LOGIN"A-aku diancam sama Kak Freza supaya a-aku bersedia membantunya." Elzeren hanya diam sambil menatap ke arah Rangga yang sedang dieksekusi—di telanjangi lalu dicambuk di hadapan semua orang. Pria ini berniat melecehkan istrinya, ingin menghancurkan istrinya, Heh?! Baik! Elzeren balas dengan cara yang sama. Dia akan membuat pria ini mati dalam keadaan hina dan malu. "E-El, demi persahabatan kita yang sudah belasan tahun, to-tolong maafkan aku. A-aku hanya khilaf sebab terlalu men-mencintaimu. A-aku melakukan semua ini su-supaya kamu jadi milikku, E-El. Pliss!" pinta Freza, yang sama ketakutan dengan Sabela. Melihat Rangga yang telanjang dicambuk di hadapan mereka, Freza benar-benar merinding. Masalahnya Rangga sudah seperti mayat hidup, akan tetapi Elzeren tidak membiarkan cambukan itu berhenti. Kaif yang juga ada di sana, menatap cukup miris dan merinding pada Rangga. Pria itu sudah berlumuran darah akibat jatuh dari tangga dan juga cambukan kuat di punggung. Napas Rangga suda
"A-aku jujur, Tuan." Rangga berkata dengan nada cepat, mendongak sambil menatap penuh ketakutan pada Elzeren, "a-aku be-bekerja sama dengan Freza. Aku dan Freza sama-sama de-dendam pada Nyonya. Du-dulu, aku hampir berpacaran dengan Sera te-tetapi Nyonya mempengaruhi Sera dan membuat Sera be-berubah jadi membenciku. Sera pada akhirnya menikah dengan Kakak Nyonya, aku sama sekali tidak terima. Aku semakin tidak terima karena Kakak Kaina menghancurkan bisnis keluarga kami dan mengusir kami dari kota kelahiranku sendiri. Di sini kami memulai hidup sangat susah dan melarat. Ka-kami berupaya bangkit sedangkan Nyonya … di-dia hidup bahagia. A-aku tidak terima melihatnya bahagia setelah dia merebut Sera dariku dan me-menghancurkan hidup keluargaku. Ja-jadi aku berniat menghancurkannya dengan cara me-melecehkannya."Rahang Elzeren mengatup saat mendengar ucapan terakhir Rangga. Tangannya mengepal kuat dan dadanya bergemuruh hebat. Amarah kembali menguasai dirinya, benar-benar emosi mendengar k
"Dia siapa, Mas?" tanya Kaina pelan dan ragu-ragu, menatap was-was pada Elzeren yang terlihat mengatupkan rahang dan melayangkan tatapan tajam padanya. Elzeren tak mengatakan apa-apa, tetapi terus menatap ke arah Kaina dengan begitu tajam dan membunuh. Elzeren tidak percaya pada ucapan pria tadi tentang istrinya. Akan tetapi ucapan pria itu berhasil membuat Elzeren tersulut emosinya dan Elzeren semakin tersulut amarah karena istrinya membantah ucapannya—Kaina menolak masuk ke dalam kamar. "Ka-Kaina, a-aku sudah datang, Sayang. A-aku … tolong selamatkan aku. Ba-bantu aku," cicit pria di lantai dengan suara serak karena menahan sakit. Kaina mengerutkan kening karena merasa mengenali suara itu. Tanpa sadar, kakinya maju satu langkah dari ambang pintu karena ingin melihat lebih jelas siapa pria di belakang suaminya. Kaina mencondongkan tubuh, sedikit memiringkan kepala, demi bisa melihat wajah si pria. Sedangkan Elzeren, wajahnya semakin tak bersahabat dan aura mengerikan samakin meng
Ceklek' Elzeren membuka pintu kamar untuk melihat siapa pengganggu yang berani menggedor pintu kamarnya. Sebelah alis Elzeren terangkat, tangannya bersedekap di dada, dan tampang wajahnya dingin campur marah—menatap rendah pada sosok pria yang mengenakan kupluk hitam di depan pintu kamarnya. "Kau siapa?" tanya Elzeren, segera menutup pintu kamar supaya pria tersebut tak bisa melihat ke dalam. Hell! KaiKu-nya sedang mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Elzeren tak akan membiarkan pria ini melihat sedikitpun pada istrinya. Elzeren mengerutkan kening, menatap semakin kesal dan marah pada pria di depannya. Pria itu hanya diam, tampak gelisah, dan bingung. Yang jelas, Elzeren tak suka. Pria ini sangat menggangunya. Bug' Elzeren melayangkan kuat ke arah wajah pria itu. Diam si pria benar-benar memancing emosi Elzeren. Di sisi lain, seseorang itu terhempas setelah mendapat pukulan kuat dari Elzeren. Setelah memukul pria itu, Elzeren menginjak tangannya. "Katakan, kau siapa dan ap
"A-aku belum pernah ketemu jin, jadi mana kutahu Mas mirip jin atau enggak." Kaina menjawab cepat sambil menatap penuh kecurigaan pada suaminya. Biasanya Elzeren jarang menggeram marah padanya. Fix! Ini jin. "Tapi kalau kamu itu Jin, berarti ini pertama kalinya aku bertemu dengan jin." "Aku suamimu!" Elzeren berkata cepat, tegas, dan cukup kesal pada Kaina. Lalu dengan paksa, dia mencoba menjauhkan tangan Kaina dari depan dada agar dia bisa segera membuka pakaian istrinya. "Jin bisa meniru seseorang. Apalagi Jin kurang belaian, pasti bakalan meniru suami perempuan incarannya." Kaina menjawab dengan nada yang nyaring, dia mendorong Elzeren agar menjauh darinya. Kemudian Kaina buru-buru merangkak menuju bagian seberang ranjang. Dia berniat kabur dari Elzeren—berniat ke seberang ranjang supaya Elzeren tidak bisa menjangkaunya. Namun, dengan cepat Elzeren meraih pergelangan kakinya. Pria dengan wajah tampan namun berekpresi datar itu menarik kaki Kaina, menbuat Kaina berakhir jatuh d
"Rencananya akan kita laksanakan malam ini." Freza berkata dengan nada tegas pada Rangga, "hari ini Elzeran berangkat ke luar negeri." "Tapi bagaimana cara kita masuk ke dalam rumah mewah Tuan Elzerah? Rumahnya banyak menjaga pastinya," ucap Rangga, cukup bingung untuk menjalankan rencana mereka karena rumah Elzeran pasti banyak penjaganya. Waktu itu saja, saat dia bertemu dengan Kaina, perempuan itu dijaga banyak bodyguard. Padahal Elzeran masih di kota ini dan kemungkinan seseorang mencelakai Kaina pasti sedikit karena hal tersebut. Apalagi saat Elzeren ke luar negeri, pasti keamanan diperketat untuk Kaina. "Tenang saja." Freza senyum culas tetapi menunjukkan ekspresi penuh percaya diri pada Rangga. "Aku pernah ke rumah Elzeren dan aku sudah mempelajari beberapa hal di sana. Maid dsn bodyguard di sana memang sangat patuh dan terlalu ketat. Tetapi … mereka masih baru, jadi banyak cela yang bisa kita gunakan," tambahnya. Rangga mengerutkan kening, masih kurang yakin bisa
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







