LOGIN"Mungkin karena melihat Ayah berlutut, Tuan Xavier akhirnya luluh. Namun, dia tak langsung membantu karena menurutnya perusahaan kita sudah tidak layak untuk dipercayai. Oleh karena itu dia ingin jaminan berupa harta berharga dan hal yang sulit Ayah lepas dari hidup Ayah." Sera masih diam, tetapi dia benar-benar mencerna. "Sebenarnya, itu cara halus Tuan Xavier untuk mengusir Ayah. Di saat itu, jangankan harga berharga, tetap bisa makan saja kita sudah syukur. Tapi Ayah tidak mau menyerah begitu saja, Ayah harus dapat bantuan untuk bangkit dan mengalahkan Bunga. Dititik itu, Ayah teringat padamu dan … tanpa sadar Ayah menawarkanmu sebagai jaminan. Dan ajaibnya, Tuan Xavier bersedia menjadikanmu sebagai jaminan." Sera mengerjap berulang kali, menatap ayahnya dengan ekspresi wajah campur aduk. "Saat Ayah menikahkanmu dengan Tuan Xavier, Ayah langsung menanam janji pada diri Ayah sendiri. Dalam satu tahun, Ayah harus sudah bangkit, Ayah harus menebus utang secepatnya supaya Ayah bi
"Ya Tuhan!" ucap Diego sambil menatap putrinya yang sudah tidur di sofa dengan memijat pelipis. Xavier yang juga ada di sana—ingin pulang ke Adam'Group, senyum geli melihat kelakuan istrinya. Bagiamana tidak? Tadi perempuan ini makan begitu banyak dan sekarang dia tertidur. Apa setiap hari begini kelakuan istrinya selama bekerja di sini? Ck, menggemaskan!! "Sera!" panggil Diego dengan suara menggeram rendah. Sera mengangkat kepala lalu menoleh ke arah ayahnya. "U-udah jam makan siang yah, Yah?" ucap Sera dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Dia mengambil posisi duduk di sofa—menyandar sambil menggaruk tangan, masih mengumpulkan nyawa. "Makan siang kepalamu!" geram Diego lagi, "sana cuci muka." "Huaaah ...." Sera menguap cukup lebar, setelah itu kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Jangan tidur lagi, Sera Ghazalah!" peringat Diego, "ini masih jam kerja!" ucapnya lagi sambil mendekat pada putrinya. "Biarkan saja, Ayah Mertua," ucap Xavier tiba-tiba. Dia masi
Setahu Daddy kalau masih di kota ini, restoran terbaik itu dari keluarga Adam—keluarga suamimu." Diego begitu serius membahas si tuan Krabs. Dia ingin tahu seperti tuan Krabs ini, apakah lebih hebat dari Royal'Restoran milik keluarga Adam sehingga putrinya ingin bekerja di sana?"Tuan Krabs itu bosnya Spongebob, Yah. Hehehe …." Sera cengengesan. Diego seketika memejamkan mata, langsung menyandar ke kursi kerja sambil meletakkan tangan di dada. Awalnya dia belum sadar apa yang putrinya bahas, dia sama sekali tidak mengenal tuan Krabs. Tapi ketika Sera menyebut Spongebob, Diego langsung paham. Ck, bisa-bisanya dia permainkan oleh putrinya! Brak'Diego tiba-tiba menggebrak meja, bersama dengan matanya yang kembali terbuka. Sera lagi-lagi terlonjak kaget. "Keluar dari ruangan Ayah!" usir Diego dengan nada marah dan setengah membentak, "cepat!" usirnya. Sera cengar-cengir lalu cepat-cepat keluar dari ruangan ayahnya. Setelah di luar, Sera tertawa cukup kencang. Akhirnya dia keluar dar
Sera langsung menatap berang pada suaminya. Xavier terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Sera yang ditekuk dan terlihat muram. "Hanya bercanda, Ghazalah," ucap Xavier sambil terkekeh pelan, mengulurkan tangan untuk menyentuh pucuk kepala Sera—menepuknya pelan dan berulang-ulang. "Daddy bilang jangan tabrak akuariumnya lagi," ucap Sera pelan, menatap suaminya dengan raut muka campur aduk—masih kesal dengan ucapan Xavier sebelumnya akan tetapi dia juga gemas pada pria ini karena … bisa-bisanya punya hobi menghancurkan akuarium milik ayahnya sendiri. "Humm." Xavier berdehem singkat, "besok akuarium Daddy akan kuganti." "Lagian … kok bisa Mas …-" "Aiden mendorongku," jawab Xavier cepat, memotong ucapan Sera. Sera mengerutkan kening, akan tetapi tak mengatakan apapun setelah itu. *** Seperti biasa, hari ini Sera ke kantor ayahnya untuk bekerja. Tadi pagi, Safara pamit padanya untuk pergi berobat. 'Untuk sekarang kita tidak akan menjadi teman, karena sudut pandangku padamu ma
Brak' Prang' "Itu suara apa, Mas?" Aluna tampak terkejut saat mendengar suara benda jatuh dan pecah. "Anak nakal itu pasti menjatuhkan aquariumku lagi, Aimee," gumam Kaizen, di mana ekspresi wajahnya yang sebelumnya tampak tenang kini berubah dingin dan menahan kesal. Kaizen segera berjalan ke arah ruang sebelah, di mana dia yakin sekali Xavier si biang kerok ada di sana. Aluna sendiri ikut ke sana untuk mengecek dan melihat apa yang terjadi di ruang santai. "Ya ampun, Anak Tampanku!!!" horor Aluna ketika sudah di sana dan melihat Xavier berbaring di lantai dengan akuarium yang telah pecah—di mana air membasahi lantai dan Xavier yang terlihat seperti katak berenang, "kamu ngapain, Sayang? Cosplay jadi katak apa jadi mermaid man?" Aluna mencoba menghampiri putranya akan tetapi tangannya tiba-tiba di tahan oleh Kaizen, di mana Kaizen menyentak pergelangan tangannya—tak mengizinkan Aluna mendekat pada putranya yang masih berbaring di lantai. "Xavier Ghazan Adam!" geram Kaize
Safara menatap lebih lekat dan intens pada Sera. "Aku tidak hancur, tapi aku ketakutan setengah mati. Siapapun yang telah menjadi istri Kak Xavier, bagiku itu adalah orang jahat! Dia merebut Kak Xavier dariku dan … siapa lagi yang akan melindungiku setelah ini?" Ketakutan terlihat jelas di wajah Safara, "akhirnya aku langsung pulang ke tanah air. Sepanjang jalan, di kepalaku hanya tersusun rencana bagaimana cara memisahkan Kak Xavier dengan istrinya. Kecelakaan itu … a-aku yang merencanakannya. A-aku sengaja menabrakkan mobil ke pembatas jalan, aku sengaja melukai diriku sendiri supaya Ka-Kak Xavier datang padaku dan meninggalkanmu." "Aku tahu." Sera senyum tipis. "Ke-kenapa kamu bisa tahu?" Safara melebarkan mata, kaget luar biasa karena Sera mengaku tahu masalah kecelakaan itu. "Awalnya tidak tahu. Tapi setelah Kaina menceritakan apa masalahmu padaku, aku langsung yakin kalau kecelakaan itu salah satu trikmu supaya kamu mendapatkan perhatian Mas Xavier." Sera berkata tenang,
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







