LOGIN“Apa maksudnya ini?” tanya Daven dengan geramnya. Padahal tinggal sedikit lagi untuknya mengetahui, hal yang beberapa waktu belakangan mengganggu pikirannya. Bohong kalau Daven tak berharap banyak atas hasil penyelidikan Rio. Terutama tes DNA yang Daven minta lakukan secara diam-diam.
Dia tak menyangka jika Rio menemui banyak kendala termasuk ...
“Saya pikir hanya satu hari anak itu dalam pengawasan banyak orang, tapi ternyata saya sama sekali tak bisa mendekat
Daven berdiri membelakangi ruangan, menatap ke luar jendela besar yang membentang dari lantai ke langit-langit. Kota Mighatan terlihat jelas di hadapannya. Siang hari ramai dengan lalu-lalang kendaraan, gedung menjulang tinggi, dan kesibukan yang tak pernah benar-benar berhenti. Tapi semua pemandangan itu hanya menghibur penglihatannya saja. Tidak dengan pikirannya yang ada di tempat lain.Tangannya terkepal di saku celana, rahangnya mengeras. Hasil penyelidikan Rio terus terngiang di kepalanya—bukan karena isinya yang lengkap, melainkan karena ketidakberhasilannya. Rio tak bisa mendekat bahkan sekadar melakukan test DNA. Bahkan informasi mengenai kelahiran Josh di SunCity mendadak terhapus. Daven merasa ada yang ditutupi dan firasatnya menolak diam.Ada desakan dari dalam dirinya—keras dan mengganggu—yang mengatakan bahwa Josh mungkin saja adalah putranya.Tapi jika itu benar… lalu apa?Ia belum tahu jawabannya. Dan ia t
“Apa maksudnya ini?” tanya Daven dengan geramnya. Padahal tinggal sedikit lagi untuknya mengetahui, hal yang beberapa waktu belakangan mengganggu pikirannya. Bohong kalau Daven tak berharap banyak atas hasil penyelidikan Rio. Terutama tes DNA yang Daven minta lakukan secara diam-diam.Dia tak menyangka jika Rio menemui banyak kendala termasuk ...“Saya pikir hanya satu hari anak itu dalam pengawasan banyak orang, tapi ternyata saya sama sekali tak bisa mendekat,” kata Rio dengan helaan frustrasi. “Bahkan orang yang bekerja untuk saya sampai menyamar sebagai penilik sekolah pun, tak bisa menjangkau Josh dengan mudah.”“Bodoh!” maki Daven tak terima. “Apa susahnya bertemu anak seusia Josh? Kalian bisa mengajaknya bermain? Membelikannya permen? Atau ... apa pun bisa kalian lakukan untuk menariknya keluar! Meski dia pintar, dia tetap anak-anak. Dan bukan hal yang sulit mengambil satu helai rambutnya, kan?”
“Temani aku menemui produser,” kata Vanessa setengah berbisik. “Dia yang merekomendasikanku untuk ambil bagian di film ini. Aku harus menyapanya dengan benar, kan?”Daven diam saja.“Selama aku berada di Paris, kau makan dengan teratur, kan?” Vanessa sedikit bersandar pada lengan Daven. Ekor matanya menangkap seseorang yang terlihat mengawasi gerak geriknya. Vanessa tak akan membiarkan seseorang mengambil celah untuk menjatuhkannya. Mereka adalah pasangan serasi dan harus terlihat seperti itu, di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi bagaimana pun.“Aku tak bisa terlalu lama di acara ini,” sahu Daven datar.Daven bisa mendengar Vanessa berdecak sebal tapi senyum wanita itu masih terus terlihat. “Padahal ada banyak yang ingin kutemui saat perjamuan nanti. Kau harus menemaniku, Sayang.”Daven masih enggan bicara.Lampu gantung kristal berpendar hangat di langit-langit ballroom hotel.
“Menurut James, Nyonya Vanessa sudah sampai di Sky Dining,” kata Arsen sambil melirik lewat kaca spion ke arah Daven yang duduk tenang di kursi belakang.Mobil itu melaju stabil, menyusuri pusat kota yang mulai dipenuhi cahaya malam dari bangunan sekitar. Tapi ketenangan yang terlihat dari luar tak sejalan dengan apa yang dirasakan Daven.Sejujurnya, ia tak ingin berada di sana malam ini.Pertemuan ini bukan sesuatu yang bisa ia hindari, bukan pula karena keinginan untuk memperbaiki hubungan yang sudah terasa semakin hambar. Tapi lebih karena tuntutan—acara gala malam yang digelar sebagai bagian dari promosi film terbaru Vanessa. Film itu sedang naik daun dan Vanessa jadi pusat sorotan media. Sebagai suaminya, Daven harus hadir di sana. Menampilkan senyum terbaiknya serta mendampingi Vanessa dan memperlihatkan betapa mesranya mereka.Andai saja bukan karena reputasi, Daven lebih memilih duduk di meja kerjanya menyusun banyak perencanaan
“Kenapa kau harus menjauh?”Pertanyaan itu membuat Althea menatap Chase dengan heran.“Jadi ... ini alasanmu mengundurkan diri? Menjauh dari radar Daven Callister yang mendadak datang ke tempat ini?”Althea menatap cangkir kopinya dengan pandangan kosong. “Aku hanya ingin melindungi anak dan kehidupanku. Aku tak ingin direcoki oleh pria itu lagi. Jika keputusanku bertahan di sini membuat Josh rentan, aku harus memilih pergi.”Chase mengangguk pelan. Tak ada sorot menyalahkan dari tatapannya. Entah apa yang pernah Althea alami tapi Chase yakin, itu bukan masa lalu yang baik untuk dikenang. Buktinya sampai wanita itu memutuskan hal yang cukup besar berkaitan dengan hidupnya. Hanya saja ...“Aku tidak akan memaksamu untuk bertahan, Althea. Tapi kalau boleh jujur, kau terlalu berharga untuk pergi begitu saja. Aku juga belum memahami kenapa kau yang harus menjauh darinya. Setelah yang kau lakukan selama ini ...
“Kau … tidak bercanda, kan?”Althea menghela panjang. Ia memijat pelipis dengan raut wajah lelah. Berulang kali ia menatap selembaran kertas berisikan sesuatu hal yang membuat Chase menatapnya dengan tajam.“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Chase entah sudah berapa kali. “Apa keberadaanku benar-benar tak kau anggap, Althea? Sampai kau tak mau mengatakan apa pun dan tiba-tiba saja mengajukan permohonan resign?”“Bukan begitu,” sahut Althea dengan lelahnya. “Hanya saja aku bingung harus mengatakan dari mana?”Chase, yang sejak tadi merasa geram tapi menahan diri agar tak dikuasai emosi. Apalagi Althea sangat tertekan beberapa hari belakangan dan Chase tak tahu apa sebabnya. Apa mungkin masalah yang Althea hadapi sangat berat? Sampai membuatnya memutuskan untuk resign? Padahal jujur saja, Chase sangat senang Althea bekerja sebagai staff pengajar di sekolahnya. Bukan karena ia memiliki kete
“Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.
“Kau tidak pernah bertanya,” jawab Althea datar.Daven menggeleng heran. “Kau mengejutkanku.”Althea memilih tak memberi tanggapan apa pun. Baginya, apa yang ia rasa malam ini sangat mewah. Tak pernah ia sangka bisa berdiri di samping suaminya dan bicara sesa
Gema tawa dan denting gelas anggur menyambut pasangan itu saat memasuki aula utama Kedutaan Besar Jepang malam itu. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal, orkestra klasik mengalun lembut di sudut ruangan. Daven, dalam setelan hitam Armani yang sempurna, segera menjadi pusat perhatian. Bebera







