LOGINNamun, baru saja dia sampai di sebelah neneknya, Elzeren tiba-tiba menggendongnya lalu membawanya dari dapur. "Nenek!!" pekik Kaina, meminta pertolongan dari neneknya supaya meminta Elzeren menurunkannya. Namun, neneknya malah tertawa geli. "Mommy … Kai ingin ikut memasak!" pekik Kaina lagi, kali ini berharap pertolongan dari mommy mertuanya. Namun, dia hanya mendapat tawa geli dari sang mommy mertua. Pada akhirnya Kaina kembali ke ruang TV, duduk kaku sambil menatap was-was pada Elzeren. "Jangan sampai aku mengurungmu di kamar, Janu." Elzeren memperingati. "Uuu … takutnya. Kurung dong, kurung dong!" tantang Kaina, terlampau kesal pada Elzeren yang membawanya kembali ke tempat ini. "Jangan tengil!" Elzeren menatap malas pada wajah tengil istrinya. Menyebalkan tetapi lucu secara bersamaan. Ah, ingin sekali dia menggigit bibir Kaina karena ekspresi tengil ini. "Diam di sini. Sebentar lagi mertuaku datang. Sambut mereka dengan baik," ucap Elzeren lagi, setelah itu pergi dari
"Kau mau kemana lagi, Nyonya Smith?" datar Elzeren, menatap penuh peringatan pada istrinya. "Aku mau ke dapur, bantuin Mommy memasak," ucap Kaina cepat. "Beristirahat di sini." Elzeren berkata cukup dingin, dia meraih remot TV lalu menyalakan televisi—mencari tontonan yang cocok untuk istrinya. "Mas … eh … Kak--" Kaina diam dengan cepat, memejamkan mata sambil merapatkan bibir. Dalam hati dia merutuki dirinya yang kembali memanggil Elzeren dengan sebutan mas. Tak ada yang salah. Hanya saja, dia canggung dan … dia takut Elzeren risih dipanggil begitu. "Aku nggak enak kalau duduk doang di sini, Kak. Sedangkan Mommy sibuk memasak di dapur," ucap Kaina setelah Elzeren menatapnya. "Aku suka dipanggil 'mas olehmu," ucap Elzerah tiba-tiba. "O-oh." Kaina ber-oh-ria sambil melirik canggung pada Elzeren. "Animasi ini bagus untukmu. Kau tidak akan bosan," ucap Elzeren lagi, yang tiba-tiba membahas animasi di televisi. "Tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Jika butuh sesuatu, k
"Ka-kau tidak bisa mem-membunuhku. A-ak-aku seorang A-Azam!" ucap Zidan sudah payah, mencoba menyingkirkan kaki Elzeren dari kepalanya, akan tetapi injakan iblis itu terasa lebih kuat. "Cih." Elzeren berdecih pelan, "aku yakin sekali pemimpin keluarga Azam sama sekali tidak mengenalmu. Jadi berhenti membawa-bawa nama keluarga Azam untuk membuatmu terlihat hebat, itu membuatmu terlihat semakin hina," ucapnya pelan, tetapi nadanya terasa dingin dan menusuk—mengerikan. Zidan ingin membalas akan tetapi injakan Elzeren di kepalanya terasa semakin kuat. Dia sangat kesakitan hingga rasanya menjerit pun tak sanggup. "Rizon," panggil Elzeren, di mana Rizon bukan hanya menoleh tetapi langsung menghampirinya. "Ya, Tuan." Rizon membungkuk hormat, setelah itu menatap Elzeran dengan hati-hati. Elzeren melepas injakannya dari kepala Zidan, dia menjauh sedikit dari pria sampah itu. "Bawa si sampah ini sebagai tahanan kita. Jangan lupa kirim peringatan pada orang tuanya." "Baik, Tuan
Deg' Kaina melirik Elzeren dengan raut muka tegang. Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya sudah panas dingin. Kaina sejenak mengatur diri supaya tetap rileks dan tidak memperlihatkan kecurigaan. Setelah sedikit tenang, Kaina menatap sepenuhnya pada Elzeran. "Pede banget, Kak," jawab Kaina santai. Dia luar dia tampak biasa saja, akan tetapi di dalam jantungnya terus berpacu kencang. Rasanya jantung tersebut seperti akan meledak. "Humm." Elzeren berdehem rendah, senyum tipis sambil meletakkan udang yang sudah ia kupas kulitnya ke atas piring istrinya, "aku punya bukti. Jadi aku sangat percaya diri, Janu." Wajah Kaina kembali tegang, gugup, dan panik. Dia menatap Elzeran bimbang campur was-was, setelah itu tanpa mengatakan apa-apa dia memilih memakan udang pemberian Elzeren. "Kau terlihat panik. Kenapa memangnya jika kau suka padaku, Humm?" ucap Elzeren geli, mengamati ekspresi wajah gugup Kaina secara intens. Gluk' Kaina menelan makanan di mulutnya secara susah payah.
Apa jangan-jangan Kaina diam-diam cinta pada Zidan? Yah, sepertinya ada kemungkinan mengingat Kaina beberapa kali menolak menikah dengannya. Namun, jika iya, kenapa Kaina juga menolak lamaran Zidan? Bahkan Kaina rela ikut kakaknya dinas hanya demi menghindari lamaran Zidan, padahal sewaktu itu Kaina baru sampai di negara ini. 'Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan. Zidan itu jelek, miskin, dan sampah. Tidak mungkin Kai-ku jatuh cinta padanya.' batin Elzeran, mengelak tetapi resah. Pada akhirnya dia memberanikan diri membuka galeri Kaina. Sejak dulu Elzeran tak pernah penasaran dengan isi HP Kaina. Kaina punya daddy yang mengerikan dan kakak yang posesif, jadi tak mungkin ada hal aneh di HP Kaina. Paling game atau video meme. Namun, Zidan berhasil membuatnya kepikiran dan mendadak ragu. Zidan memang sialan! Saat membuka galeri Kaina, Elzeran cukup panik saat melihat berkas terkunci dengan judul kuburan. Judul berkas itu saja cukup memancin
Dertttt' Handphone Kaina kembali berdering, penelponnya dari nomor tadi. Elzeren berjalan ke sofa dekat balkon, duduk di sana lalu mengangkat telepon dari nomor tanpa nama tersebut. 'Akhirnya kau mengangkat telepon-ku, Darling. Kau pasti merindukanku, Kaina sayang?' ucap seorang pria dari seberang sana dengan nada rendah—bermaksud menggoda seseorang yang ia kira Kaina. "Istriku tidak merindukanmu." Elzeren menjawab dingin, emosi mendengar suara Zidan. Pria busuk ini sok tampan sekali. Cih, padahal aslinya dia tak ada apapun dibandingkan Elzeren. Bukan Elzeren yang kepedean, tetapi Zidan memang tak ada apa-apanya dibandingkan Elzeren. Bahkan dengan kuku kaki Elzeren saja, pria ini tak akan bisa menyainginya. 'Elzeren sialan! Cepat berikan handphone itu pada Kaina. Bajingan!' maki Zidan diseberang sana. "Tapi aku merindukanmu," ucap Elzeren datar, "rindu memberikan kematian pada sampah sepertimu!" tambahnya penuh emosi dan kesal hingga ke ulu hati. 'Cih.' Zidan berde
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







