LOGINSelamat membaca dan semoga suka dengan dua bab kita, MyRe. Sehat selalu buat kalian semua dan semangat! IG:@deasta18
"HAH?!" Inggita benar-benar cengang mendengar ucapan Raigen. Tubuhnya langsung menegang kaku dan tangannya refleks menyilang di depan dada. "Pak … Mas Raigen kena malaria yah?" gumam Inggita dengan ekspresi kaku, sisa dari rasa shocknya. Ah, tidak mungkin seorang Raigen mengatakan hal seperti tadi. Fix, pria ini memang sedang demam tinggi. Raigen tak mengatakan apa-apa lagi, memilih menghabiskan sarapannya dengan ekspresi wajah yang tampak … biasa. Datar tetapi penuh ketenangan. 'Ya elah. Dikacangin aku!' Inggita melirik muram pada Raigen. 'Udah dikagetin kayak uang kaget, sekarang malah sok … cool. Tapi emang cool sih. Ck, tapi aku masih kaget loh. Tadi itu … Mas Estetik ini kesurupan apa bagaimana?' batin Inggita, tanpa sadar terus menatap Raigen dengan ekspresi yang sungguh konyol. "Habiskan sarapanmu," ucap Raigen pelan, menatap istrinya yang terus mengamatinya—seolah dia ini … makhluk aneh yang baru turun ke bumi. "O-oh." Inggita ber-oh-ria lalu buru-buru menghabiskan
'Su-sungguhan loh. Pak Raigen benar-benar memanggilku sweetheart.' batin Inggita, membatu beberapa saat karena cengang dan masih shock dipanggil sweetheart oleh Raigen. Tak bisa Inggita pungkiri, dia salah tingkah dan juga senang. "Tidak, Mas," jawab Inggita sambil kembali senyum manis. Selain dipanggil sayang oleh Raigen, pria ini juga tampak perhatian dengan menempelkan tangan di keningnya. "Aku senang kau memasak tapi aku jauh lebih senang jika kau perhatian pada tubuhmu sendiri." Raigen berkata rendah dan berat, nadanya lembut—terasaa merdu serta menenangkan di pendengaran. Bahkan tanpa sadar, Inggita senyum-senyum mendengar suara Raigen, "merasa tidak lelah bukan berarti tidak butuh istirahat.""Oke, Mas." Inggita menjawab cepat sambil menganggukkan kepala. 'Ugh!! Pak Raigen ini kayaknya … benar-benar wujud dari karakter ML novelku deh. Demi apapun! Perfect banget!! Bukan cuma gelarnya saja yang estetik, tapi … emang aslinya se estetik itu orangnya. Sikapnya … Ya Tuhan!! Meme
"Aku habis dari dapur, Pak," jawab Inggita setelah mengenakan kembali kacamatanya. Dia menjawab seperlunya saja lalu setelah itu kembali mengetik naskah. Raigen menatap lekat ke arah Inggita. Bukankah dia baru memperingati perempuan ini supaya berhenti bersikap seolah dia adalah tuan Inggita? Sepertinya Inggita tidak mengindahkan ucapannya. Raigen tiba-tiba berdiri dari sofa, dia melempar pelan majalah bisnisnya lalu segara berjalan ke arah istrinya. "Untuk apa kau di dapur?" tanya Raigen setelah berada di sebelah Inggita. "Untuk …- aaaa--" Inggita spontan menjerit kaget ketika menoleh ke belakang dan ternyata Raigen sudah di sebelahnya. Ya ampun! Kapan pria ini pindah? Raigen tak menunjukan ekspresi apapun. Dia dengan santai mengambil kursi dan memposisikannya di sebelah kursi Inggita. Di kamar ini memang ada meja yang sering Raigen gunakan untuk meletakkan dokumen ataupun bendak lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan. Namun, setelah menikah ke dua kalinya, meja ini lebih se
"Kenapa kau melepas kacamatamu?" tanya Raigen tiba-tiba, menatap sejenak pada istrinya lalu kembali fokus pada jalanan. Inggita menatap Raigen yang sudah buram di matanya lalu langsung senyum percaya diri. Jika begini, Inggita sedikit tidak takut pada Raigen. Wajah galak pria ini tak lagi terlihat olehnya. "Biar buram saja, Pak," jawab Inggita sambil senyum-senyum. Raigen kembali menatap ke arah istrinya. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya geleng-geleng kepala karena … perempuan di sebelahnya ini tingkahnya lebih aneh dari si tengil Aluna. Ini anehnya … aneh yang sungguh aneh. Kacamata dilepas supaya buram? Hell! Ini sungguh aneh! *** Bug' "Aduh," gumam Inggita pelan, di mana dia tersandung dan hampir terjatuh saat naik ke anakan tangga pertama. Untung Raigen berjalan di belakangnya dan pria itu dengan sigap menariknya yang ingin jatuh—pada akhirnya Inggita jatuh dalam dekapan Raigen. "Aaa … maaf, Pak," ucap Inggita, buru-buru melepas pelukan Raigen lalu denga
--Ekstra Part-- "Cieee … yang dijemput suami." Inggita Larasati senyum malu-malu pada bosnya yang tak lain adalah adik iparnya sendiri—Aluna. Ini sudah seminggu semenjak Inggita menikah dengan kakak bosnya dan siklus hidupnya masih seperti sebelumnya, bekerja lalu pulang. Namun, hari ini ada yang berbeda, Raigen Harl Adam, si CEO yang dijuluki manusia indah tersebut datang menjemputnya. "Aku duluan yah, Bu," ucap Inggita sopan pada Aluna. Sekalipun sekarang Aluna sudah menjadi adik iparnya, tetapi di tempat kerja Inggita tetap memanggilnya 'bu. "Oke, Kak." Aluna mengacungkan jempol pada Inggita sambil senyum cerah. Aluna sendiri juga dijemput oleh suaminya. Namun, Aluna masih menunggu. Inggita berlari kecil ke mobil Raigen, dan ketika akan masuk ke mobil, Inggita lebih dulu menoleh ke sana kemari—seolah takut ada yang melihatnya masuk ke mobil mewah tersebut. Di dalam mobil, Raigen menghela napas pelan sambil geleng-geleng kepala ketika melihat istrinya menole
"Pernah itu makanya Ziel bisa ngomong gitu," ujar Kaina sambil senyum penuh maksud pada Sera. "Hehehe …." Pada akhirnya Sera hanya bisa cengengesan malu. "Ya Tuhan." Aluna seketika geleng-geleng kepala lalu setelahnya tertawa geli. "Tidak apa-apa, Sayang. Santai saja. Namanya juga anak-anak, memang nakal. Tapi kedepannya harus lebih hati-hati lagi yah, Sayang." "I-iya, Mom." Sera menjawab kaku, masih cengengesan karena benar-benar malu. Tiba-tiba saja Xavier datang, langsung menghampiri Sera. Pria tampan dengan pesona yang sangat menyihir itu tak duduk, tetapi berdiri di sebelah Sera sambil meletakkan tangan di atas ubun-ubun isrtinya. "Kau kenapa, Darling?" tanyanya penuh perhatian. Dia datang ke sini memang khusus untuk mengecek istrinya yang tadi sempat ia dengar berteriak. Khawatirnya, putranya nakal dan Sera yang tengah hamil tua kewalahan menghadapi putra mereka. "Tidak kenapa-napa, Mas," jawab Sera kikuk. Kemunculan Xavier di sini malah semakin membuatnya grogi
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







