LOGINHot lagi. Tapi … yang di foto tadi, wajahnya terlalu AI. Itu pasti Kaina sendiri yang dia edit dalam versi laki-laki. Percaya deh." Lana meyakinkan. Rangga diam, berusaha untuk berpikir jernih. Setelah beberapa menit, akhirnya dia bersuara. "Kau yakin foto di postingan Kaina itu bukan Kakak Kaina?" "Jelas dong." Lana berkata tegas, "kamu tahu kan saat ini aku dekat dengan keluarga Adam. Aku bekerja di perusahaan Des'Art, milik keluarga Adam. CEO dari perusahaan itu Kakak Kaina dan lagi dekat denganku. Kamu tahu itu kan?" "Ah, aku hampir lupa kalau kau sedang dekat dengan CEO dari Des' Art," gumam Rangga dengan nada pelan sambil menyunggingkan smirk tipis. Jika memang benar Kaina menyimpang dan Sera belum menikah, bukankah dia punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Sera? Kasus Kaina ini bisa ia jadikan senjata! *** Ceklek' Sera memasuki kamar dengan langkah riang. Senyumannya lebar karena senang bisa berbicara lugas di hadapan Rangga. Sudah dua tahun berlalu sejak kej
"Ma-maksudmu?" Rangga menatap campur aduk pada Sera. "Sajak awal, kamu dan Lana menjadikanku mainan. Layaknya layangan. Kalian mempertaruhkanku pada tiupan angin. Lalu ketika aku diputus oleh angin, kenapa kamu repot mengejar? Itu kan tujuan permainannya. Dan ketika aku ditiup oleh angin dan sampai pada pemilik yang sebenarnya, kenapa kamu yang masih mengejar menyebutnya sebuah keterlambatan? Itu namanya mengejar kesia-siaan bukan terlambat," ucap Sera panjang lebar, dia berdiri dan berniat pergi. Begitupun dengan Kaina. Namun, Lana dan Rangga menghadang. "Tunggu dulu, Ra." Rangga menghadang Sera dan Kaina, "kamu salah paham. Waktu itu, aku tidak menjadikanmu sebagai permainan. A-aku hanya sedang menguji perasaanku. Aku salah dan aku meminta maaf!" Sera mengedikkan pundak, acuh tak acuh pada Rangga. Awalnya Sera kira dia tak bisa menghadapi pria ini—ada ketakutan karena pria ini pernah mematahkan hatinya. Namun, ternyata dia bisa. Malah dia bisa bersikap santai! "Dalam uji co
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Kaina sinis, menatap pria tersebut dengan ekspresi marah. "Apa sih, Kaina? Ini kan sofa Hotel, bukan punya kamu. Ya, terserah Rangga dong kalau mau duduk di situ," ucap seorang perempuan, tak lain adalah Lana. Yah, yang duduk di sebelah Sera tersebut adalah Rangga dan perempuan yang berbicara tadi adalah Lana. Sera menatap Rangga sekilas, setelah itu dia memalingkan wajah dengan ekspresi yang gugup. Jujur saja, jantungnya berdebar kencang saat bertemu kembali dengan Rangga. Tubuhnya terasa membeku beberapa detik dan hatinya terasa tak nyaman. Kaina tak menjawab ucapan Lana, dia memilih mengamati Sera yang terlihat gugup. 'Apa Sera masih suka dan menaruh perasaan pada Rangga?' batin Kaina, cukup cemas kalau Sera masih suka pada Rangga. 'Ck, ini salahku! Ini kebodohanku. Seharusnya aku tak mengajak Sera ke acara ini. Aku lupa kalau Rangga itu seangkatan dengan kami.' batin Kaina lagi, mendadak diam untuk terus mengamati Sera yang masih gugu
"Mommy tidak mungkin seperti itu." Aluna melebarkan mata, menatap horor dan penuh protes pada putrinya. "Tapi Daddy memang kelihatan kayak dipelet, ketempelan ke Mommy," ujar Kaina hati-hati sambil menggaruk tengkuk, menatap was-was pada mommynya. "Nah, itu! Mommy tak pelet saja, Daddymu sudah ketempelan. Apalagi kalau Mommy pelet, mungkin saat ini Mommy sudah dikasih resin sama Daddy habis itu dipajang di kamarnya," galak Aluna, bersedekap di dada sambil menatap cemberut pada putrinya. Dalam hati dia sangat kesal pada suaminya. Hei, bisa-bisanya pria kulkas itu berbohong dan bilang kalau Aluna memeletnya. Sepertinya suaminya itu sudah tidak waras. Ah, bukan sudah tidak waras karena Kaizen memang tak pernah waras kan? Mungkin dosis gilanya yang bertambah. "Kai juga nggak percaya kalau Mommy melet Daddy. Secara … sekalipun Kai mengakui Daddy tampan, tapi ngapain Mommy melet pria dingin yang kosa katanya saja hum hem doang. Kayak jurang kerjaan saja." Kaina bergumam pelan, "cuman …
"Tapi Mommy dan Daddy nikahnya memang karena itu yah, Mom? Karena Mommy dan Daddy begituan?" ucap Kaina tiba-tiba. Uhuk' uhuk' Aluna langsung terbatuk-batuk, padahal dia sudah selesai minum! Gara-gara batuk, Aluna kembali minum. Setelah itu, dia menatap gugup dan cukup malu pada putrinya. Seharusnya Aluna tak menceritakan ini. Namun … sepertinya harus karna seseorang yang menginginkan keluarga ini hancur, bisa saja mengatakan hal yang buruk pada putrinya. "Bu-bukan, Sayang. Iya … ta-tapi bukan juga," jawab Aluna gugup. "Bukan apa iya, Mom?" Kaina mengerutkan kening, "dan … sebenarnya hubungan mantan pengasuh Sera sama Mommy apa sih? Aku jadi bertanya-tanya dan … bingung sendiri," tambahnya dengan pertanyaan lainnya. "Vanessa orang jahat kah, Mom, dulunya?" Sera ikut bertanya. Dia juga penasaran apa hubungan antara mertua dan Vanessa sang mantan pengasuh yang diangkat jadi istri oleh ayahnya. "Oke, Mommy cerita. Tapi jangan bagi tahu ke siapa-siapa yah? Ini rahasia!" peringa
"Achk." Vanessa meringis sakit saat tubuhnya jatuh setelah didorong oleh perempuan yang datang tersebut. "Kurang ajar sekali kamu, Aluna!" pekik Vanessa. Aluna mengabaikan Vanessa, memilih menghampiri putri-putrinya. "Kalian tidak apa-apa, Sayang?" tanya Aluna lembut dan penuh perhatian. Kaina dan Sera menganggukkan kepala secara kompak. "Kami tidak kenapa-napa, Mommy," jawab Kaina pelan, mendadak lembut dan manis karena sudah ada mommynya di sini. "Syukurlah," gumam Aluna pelan. Di sisi lain, perempuan yang datang bersama Aluna—Inggita, hanya diam sambil menatap sinis pada Vanessa. Aluna membalikkan badan lalu menatap murka pada Vanessa. "Heh, Tante, sudah lupa yah kamu dengan hukuman yang suami dan kakakku kasih ke kamu?! Mau lagi kamu, Hah?!" ucap Aluna, nadanya cukup stabil akan tetapi tatapannya cukup tajam. "Aku tidak punya urusan denganmu, Aluna. Urusan masa lalu sudah selesai!" dingin Vanessa, dia sudah berdiri dan dibantu oleh putrinya, "aku punya urusannya dengan pu
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







