LOGINZiel juga ingin bayal jajan Auti kayena Ziel peyia sejati!" semangat Daziel pada akhir kalimat. "Hahaha …." Kaizen tertawa pelan, semakin gemas dan merasa lucu pada tingkah cucunya. Point pentingnya anak kecil ini selalu memperhatikan daddy-nya dan juga kakeknya, lalu ingin mencontohnya. "Karena kau dihukum oleh Daddymu dan itu murni karena kesalahanmu, jadi Kakek tidak bisa memberikan uang secara cuma-cuma padamu." Kaizen berkata lembut. "Ziel tahu, oleh kalena itu Ziel minta pekeljaan dayi Kakek." Anak itu menyeru penuh semangat. "Humm." Kaizen berdehem, "Saat ini Nenek sedang membuat Cookies. Bantu Nenek sebaik mungkin. Lakukan apapun yang Nenek suruh. Setelah pekerjaanmu selesai, Kakek akan memberimu uang." "Siap, Big Boss!" seru Daziel penuh semangat dan antusias, setelah itu segera berlari keluar dari ruang kerja kakeknya. Melihat tingkah cucunya yang penuh semangat dan selalu menggemaskan, Kaizen kembali geleng-geleng kepala secara pelan. Senyuman tipis mengembang
Jadi sekalian saja," ucap Elzeren datar, meraih tangan Kaina lalu menarik perempuan itu supaya ikut dengannya. Kaina akhirnya menyerah, bersedia pulang dengan Elzeren. Selama di mobil, mereka hanya diam dan tak saling bersuara. Hingga akhirnya Elzeren bersuara. "Aku sudah mengganti parfum," ucap Elzeren tiba-tiba. Suaranya bariton—berat dan tegas. Kaina mengerutkan kening, menatap bingung pada Elzeren. Mengganti parfum? Kenapa Elzeren harus mengatakan itu padanya? Atau pria ini sedang tidak berbicara dengannya? Ah, sepertinya memang tak berbicara padanya karena Elzeren terlihat menatap lurus ke arah depan. Elzeren tiba-tiba menoleh ke arah Kaina, membuat Kaina kembali bingung. "Tapi kenapa kau masih menghindar, Hum?" "O-oh." Kaina ber-oh-ria dengan gugup, menoleh ke arah lain sejenak lalu kembali menatap Elzeren. Ck, Kaina harus jawab apa?! Dulu dia beralasan parfum dan ternyata Elzeren mengganti parfumnya karena hal itu. Padahal, sejujurnya dulu aroma parfum itu
Kaina menyeret kopernya dengan cepat, begitu gugup dan panik secara bersamaan. Kurang lebih lima tahun dan selama itu dia tak pernah bertemu lagi dengan sosok pria tadi. Terakhir, ketika Sera melahirkan Daziel dan geng Ano datang untuk menjenguk Sera—beberapa hari setelah Sera melahirkan. Setelahnya dia tak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Kaina dulu sangat sibuk dengan kuliahnya. Lalu setelah wisuda, Kaina pulang ke negara ini. Namun, dia diusir oleh daddynya karena waktu itu … tiga hari di negara ini, Kaina memotong rambutnya hingga benar-benar pendek—menyerupai potongan rambut pria. Daddynya sangat marah dan menyuruh Kaina untuk menetap di salah satu negara yang ada di benua eropa. Di negara itu ada perusahaan Adam, dan daddy-nya menyuruh Kaina mengurus perusahaan itu. Kaina tak boleh pulang sebelum rambutnya sepanjang pinggangnya. Itu hukuman untuk Kaina. Sekarang rambutnya sudah sepanjang pinggang, jadi hukumannya sudah berakhir. Pertumbuhan rambutnya sebenarnya cepat.
Mungkin setelah keadaan menantunya jauh lebih baik dari hari ini, baru Aluna akan mengabari. Mungkin orang akan menganggap Aluna kejam dan tak kekeluargaan. Namun, ini demi menantunya. Sera baru melahirkan, keramaian dan menghadapi banyak orang hanya akan membuat energi Sera banyak terkuras. Jadi lebih baik begini, hanya mereka tetapi tenang. Menantunya bebas kapanpun tidur tanpa harus terganggu oleh tamu yang menjenguk. "Mentang-mentang punya cucu, anak bungsu langsung dilupakan," seru Kaina kemudian, menatap muram pada daddynya yang senang menggendong bayi kakaknya. Yah, walau daddy-nya terlihat begitu kaku dan sedikit-sedikit meminta bantuan pada sang mommy. Kaizen mendongak, menatap ke arah putrinya. "Mau berapa? Nanti Daddy transfer," jawabnya tenang. "Nah, gitu dong, Dad." Kaina langsung menunjukkan ekspresi tengil campur riang. Kaizen geleng-geleng kepala tetapi setelah itu senyum geli karena kelakuan putrinya yang tak beda jauh dengan makhluk di sebelahnya ini. Ah,
Lihatlah! Bayi tampan ini hasil kerja kerasnya. Ck, benih darinya memang tidak bisa diragukan! "Wah, bagus sekali, Nak." Aluna menyeru riang. "Bagiamana, Kakek? Nama cucu kita bagus kan?" Kaizen yang duduk di sofa, senyum manis sambil menganggukkan kepala. "Daddy ingin gendong?" tawar Xavier dengan senang. Kaizen sejujurnya ingin menolak karena dia terlalu grogi untuk menjadi seorang kakek. Maklum, dia masih pemula sebagai seorang kakek. Tapi percayalah, sudah ada banyak rencana yang telah ia siapkan untuk masa depan cucunya. Kaizen bangkit dari sofa lalu menghampiri Xavier dan putranya. Dengan kaku, dia menerima bayi itu, setelah itu tanpa mengatakan apa-apa dia membawa bayi itu untuk duduk bersamanya di sofa. Senyumannya merekah, terus menunduk sambil menatap bayi putranya. Aluna duduk di sebelah suaminya, ikut menatap bayi tersebut dengan penuh kebahagian. "Nostalgia yah, Mas Zen," gumam Aluna pelan, senyum hangat sambil menatap cucunya penuh haru. Kaizen menganggukk
"Ahahaha … terlambat!" ucap Kaina, tertawa cukup kencang sambil menggaruk tengkuk. "Terlambat?" Sera mengerutkan kening, menatap Kaina dengan bingung. Sungguh, dia tak paham. Apa yang terlambat? Dan apa maksud dari kata terlambat? "Hehehe … aku sudah tanda tangan kontrak untuk bungkam selama lima tahun ke depan." Kaina menunjukkan cengiran lebar, menatap tak enak hati pada Sera. "Maksudnya?" Sera mengerutkan kening, dia masih kurang paham. "Maksudnya, tadi sehabis pulang dari danau, Kak Xavier menemuiku dan menbayarku untuk tidak mengatakan apapun tentang caranya menikahimu pada siapapun. Termasuk kamu. Bayarannya besar, dan aku sudah menandatangi kontrak supaya bungkam selama 5 tahun. Hehehe …." Kaina cengengesan lagi, menggaruk tengkuk sambil menatap malu campur tak enak pada Sera. "Yah." Sera menghela napas pelan. Sedangkan Nakilla, dia tertawa kecil. "Kak Xavier benar-benar tahu cara untuk membungkammu yah, Kai. Ahahaha …." "Hehehe." Kaina kembali cengengesan. "Maaf
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka







