共有

[74]

作者: Major_Canis
last update 公開日: 2026-05-05 06:53:10

Sepanjang jalan, Vanessa menangis di sisi ayahnya. Perasaannya campur aduk. Bagaimana semua ini bisa terjadi pada hidupnya? Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi apa yang mereka lakukan saat berdua.

Tapi ... Vanessa tak memulai semua ini tanpa sebab.

Semua ini salah Daven! Jika suaminya tak mengabaikan keberadaannya, ia tak mungkin meminta perhatian dari pria lain. Apalagi pria ini tak pernah mengeluh, selalu menuruti semua keinginan Vanessa tanpa banyak membantah.

“Aku tak ak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
udah ketauan selingkuh aja, baru mau berhenti berkarir. klo belum ketauan mah selingkuh terus dengan alasan berkarir
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [176]

    Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [175]

    Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [174]

    “Tuan, pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Tuan Josh, sudah datang.”Daven juga Chase segera menoleh, menatap dua orang pria berseragam lengkap yang datang untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi.“Jadi ... Anda bisa memberitahu kami, Tuan Polisi?” tanya Chase tak sabar.Polisi yang hadir di ruang tunggu bicara hati-hati. “Kami sudah memeriksa sopirnya. Pria itu meninggal di tempat. Hasil visum sementara menunjukkan ia terkena serangan jantung mendadak. Mobil kehilangan kendali saat dikemudikan olehnya. Jadi dugaan sementara, ini murni kecelakaan.”“Jadi maksud Anda,” suara Chase terdengar menahan amarah yang berusaha ditekan, “semua ini hanya kecelakaan biasa?”Polisi itu mengangguk, nada bicaranya tetap formal. “Benar, Tuan Miller. Sopir mobil mengalami serangan jantung mendadak. Kendaraan keluar jalur, dan—” ia melirik c

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [173]

    “Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [172]

    Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [171]

    Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [137]

    “Selamat siang, Tuan Josh,” sapa Arsen dengan sopan.“Hallo, selamat siang?” Tapi tatapan Josh jatuh pada Daven, seolah meminta bantuan agar dia tahu siapa pria yang menyapanya ini.“Dia Arsen. Kau pasti sudah beberapa kali bertemu dengannya, kan? Arsen

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [135]

    “Tuan Daven, kopi Anda sudah saya letakkan di meja.”Daven yang baru saja menuruni tangga menuju ruang makan, hanya mencebik sebal dengan kedatangan Arsen yang tampak bersemangat.“Apa kau juga mempercepat istirahatmu karena sudah tak tahan untuk bekerja, Andy?&rdq

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [133]

    “Sebaiknya kau beristirahat, Arsen,” kata Daven penuh penekanan.Baru kali ini ia menyadari jika asistennya itu sangat keras kepala. Chris mengantarkan mereka terlebih dahulu ke rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan untuk Arsen dan Andy. Beruntung tak ada luka serius dan perlu dik

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [132] b

    Daven hanya tersenyum tipis, lalu menatap tajam ke arah Harold yang masih terdiam. “Ini baru permulaan. Ingat, Harold—aku tidak pernah melupakan siapa yang mencoba mempermainkanku.”“Tuan Harold!” Seseorang berteriak memanggil dari arah belakang. “Kami s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status