Masuk"Mending nasi goreng spesial daripada Gajah." Sera meraih bantal terdekat lalu langsung melemparnya pada Xavier. Arhk! Sera paling benci dipanggil Gajah hanya karena nama tengahnya Ghazalah. Adik pria ini dulu sering memanggilnya Gajah Duduk. Namun, setelah Kaina bertobat memanggilnya Gajah, malah Xavier yang sekarang begitu. Ayolah! Namanya Ghazalah dan arti namanya tersebut sangat bagus—perempuan menawan dan cerdas. Sialnya, nama tengahnya yang sangat bagus itu terasa tak ada harga dirinya di hadapan Adam bersaudara ini. "Ouh, kau berani melemparku, Heh?!" Xavier menaikkan sebelah alis, sama sekali tak menghindar saat Sera melemparnya dengan bantal. Ah, perempuan ini sekarang jauh lebih menarik dan menantan dari dua tahun yang lalu. Sejujurnya, dia cukup sering mengunjungi Sera. Tahun pertama di luar negeri, dia diam-diam pulang—3 bulan sekali demi mengunjungi perempuan ini. Yang dia sukai dari Sera adalah menjahilinya. Sera mudah kesal! Sayangnya, tahun kedua dia tak lagi m
"Aku …." Sera memegang pergelangan tangan Xavier, berniat menjauhkan tangan pria itu dari wajahnya, "aku tidak ditampar. Aku kepeleset dan …-""Jangan berbohong!" dingin Xavier, memotong ucapan Sera dan membuat perempuan itu mendadak diam, "apa ayahmu yang menamparmu?"Sera langsung menggelengkan kepala. "Bukan," jawab Sera pelan, "hanya orang asing dan aku tidak mengenalnya."Sera meneguk saliva secara kasar. Sebenarnya dia ingin jujur pada Xavier tentang siapa yang menamparnya. Namun, dia tidak bisa menjelaskannya. Dia tidak tahu harus menyebut perempuan yang menamparnya dengan kata ganti apa."Orang asing?" Xavier mengerutkan kening, "kau diganggu oleh orang asing?"Sera menganggukkan kepala. "Di mana dan kapan?" tanya Xavier dingin. Wajahnya tampak serius dan tatapannya sangat membunuh. Sera mengerjap beberapa kali lalu menatap Xavier dengan tampang muka yang kaku. Sekalipun Xavier terlihat kesal dan marah, akan tetapi pria ini cukup perhatian. 'Waktu pipiku masih merah, Ayah b
Buktinya saat Sera wisuda. Ayahnya tidak datang, tidak menanyakan sedikitpun tentang wisuda Sera, dan hanya tahu cara mengancam supaya Sera pulang segera ke rumah ini. Setelah di kamar, Sera membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia memilih berbaring di ranjang sambil bermain HP. Saat Sera membuka HP, notifikasi pesan dari Kaina langsung memenuhi pop-up-nya. --Werewolf-- [Weh, ternyata istrinya Kak Xaveir itu kamu yah. Gila! Rapi banget kamu bohongnya ke aku. Aktingnya juara sampe aku yang titisan Kaizen ini nggak bisa nyium rahasia kamu.] Jantung Sera rasanya akan copot setelah membaca pesan dari sahabatnya tersebut. Dadanya bergemuruh hebat dan tubuhnya membeku. Selain pesan teks, Kaina juga mengirim gambar berupa foto punggung lebar seorang pria yang penuh dengan luka. Entah itu luka apa, akan tetapi Sera ngilu melihatnya. [Daddy memarahi Kak Xavier. Tuh, dia habis dicambuk. Ini aku lagi ngobatin punggung Kak Xavier.] Sera meneguk saliva secara kasar, tubuhnya sem
Perempuan yang menampar Sera menatap penuh kebencian pada Sera. Perempuan itu mengulurkan tangan, di mana seorang pelayan pribadinya langsung memberikan sapu tangan padanya. "Sudah kukatakan jangan pernah muncul di hadapanku, Jalang kecil sialan!" ucap perempuan paruh baya tersebut dengan suara tegas, terkesan marah dan penuh kebencian. Dia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil melap telapak tangannya yang sehabis menampar Sera. "Cih." Sera berdecih pelan, mendongak pada perempuan itu dengan tatapan berani dan ekspresi yang menentang. "Kamu menyebutku jalang? Trus kamu yang suka berselingkuh ini apa?" ucap Sera dengan nada lantang. Dadanya panas, hatinya sakit, akan tetapi mentalnya sama sekali tidak down. Sera sudah terbiasa dikasari oleh perempuan ini, bahkan saat dia baru lahir di dunia ini. Jadi, Sera merasa sudah terlatih. Yah, walau dia akui dia tak pernah bisa mentoleransi rasa sakit di hatinya. "Sera! Tutup mulutmu dan jaga sopan santunmu!" pekik pere
"Ghazalah benci …-" Xavier mengerutkan kening, menatap adiknya dengan kening yang mengerut—ekspresi tidak percaya, "ulang tahunnya?" "Yo." Kaina menatap terkejut pada kakaknya, "berarti Kakak nggak tahu? Wah!" ucapnya sambil geleng-geleng kepala—menatap tak percaya serta heran pada kakaknya. "Sayang, sebentar." Aluna menegur Kaina dan Xavier, dia ingin memastikan sesuatu, "Sera … benci pada mamanya?" tanya Aluna, memastikan hal tersebut. Kaina menganggukkan kepala secara pelan. "Makanya waktu mengisi data untuk wisuda, Sera tidak mengisi nama mamanya. Dia juga tidak pernah mau bahas mamanya ke aku atau ke siapapun." "Kai tidak tahu sesuatu tentang Sera dan Mamanya?" tanya Aluna lagi. Tadi, dia sempat merasa gunda dan sempat ragu pada Sera karena dia merupakan putri dari seseorang yang pernah berusaha menghancurkan rumah tangganya. Namun, sekarang, setelah tahu Sera membenci mamanya, entah kenapa Aluna merasa miris dan sedih. Aluna tak tahu kenapa dia harus sedih, akan tetapi j
"Mas, tenangkan dirimu. Pliss …." Pinta Aluna, mengusap dada bidang suaminya sambil menatap memohon pada Kaizen. "Aku tahu tahu putra kita salah, tetapi setidaknya Kakak sudah jujur pada kita, Mas," tambah Aluna, menatap was-was campur takut pada suaminya, "mengenai Vanessa, aku tidak apa-apa, Mas. I-itu hanya masa lalu yang perlu kita lupakan. Toh, Sera tidak sama seperti Mamanya." Situasinya sangga tegang, amarah Kaizen terasa memenuhi ruangan ini—membuat suasana terasa seram dan mengerikan. Kaizen memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Kaizen membuka mata, langsung menatap tajam pada Xaveir. Tatapan Kaizen terasa membunuh dan menyeramkan, membuat Kaina yang duduk di sebelah kakaknya secara bergeser ke sudut sofa. Dia merasa ikut ditatap oleh daddy-nya, makanya dia bergeser ke sudut sofa. "Jadi …." Kaizen bersuara, nadanya berat dan penuh intimidasi, "apa Diego sudah melunasi utangnya padamu?" Xavier menggelengkan kepala. "Tidak, D
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







