlebih ketika mendengar gelar nyonya Cakra Wibisono yang akan disematkan untuk dirinya. Bye bye kemiskinan batin Della.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   EPILOG - KESEMPATAN KEDUA

    Lima tahun telah berlalu sejak Kania mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya.Rumah yang dahulu terasa seperti penjara kini dipenuhi suara tawa.Pagi itu, Kania berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman. Seorang anak perempuan kecil berlari mengejar kupu-kupu dengan rambut yang dikuncir dua. Sesekali terdengar suara tawa Cakra yang berusaha menangkap putri mereka sebelum gadis kecil itu berlari terlalu jauh."Mama! Lihat!"Kania tersenyum."Pelan-pelan, Sayang."Anak itu mengangkat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangannya, lalu tertawa bahagia sebelum kupu-kupu tersebut kembali terbang.Kania memejamkan mata sejenak.Pemandangan sederhana itu seharusnya terasa biasa.Namun bagi Kania, itu adalah keajaiban.Dahulu ia pernah berdiri di tempat yang sama dengan hati yang hancur. Pernah menangis seorang diri karena kehilangan anaknya. Pernah berharap kematian segera datang karena ia tidak lagi sanggup menjalani hidup.Kini semuanya terasa begitu jauh."Nia."Suara Cakra

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   32

    Kebenaran terbesar akhirnya terbuka.Cakra secara tidak sengaja menemukan bukti bahwa ayah Della pernah mencoba mendekati Kania dengan cara yang tidak pantas.Ia langsung menghampiri Kania."Nia."Kania menatapnya."Apa?""Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Kania terdiam."Karena aku tahu Mas tidak akan percaya."Cakra menunduk."Aku akan percaya."Kania tersenyum pahit."Dalam kehidupan yang dulu, aku juga pernah berharap begitu."Cakra mengangkat wajah."Apa?"Kania terdiam.Ia hampir mengatakan semuanya.Tentang kehidupan pertama.Tentang kematiannya.Tentang bagaimana ia kembali.Namun ia belum siap.Cakra hanya bisa melihat air mata Kania."Aku minta maaf."Kania menggeleng."Jangan minta maaf karena sesuatu yang belum kau lakukan."Cakra menatapnya.Kalimat itu membuatnya semakin sadar bahwa Kania menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.Waktu berlalu.Kehamilan Della semakin besar.Akhirnya hari kelahiran tiba.Della melahirkan seorang bayi laki-laki.Cakra datang ke rumah

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   31

    Malam itu Della meminta bicara dengan Cakra. Kania mengetahui percakapan itu akan terjadi. Ia tidak mendengarkan dari balik pintu. Tidak perlu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Della. Beberapa saat kemudian Cakra keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius."Nia."Kania menoleh."Ada apa?""Della bilang sesuatu."Kania diam.Cakra menarik napas."Dia hamil."Kania menatapnya.Dalam kehidupan pertama, kabar itu membuat dunianya runtuh.Sekarang?Kania hanya tersenyum."Selamat."Cakra terdiam."Kau tidak marah?""Kenapa aku harus marah?""Nia...""Kita bisa melakukan pemeriksaan kalau memang diperlukan."Cakra menatapnya."Kau percaya padaku?"Kania tersenyum tipis."Aku percaya kebenaran akan muncul."Kemudian ia pergi.Cakra masih berdiri di tempatnya.Ia tidak mengerti.Dahulu Kania akan menangis.Sekarang perempuan itu justru tenang.Dan untuk pertama kalinya, Cakra merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari sedang menjauh darinya.Kania tidak berniat langsung

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   30

    Gelap.Begitu gelap hingga Kania tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah benar-benar mati.Tubuhnya terasa ringan.Tidak ada rasa sakit.Tidak ada suara mesin rumah sakit.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada suara Cakra.Hanya kesunyian.Kemudian sebuah tangisan bayi terdengar.Tangisan yang begitu kecil.Begitu jauh.Kania berusaha meraihnya."Anakku..."Tangannya bergerak, tetapi tidak menemukan apa pun."Maafkan Mama..."Air mata mengalir dari sudut matanya."Maaf..."Kemudian semuanya berubah menjadi cahaya.Kania tersentak bangun.Napasnya memburu.Ia langsung memegang dadanya.Matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan.Langit-langit putih.Tirai berwarna krem.Tempat tidur besar.Aroma parfum yang sangat ia kenal.Kania terdiam.Ini kamarnya.Kamar yang sudah lama tidak pernah ia lihat.Kania menunduk.Tangannya bergerak menyentuh perut.Datar.Tidak ada luka.Tidak ada darah.Tidak ada rasa sakit.Kania langsung bangkit dari tempat tidur.Ia berjalan menuju cermi

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   29

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Kan."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   28

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Nia."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status