ログインSemoga suka dengan dua bab kita yah, MyRe. Dukung terus novel kita dengan cara vote gems, hadiah, dan ulasan biar novel kita menyala bintangnya. MyRe yang belum kasih ulasan manis, yuk, kasih dong ... nanti kalau bintangnya menyala, makin bersinar deh novel kita. Semangat dan sehat selalu yah, MyRe. IG:@deasta18
'Sera tidak ada di sini, Nak.' "Baik, Ayah." Xavier berkata pelan, tetapi dengan ekspresi wajah khawatir. Setelah mematikan sambungan telepon dengan ayah mertuanya, Xavier langsung menghubungi adiknya. Satu jam yang lalu, Sera mengabarinya kalau istrinya tersebut ingin ke kantor ayahnya. Xavier mengizinkan tetapi mengatakan pada Sera supaya Sera mengabarinya setelah sampai di kantor ayahnya. Ini sudah satu jam berlalu setelah Sera mengirim pesan padanya dan istrinya sama sekali tak memberi kabar padanya. Xavier sudah mengirim pesan pada Sera, sudah menghubungi juga, akan tetapi HP istrinya tidak bisa dihubungi. HP Sera juga tak bisa dilacak, statusnya non-aktif. Xavier menghubungi ayah mertuanya untuk menanyakan apakah Sera ada di sana, dan istrinya ternyata tak ada di sana. Ini sudah satu jam sejak Sera mengirim pesan terakhir padanya dan seharusnya Sera sudah ada di sana. 'Ada apa, Kak?' Suara Kaina terdengar di seberang sana. "Kau di mana?" tanya Xavier dengan nada cukup tega
"Aku cinta Mas Xavier," ucap Sera secara lugas sambil senyum haru dalam pelukan suaminya. Namun, menyadari apa yang sedang dia katakan, mata Sera langsung melebar, wajahnya tegang, tubuh membeku, dan jantung berdebar sangat kencang. Sreet'Sera langsung melepas pelukan Xavier, dia segera turun dari pangkuan suaminya lalu buru-buru ke kamar mandi dengan perasaan gugup setengah mati. Sedangkan Xavier, pria itu bak patung, hanya diam dengan wajah kaku—duduk lemas di sofa. A-apa yang istrinya katakan tadi? Sera mencintainya? Su-sungguh?!Tunggu! Damn it! Bagaimana bisa Sera mendahuluinya?! Maksudnya Xavier senang dengan ungkapan mendadak tadi. Rasanya seperti meteor sedang menimpa dirinya, dahsyat! Kutukan itu kumat! Hanya saja, sebagai seorang pria sejati, Xavier merasa kalah. Ck, tidak seharusnya Sera mendahuluinya. Ck, ini rumit! Selain masalah harga diri, Xavier juga harus segera menangani kutukan Adam brengsek ini. Bisa-bisa dia tidak bangkit dari sofa ini, atau dia harus mengor
"Dan Mas tahu nggak siapa awal mula yang mencomblangkan kami?" tanya Sera, mulai berbicara lugas. Xavier mendengarnya dan pria ini tak terlihat ilfeel padanya. "Siapa, Darling?" Xavier bertanya rendah. Dia menarik Sera supaya duduk lebih rapat dengan tubuhnya. Setelah itu dia memiringkan sedikit tubuh istrinya, begitupun dengan tubuhnya. Posisinya Sera sedikit membelakanginya. Dia melakukan itu supaya bisa memijat pundak Sera, agar perempuan ini lebih rileks bercerita padanya. "Lana, pacar sekaligus tunangan Rangga sendiri." Sera berkata pelan, mengembungkan pipi sejenak untuk mengekpresikan rasa marah dan kesal yang melandanya saat ini. "Hell! Mereka pantas mati," ucap Xavier, memijat pelan pundak istrinya. Sesekali dia mencium belakang kepala istrinya. "Jangan dulu, Mas. Ceritanya belum habis," ucap Sera menoleh ke arah suaminya sambil mendongak—ke arah belakang. Setelah itu dia kembali menghadap depan dan kembali bercerita, "setelah kami dekat kurang lebih satu tahun, kup
Mendoakannya hingga pelaminan? Tidak! Xavier merampasnya! "Salah satu mata-mataku, mengatakan kalau kalian pernah pacaran." Xavier berkata dingin. Mata-mata? Dialah mata-matanya. Untuk Sera, Xavier terlalu posesif. Dia mandiri mencari tahu sebisa mungkin, dia tak ingin melibatkan siapapun! Jika dia menyuruh mata-mata untuk mencari tahu informasi yang banyak tentang Sera, bukankah mata-mata itu juga akan tahu banyak tentang perempuan favoritnya ini?! Bagaimana jika mata-matanya malah berakhir jatuh cinta pada Sera? Cih, Xavier tidak akan membiarkan, oleh karena ituebih baik dia mencari tahu sendiri sekalipun dia sering gila sendiri. "Mata-mataku bertanya langsung pada Si Bajingan itu. Dia bilang kalian memang pernah pacaran," tambah Xavier, tiba-tiba mencengkeram lengan Sera dengan cukup kuat. "Mas, tolong! Lenganku sakit," cicit Sera, mencoba melepas tangan Xavier dari lengannya. Untungnya pria itu mau melepas, "aku beneran tidak pernah pacaran, Mas. Kalau memang Rangga mengaku
"Aku ingin menciummu!" Sera menaikkan kedua alis, melebarkan mata sambil menatap gelisah pada pria ini. Sebenarnya kata 'Nagos tidak muncul sama sekali, hanya saja … tumben sekali Xavier mendadak sopan. Biasanya pria ini tidak pernah bilang-bilang kalau ingin mencium Sera. Gaya Xavier kan nyosor, paksa, lalu terkam sampai terkulai lemas. "Ya, si-silahkan, Mas." Sera berkata tak enak, menggaruk daun telinga sambil menatap canggung pada Xavier, "biasanya … biasanya juga nggak bilang-bilang," gumam Sera pelan. "Tidak jadi!" ketus Xavier tiba-tiba. Mata Sera melotot, tangannya yang menggaruk daun telinga langsung berhenti. Dia menatap Xavier cengang campur aneh. Apa-apaan makhluk es ini? "Jelaskan tentang Rangga," dingin Xavier kemudian. Sekalipun bingung dengan sikap Xavier—tiba-tiba izin mencium lalu tiba-tiba juga batal mencium, Sera tetap menganggukkan kepala. "Rangga menang temanku …-" "Jangan berbohong!" geram Xavier, ekspresinya kembali terlihat menyeramkan di mata Se
Hot lagi. Tapi … yang di foto tadi, wajahnya terlalu AI. Itu pasti Kaina sendiri yang dia edit dalam versi laki-laki. Percaya deh." Lana meyakinkan. Rangga diam, berusaha untuk berpikir jernih. Setelah beberapa menit, akhirnya dia bersuara. "Kau yakin foto di postingan Kaina itu bukan Kakak Kaina?" "Jelas dong." Lana berkata tegas, "kamu tahu kan saat ini aku dekat dengan keluarga Adam. Aku bekerja di perusahaan Des'Art, milik keluarga Adam. CEO dari perusahaan itu Kakak Kaina dan lagi dekat denganku. Kamu tahu itu kan?" "Ah, aku hampir lupa kalau kau sedang dekat dengan CEO dari Des' Art," gumam Rangga dengan nada pelan sambil menyunggingkan smirk tipis. Jika memang benar Kaina menyimpang dan Sera belum menikah, bukankah dia punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Sera? Kasus Kaina ini bisa ia jadikan senjata! *** Ceklek' Sera memasuki kamar dengan langkah riang. Senyumannya lebar karena senang bisa berbicara lugas di hadapan Rangga. Sudah dua tahun berlalu sejak kej
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







