LOGINSemoga suka dengan 4 bab kita hari ini, MyRe. Jumpa besok lagi yah ... IG:@deasta18
"Oh." Kaina ber-oh-ria, menatap pria itu dengan wajah cukup kaku dan kaget secara bersamaan. Di sisi lain, pria itu dengan cukup lebar sambil berjalan cepat untuk mendekat pada Kaina. Pria itu adalah salah satu teman Kaina saat menempuh pendidikan S2. Wajahnya memang campuran, akan tetapi setahu Kaina dia tidak tinggal di negara ini. "Akhirnya setelah sekian lama aku bertemu denganmu, Kai." Pria itu senyum manis sambil menatap penuh maksud pada Kaina, "kau samakin cantik," lanjutnya. Vernan Grenard—pria tampan dengan wajah blasteran yang tingginya tak terlalu jauh dari Kaina. Awalnya Kaina dan Vernan cukup dekat, itu karena Vernan bisa berbahasa tanah air dan selalu pamer keahlian berbahasanya pada Kaina. Mereka saling membantu dan cukup sering belajar bersama, tapi tidak pernah berdua—selalu ada teman yang lain untuk ikut belajar bersama. Namun, saat mereka akan lulus, pria ini mengungkapkan perasaan pada Kaina melalui sebuah pesan. Kaina menolak lembut dan baik-baik. Namun, pria
"Lagi-lagi kau pura-pura tidak mengenaliku, Hum?" Kaina berhenti melangkah, dia memutar badan—menghadap pada sosok pria yang saat ini sedang menatapnya dengan ekspresi wajah dingin dan sorot mata tajam. "Oh, hai, Kak," sapa Kaina santai, senyum tipis dan ringan. Sebisa mungkin dia menjaga gestur tubuh agar tidak memperlihatkan kegugupan sedikitpun. Elzeren melepas pelukan Freza di lengannya. Dia memberi isyarat supaya Freza, Rozen, dan yang lainnya lebih dulu pergi. Setelahnya, Elzeren mendekat ke arah Kaina. "Kau sedang apa di sini?" tanya Elzeren, menatap lekat pada Kaina yang berdiri tepat di depannya. "Liburan." Kaina menjawab santai. Namun, dia refleks melangkah mundur saat Elzeren maju dan semakin terasa dekat pada tubuhnya. "Kenapa menjauh?" Elzeren menaikkan sebelah alis, mrngamati Kaina secara dalam dan lekat, "jangan berasalan parfum lagi, Kai. Aroma parfumtku hampir sama dengan aromamu," tambahnya, berkata datar tetapi menatap penuh selidik pada Kaina. Sampai s
"Jangan mengajari putriku untuk sesat seperti kamu, Mas," ucap Aluna pada suaminya. Kaizen senyum tipis pada istrinya, menatap dalam pada Aluna. Setelah itu, dia kembali menatap putrinya, "Azam itu nekat. Jadi lebih baik temukan yang kau sukai, Nak." "Ini sama saja Daddy memaksaku untuk menikah," ucap Kaina berang. "Atau kau ingin Eiren?" Kaizen menaikkan sebelah alis, menatap lekat dan teliti pada putrinya. "Apalagi ini?!" Kaina kembali memutar bola mata secara jengah setelah itu menatap malas pada daddynya. Dari luar, dia mungkin tampak seperti muak dan jengah. Namun, di dalam dia begitu gugup dan jantungan. Dia tahu daddy-nya sedang mengujinya dan Kaina harus bisa menyembunyikannya sebaik mungkin. "Mommy setuju kalau kamu sama Kak Elzeren." Aluna langsung bertepuk tangan—tak menimbulkan suara karena tepukannya pelan. Senyumannya mengembang, menatap penuh binar pada putrinya, "Sera juga setuju kan kalau Kaina dengan Kak Eiren?" "Se-setuju, Mom," jawab Sera kikuk, meliri
"Hais." Kaina kembali menunjukkan ekspresi jijik dan geli secara bersamaan. Sungguh dia mual dan merasa geli dipanggil sayang oleh pria ini. Apalagi mendengar suara Zidan yang sengaja di berat-beratkan. "Putriku tidak mengenalmu dan aku lebih percaya pada putriku," ucap Kaizen tegas, "jam bertamu sudah habis. Silahkan pergi," tambahnya, kali ini nadanya dingin—menatap tajam pada ketiga tamunya. "Caramu mengusir kami terlalu arogan. Kami ini Azam!" kesal Galuh, ayah Zidan. Dia tak terima diusir oleh Kaizen. Dia adalah orang yang sangat terhormat dan semua elit segan padanya karena dia seorang Azam. "Tidak ada yang bertanya." Kaizen berkata santai. "Silahkan," lanjutnya. Galuh berdiri dengan wajah masam, lalu setelah itu segera pergi dari sana sambil menggandeng istrinya. Sedangkan istrinya, sejak tadi hanya diam karena terus memandangi seseorang yang sangat mempesona di matanya. "1 minggu lagi aku akan datang untuk melamarmu, Kaina. Aku akan membawa keluarga Azam lainnya." Zi
Setelah makan malam bersama, Kaina berniat mengajak keponakannya untuk jalan-jalan. Sebenarnya Kaina ingin jalan-jalan dengan Sera juga, hanya saja suami sahabatnya tersebut tak mengizinkan.Namun, semua rencana yang ingin dia lakukan tersebut terpaksa batal karena tiba-tiba saja ada tamu dari keluarga Azam. "Aku dan orang tuaku datang untuk membahas hubungan saya dengan Kaina. Aku ingin lebih serius dengan Kaina, Om," ucap seorang pria dengan wajah tegas dan cukup tampan. Caranya berbicara penuh percaya diri dan auranya cukup kuat, berusaha mendominasi siapapun di ruangan mewah dan megah tersebut. "Lebih serius?" Kaizen menaikkan sebelah alis, menatap lekat dan teliti pada pria tersebut. "Ya, Om Kaizen." Pria itu menaikkan dagu, senyum tipis dan cukup arogan. Zidan Az! Dia seorang Azam, sekalipun bukan Azam inti tetapi keluarganya sangat dekat dengan Azam inti. "Putriku tidak boleh menikah dengan keluarga Azam," tegas Aluna tiba-tiba, bersamaan dengan Kaina yang baru tiba di ruan
Ziel juga ingin bayal jajan Auti kayena Ziel peyia sejati!" semangat Daziel pada akhir kalimat. "Hahaha …." Kaizen tertawa pelan, semakin gemas dan merasa lucu pada tingkah cucunya. Point pentingnya anak kecil ini selalu memperhatikan daddy-nya dan juga kakeknya, lalu ingin mencontohnya. "Karena kau dihukum oleh Daddymu dan itu murni karena kesalahanmu, jadi Kakek tidak bisa memberikan uang secara cuma-cuma padamu." Kaizen berkata lembut. "Ziel tahu, oleh kalena itu Ziel minta pekeljaan dayi Kakek." Anak itu menyeru penuh semangat. "Humm." Kaizen berdehem, "Saat ini Nenek sedang membuat Cookies. Bantu Nenek sebaik mungkin. Lakukan apapun yang Nenek suruh. Setelah pekerjaanmu selesai, Kakek akan memberimu uang." "Siap, Big Boss!" seru Daziel penuh semangat dan antusias, setelah itu segera berlari keluar dari ruang kerja kakeknya. Melihat tingkah cucunya yang penuh semangat dan selalu menggemaskan, Kaizen kembali geleng-geleng kepala secara pelan. Senyuman tipis mengembang
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







