Share

Bab 98. Super Posesif

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-08-22 17:08:27

Sensasi cemburu dan amarah yang menumpuk sejak kemarin sore kembali meluap.

Melihat Ryan berdiri di depan rumah Elena pagi-pagi sekali dengan senyum lebar dan membawa berbagai buah tangan benar-benar membakar batas kesabaran Julian.

Ia tidak sudi ada pria lain yang terus-menerus mencoba mendekati wanitanya. Ia tidak akan membiarkan sekecil apa pun celah yang ada.

Julian membatalkan niatnya untuk melangkah keluar kamar. Pria itu segera mencari nomor kontak komandan tim pengawalnya yang berada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 209

    Elena membuka mata dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Di ambang pintu kamar, berdiri Julian Wardana.Wajahnya pucat karena kelelahan, bibirnya terluka, dan mantelnya dipenuhi noda darah. Namun, matanya menyala dengan amarah yang begitu dingin hingga kedua penyusup itu spontan melepaskan cengkeraman mereka.Elena terhuyung. "Julian ...."Suaminya menatapnya hanya selama sepersekian detik. Julian melihat air mata di wajah Elena, pergelangan tangannya yang memerah, serta ponsel yang tergeletak jauh dari jangkauan.Pria itu langsung menyerahkan senjatanya pada Leon dengan ekspresi yang begitu dingin. Kemudian dia melangkah masuk dan langsung menerjang mereka.“Bangsat! Berani sekali kamu menyentuh istriku!” teriaknya. Dia menghajar mereka sampai babak belur.Seberapa keras mereka melawan, tetapi Julian seperti orang kesetanan. Tenaganya begitu besar sampai orang itu kewalahan.“Julian, cukup!” tegur Elena. Dia panik melihat suaminya seperti itu. Ia juga tidak ingin suaminya semaki

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 208

    ‘Bagaimana ini, aku tidak memiliki senjata. Aku juga tidak tahu bagaimana cara melawan,’ batin gadis itu.Kali ini ia benar-benar memahami betapa menakutkannya dunia yang selama ini berusaha disembunyikan suaminya dari dirinya.Pintu kamar akhirnya terbuka. Langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Sepertinya lebih dari dua orang.Elena memejamkan mata, berdoa dengan suara yang nyaris tidak terdengar.‘Tuhan, jangan biarkan sesuatu terjadi kepadanya. Jika memang harus ada yang terluka malam ini, biarkan aku saja. Jangan Julian.’Langkah kaki itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan ruang ganti.Elena membekap mulutnya lebih erat. Gagang pintu bergerak perlahan.Sementara itu, mobil Julian melesat membelah jalan bersalju.Pria itu duduk di kursi belakang dengan rahang mengeras, menatap layar ponsel yang terus menunjukkan panggilan tak terjawab oleh istrinya.Leon duduk di sampi

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 207

    Seorang pengawal berlari masuk. "Tuan Besar! Ada kendaraan mendekat dari arah selatan!"Julian yang sudah siap pulang itu segera mengangkat senjata. "Berapa banyak?""Satu kendaraan. Lampunya mati. Kami belum dapat memastikan siapa pengemudinya."Leon mengumpat pelan. "Bangsat! Masih ada orang lain?""Amankan tawanan. Jangan biarkan siapa pun meninggalkan bangunan tanpa pemeriksaan!" perintah Julian.Ia melangkah menuju pintu. Namun, ketika baru mencapai ambang, perangkat komunikasi di sakunya bergetar. Ada notifikasi pesan masuk.Julian mengeluarkan ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal. Hanya ada satu kalimat di layar.Anonim: Sekarang istrimu mungkin akan menjadi alasan berikutnya untuk menguburmu.Seketika, seluruh ekspresi Julian berubah. Kemarahan yang begitu dingin hingga membuat Leon yang berdiri di dekatnya ikut merasakan perubahan suasana.Julian membaca pesan itu sekali lagi. Lalu ia segera menelepon nomor Elena.Nada sambung terdengar beberapa kali. Na

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 206

    Julian mengangkat alisnya. "Target utama?"Ia melirik para pengawal yang bertahan bersamanya. "Ternyata mereka benar-benar tidak menyukaiku.""Tuan, saya rasa ini bukan waktunya bercanda!" sahut Leon dari balik perlindungan."Kalau begitu, berhentilah memberiku alasan untuk melakukannya." Julian bergerak menuju sisi ruangan yang lebih gelap. Begitu melihat dua orang anak buahnya terdesak di dekat tiang penyangga, ia langsung menerjang keluar, menerobos kepulan asap yang memenuhi ruangan."Leon! Bawa mereka ke sisi barat!" teriaknya di tengah rentetan tembakan."Siap, Tuan Besar!"Leon menyambar kerah salah seorang pengawal yang terluka, menariknya ke balik tumpukan peti, lalu memberi isyarat kepada dua orang lainnya untuk bergerak. Namun, sebelum mereka sempat mencapai perlindungan berikutnya, tiga penyerang muncul dari balik deretan tong besi."Jangan biarkan mereka lolos!" Salah se

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 205

    Leon terdiam selama sepersekian detik. "Tentu saja saya tidak ingin mati, Tuan.""Bagus. Orang yang tidak takut mati biasanya tidak cukup pintar untuk bertahan hidup."Julian menggeser posisi, mengamati celah di antara peti-peti. "Jadi, jangan mati malam ini."Sebelum Leon sempat menjawab, Julian keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan ke arah mezanin. Dua penembak musuh kehilangan posisi, memaksa barisan di atas terpecah."Bergerak!" perintahnya.Para pengawal yang masih bertahan segera berpindah ke posisi yang lebih aman. Namun, musuh telah menunggu kesempatan itu.Sebuah benda kecil meluncur dari balkon, memantul di lantai, lalu berhenti hanya beberapa meter dari Julian.Leon melihatnya lebih dahulu."Granat!"Ledakan menyusul sesaat kemudian.Duarr!Cahaya putih meledak di hadapan Julian. Dunia seolah terputus dari seluruh indra yang

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 204

    Salju di dalamnya belum membeku sepenuhnya. ‘Mereka baru saja melewati tempat tersebut. Dan jumlah mereka jauh lebih banyak daripada informasi yang diterima,’ batin Julian."Semua personel, dengarkan aku," ucap pria itu pelan, melalui radio. "Jangan berkumpul di pintu masuk. Ambil posisi perlindungan dan jangan bergerak tanpa perintah."Leon menatapnya. "Tuan, apa Anda mencurigai sesuatu?"Julian berdiri perlahan. "Aku tidak mencurigai sesuatu, Leon."Ia menoleh kepada tangan kanannya itu. Senyum tipis yang muncul di wajahnya sama sekali tidak mencapai mata."Aku hanya mulai bosan menunggu orang-orang bodoh itu menunjukkan wajah mereka."Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat senapan dan memberi isyarat kepada dua pengawal untuk memeriksa sisi bangunan.Namun, sebelum mereka sempat bergerak, sebuah suara terdengar dari dalam gudang. Ketukannya konstan, beberapa kali dengan jumlah berbeda.Julian m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status