LOGINPadahal Eiren nggak mempermasalahkan kalau semisal Freza tak ikut karena Eiren sudah didampingi sama Rizon dan Daddy." "Fix, Kak Frezanya suka sih." Sera berkata cepat, sambil menepuk pundak Kaina. "Ya, nggak apa-apa sih. Cuma … umm-- aku nggak ikut campur deh sama urusan Eiren dan Freza." Nakilla sejujurnya ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi dia ragu. Sera menatap ke arah Kaina yang juga sedang menatapnya. Sera senyum miris, setelah itu menjulurkan lidah pada Kaina. Sera terlihat meledek tetapi sebenarnya dia sendang menghibur sang sahabat. Menurut Sera, pria-pria yang harus dihindari itu … pertama pria duda. Sekalipun dudanya karena istri meninggal maupun cerai/mantan istrinya masih hidup, tetap harus dihindari. Yang ditinggal meninggal, cintanya bisa saja ikut tertanam dengan mantan istrinya. Dia menikah mungkin untuk sekadarnya saja, tanpa cinta. Kalau yang cerai dan mantanya masih hidup, jelas mantannya bisa menjadi pengganggu. Kedua, pria yang punya sahabat perempuan.
"Ampun deh," gumam Kaina pelan, menampilkan ekspresi berang pada kakaknya. Di sisi lain, Sera merogoh tasnya lagi. Dia mengambil satu plester gambar hati—sengaja ia ambil yang gambar hatinya paling besar. Sera meraih tangan suaminya kemudian menempelkan plester tersebut pada punggung tangan sang suami. "Jangan berantem yah, Mas," ucap Sera setelahnya, mendapat anggukan pelan dari Xavier. Xavier sendiri, pria dingin itu langsung senyum manis setelah mendapat plester cinta dari sang istrinya. Rasa senangnya samakin menjadi-jadi karena hati di plesternya lebih besar dari gambar hati pada plester di jari Kaina. Xavier tiba-tiba mengangkat tangan lalu menghadapkan punggung tangannya yang ditempel oleh plester tersebut pada Kaina. Dia menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjukkan evil smirk pada adiknya—pamer plester di punggung tangannya. "Apa sih, Kak?" kesal Kaina, menepuk tangan kakaknya supaya menjauh dari depan wajahnya. "Kayak anak kecil!" "Cih." Xavier berdecih pelan,
Kaina mengambil udang tersebut dari tangan Elzeren, lalu memakannya dengan tampang muka santai. Sejujurnya saat tangan Elzeren terulur di depan mulutnya, Kaina hampir membuka mulut untuk menerima suapan udang tersebut. Namun, dia tidak mungkin melakukannya. Wanita di sebelah Elzeren, sepertinya punya hubungan istimewa dengan Elzeren. Sebenarnya wanita itu sahabat Elzeren, tapi Kaina rasa mereka lebih dari sahabat. Oleh karena itu Kaina memilih menjaga perasaan wanita tersebut. Kaina memang suka pada Elzeren akan tetapi dia tidak akan melukai perasaan wanita lain hanya demi kemenangan. Sedangkan Elzeren, mungkin Elzeren memang sungguh menganggapnya adik, makanya Elzeren dengan santai menyuapinya. "Kalian berdua penyuka udang garis keras yah," ucap Nakilla, menatap Elzeren dan Kaina secara bergantian. "Udang emang enak, Kak," ucap Kaina santai, mengambil udang bakar di depannya lalu mengapa kulitnya. "El, aku juga mau dong," ucap Friza, menatap udang di depan Elzeren lalu me
'Loh, ini … Kak Elzeren sungguhan. Bu-bukan halusinasiku.' batin Kaina, segera menggeser kepala yang ternyata jatuh tepat di atas pantofel pria ini. Setelah itu, Kaina segera bangun. Dia mengambil selada yang Sera lempar padanya kemudian dengan santai melempar balik pada Sera. Sejujurnya Kaina sedang menutupi rasa gugupnya, dia bersikap enjoy seolah kehadiran Elzeren bukan suatu hal yang istimewa untuknya. Padahal hatinya menjerit …- 'Duduk di sampingku, Kak. Pliss … duduk di sebelahku yah!' Lalu ketika Elzeren duduk sungguhan di sebelahnya, Kaina senyum tipis dan senyuman malu-malu itu ia tutupi dengan tawa renyah. Orang-orang akan berpikir Kaina tertawa karena selada yang ia lempar mendarat di wajah Sera—menutupi wajah sahabatnya tersebut, bak sebuah masker. Namun, tawanya hanya samaran agar salah tingkahnya tak terdeteksi. "Kaina nyebelin!" kesal Sera, mengembungkan pipi lalu setelahnya mengunyah selada yang menutupi wajahnya tersebut dengan sebal. "Ahahaha … kamu dulua
"Aku gantungin di ring basket!" ucap Kaina dengan nada ngegas, "waktu itu aku berusia 8 tahun dan dia 16 tahun lah. Aku lagi main kereta api di teras samping, lagi asyik pokoknya. Trus si Lucifer ini datang. Awalnya dia duduk sambil nonton aku yang lagi main. Habis itu dia tiba-tiba bilang, 'Kai, kau ingin bisa melihat ikan di langit tidak?' Trus aku jawab, ikan itu di sungai dan laut. Di jawab sama dia 'ouh, berarti Kakak punya kekuatan super bisa melihat ikan terbang. Nah, sebagai bocah polos, aku terpancing kan. Aku bilang 'kekuaran super?' Kak Xavier menganggukkan kepala lalu tiba-tiba mengengendongku di atas pundaknya. 'Kakak bisa melihat ikan terbang dan duani ajaib di langit. Kalau ingin, Kakak akan tunjukkan caranya padamu. Trus dengan semangat, aku bilang iya. Habis itu, aku ditaruh di atas ring basket, Cok." "Loh, kok bisa?" Nakilla dan Sera sama-sama menatap heran campur penasaran pada Kaina. "Di atas ring sudah dikasih papan sama Kak Xavier. Dia kan dari dulu udah tingg
"Ada apa, Eiren?" tanya Nakilla setelah mengangkat telepon dari adiknya tersebut—adik yang jaraknya hanya beberapa menit darinya. 'Besok aku akan pulang dari kota ini. Kau ingin jalan-jalan denganku hari ini? Sebelum aku pulang.' ucap Elzeren dari seberang sana. Pria itu memang ada di sini karena Aleza King Fashion&Diamond memiliki cabang di kota ini, masih baru (jalan satu tahun ini). Oleh karena itu Elzeren ditugaskan oleh daddynya untuk rutin memantau langsung—minimal 3 bulan sekali. Namun, diluar urusan perusahaan cabang, Elzeren juga memang cukup sering ke kota ini karena urusan bisnis lainnya. Seperti proyek kolaborasi, menghadiri undangan pertemuan elit, dan lainnya. Bukan hanya ke kota, juga berlaku ke kota lain yang melibatkan pekerjaan. Elzeren memang banyak tuntutan, dia ahli waris keluarga Smith dan dia harus banyak belajar. Tak henti! "Yah, terlambat. Sekarang aku lagi piknik. Atau kamu ke sini saja?" ucap Nakilla, wajahnya biasa saja karena dia takut Elzeren past
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m







