Share

Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia
Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia
Author: Arlynta

1. Unexpected

Author: Arlynta
last update publish date: 2026-08-23 18:36:54

Sore itu berjalan seperti biasanya. Mobil yang dikendarai oleh Thalia berhenti tepat di depan mansion Blaine. Namun ada satu hal yang membuat kening Thalia berkerut, beberapa mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di halaman kediaman itu. Thalia tahu tentang betapa sibuk dan banyaknya tekan kerja ayahnya, tetapi baru kali ini dia melihat mobil terparkir sebanyak ini. Tidak seperti biasanya.

"Ayah sedang kedatangan tamu?" gumam Thalia pelan.

Perhatiannya teralihkan ketika para pelayan datang dan membukakan pintu untuknya sementara yang lainnya beralih ke pintu belakang, tempat dimana paper bag berlogo butik ternama dan barang-barang mahal lainnya berada. Thalia baru saja pulang dari aktivitas hariannya, menghabiskan uang ayahnya.

Thalia akhirnya keluar dari mobil, pandangannya terhenti sejenak. Ada beberapa pria asing berjaga di sekitar pintu masuk, wajah-wajah yang sama sekali tidak dikenalinya.

Mereka bukan pengawal ayahnya, seragam gelap dan sikap waspada mereka berbeda dari para pengawal keluarganya yang selama ini sudah begitu familiar baginya.

Thalia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk. Biasanya pengawal ayahnya akan menyapanya, namun mereka hanya diam. Gadis berambut coklat itu memutuskan untuk tidak mengambil pusing dan tetap berjalan kedepan, hanya melirik sekilas sebelum fokus ke tujuannya, ruang kerja ayahnya.

Saat baru membuka sedikit pintu kerja ayahnya, Thalia melihat ayahnya duduk meja kerjanyasementara beberapa pria berdiri tidak jauh darinya. Namun perhatian Thalia langsung tertuju pada satu orang yang duduk di sofa.

Seorang pria yang mengenakan setelan hitam sederhana tetapi jelas bukan pakaian sembarangan. Rambut hitamnya dan mata birunya itu membuat Thalia secara terang-terangan terus menatapnya.

Tubuh pria itu bersandar tenang pada sofa, satu tangan berada di sandaran sementara wajahnya mengarah kepada Jonathan Blaine, ayah Thalia.

Thalia tidak mengerti mengapa suasananya begitu serius. Biasanya ruang kerja ayahnya terasa hangat. Namun, sore ini berbeda.

"Aku sudah mencoba memperbaikinya," lanjut Jonathan. "Aku menjual beberapa aset yang tidak terlalu penting. Menghentikan proyek yang tidak terlalu mendesak. Menggunakan cadangan dana untuk mempertahankan perusahaan... dan itu tetap tidak cukup."

"Masalahnya bukan perusahaanmu," ujar Childe.

"Lalu?"

"Kesepakatan itu."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi, Sedang Thalia mengerutkan dahinya bingung.

"Aku sudah membatalkannya, aku tidak punya pilihan." Raut wajah Jonathan mulai sedikit berubah.

Childe menatap Jonathan tanpa ekspresi. "Selalu ada pilihan."

Jonathan menghela nafas kasar. "Aku tidak bisa menyerahkan perusahaan dan orang-orangku kepada mereka."

"Dan sekarang mereka menganggap itu sebagai penghinaan." Apa yang Childe katakan adalah kenyataan dan Jonathan tidak bisa menghindarinya.

Perlahan jari Jonathan mengetuk-ngetuk pelan ke meja. "Aku sudah menawarkan kompensasi."

"Mereka tidak menginginkan uangmu."

"Lalu apa yang mereka mau?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Kedua pria tersebut terdiam sementara Jonathan mulai mengalihkan pandangannya ke arah Thalia yang masih mengintip.

Ya, dia tahu kalau Thalia sedang mengintip.

Pria itu juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah Thalia lalu sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman miring.

Thalia mendadak gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah baru saja ketahuan menatap seseorang terang-terangan, meskipun pria itu sudah menyadarinya sejak pertama kali Thalia menatapnya.

"Kenapa?" ucap Thalia sambil menatap ayahnya sambil berjalan keluar dari persembunyiannya.

Jonathan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada."

"Papa?"

"Ini urusan bisnis," ucap Jonathan sambil menatap berkas di tangannya.

"Terus kenapa semuanya terdengar seperti masalah besar?"

Jonathan tidak menjawab. Sementara pria yang tadinya bersandar di sofa itu justru mengambil gelas yang berada di atas meja dan meneguk sedikit sebelum berkata, "Mereka ingin membuatmu kehilangan sesuatu yang tidak bisa kau beli kembali."

Jonathan menatapnya tajam. "Jangan."

Thalia semakin bingung. "Apa maksudnya?"

Jonathan mengusap wajah sebelum akhirnya bersandar di kursinya. "Mereka sudah mulai mencari cara untuk mendekat."

"Siapa?" tanya Thalia bingung.

"Orang-orang yang terlibat dalam kesepakatan itu," balas Ayahnya yang membuat Thalia mengernyit.

"Thalia, papa bisa kehilangan semua yang sudah papa bangun selama puluhan tahun."

Thalia terdiam namun ayahnya tidak terlihat terlalu takut kehilangan semua itu. Tatapannya justru jatuh kepada putrinya. "Tapi bukan itu yang papa takutkan."

Thalia menatapnya. "Lalu?"

Jonathan terdiam cukup lama. "Papa takut mereka akan menyentuhmu."

Thalia sedikit terkejut mendengar perkataan ayahnya, ia menatap ayahnya bingung. "Aku? Kenapa mereka tahu aku?"

"Karena kau putri papa."

Jawaban itu terdengar sederhana namun justru membuat Thalia semakin tidak nyaman. Ia menoleh kepada pria yang duduk di seberangnya, pria itu sedang memperhatikannya. Tatapannya berbeda dari sebelumnya seolah pria itu sedang menilai sesuatu yang tidak diketahui Thalia.

"Papa akan melindungiku, kan?" tanya Thalia pada akhirnya.

Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam cukup lama dan jawaban akhirnya keluar justru membuat hati Thalia terasa tidak enak.

"Papa tidak yakin," bahkan Jonathan tidak berani menatap putrinya.

Thalia menatapnya tidak percaya. Ayahnya tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu. "Kenapa?"

Jonathan menunduk sebentar sebelum menatap putrinya. "Dan itu salah Papa. Ada keputusan yang harus papa ambil."

"Keputusan apa?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik, Thalia mulai merasa tidak nyaman. Kemudian Jonathan mengalihkan pandangan kepada pria yang sejak tadi duduk dengan tenang di sofa.

"Papa sudah meminta bantuannya."

Thalia mengikuti arah pandangan ayahnya.

Pria itu.

"Bantuan apa?" Thalia menatap Jonathan bingung.

Jonathan menjawab dengan suara yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Mulai sekarang, dia yang akan memastikan kau tetap aman."

Thalia mengerutkan kening. "Maksud papa?"

"Kau akan menikah dengannya,” ucap Jonathan dengan nada tegas.

“Papa serius?” tanya Thalia sambil menatap Jonathan dengan tatapan tak percaya.

“Ya,” jawab Jonathan tanpa ada rasa ragu sedikitpun.

“Aku bahkan tidak tahu dia siapa, bagaimana mungkin aku menikah dengannya?!”

Thalia sedikit frustasi, dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi sehingga Jonathan berpikir untuk menikahinya dengan orang asing.

Jonathan menghela nafas panjang. “Karena Papa sudah tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi.”

Thalia terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa jauh lebih menakutkan daripada pengumuman pernikahan itu sendiri.

“Kenapa Papa berbicara seperti itu?”

Jonathan menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Thalia, keadaan sudah berubah.”

Thalia mulai berpikir cepat, mencari jalan lain untuk membujuk ayahnya agar tidak melakukan hal yang Thalia tidak inginkan. “Kalau perusahaan Papa sedang bermasalah, kita bisa memperbaikinya.”

Sementara Jonathan hanya menatap putrinya, tatapan yang biasanya penuh keyakinan itu justru dipenuhi sesuatu yang belum pernah Thalia lihat sebelumnya.

Keputusasaan.

Thalia terdiam. Jonathan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Beberapa kendaraan hitam masih terparkir di luar, sementara pria-pria asing berdiri di berbagai sudut halaman.

Jonathan menarik nafas panjang sebelum akhirnya berkata, “Pernikahan ini bukan karena Papa ingin menjodohkanmu.”

“Lalu kenapa Papa melakukannya?” Thalia berusaha keras untuk memahami isi pikiran ayahnya, namun hasilnya benar-benar tidak bisa dimengerti.

“Ini sebagai perlindungan, Thalia.”

“Aku bisa melindungi diriku sendiri,” jeda Thalia. “Papa bisa menambah pengawal untukku, atau pindahkan saja aku keluar negeri.”

Childe melirik Thalia ketika gadis itu bersusah payah membujuk ayahnya sendiri, sementara Jonathan menghela napas panjang. “Semua itu tidak akan cukup.”

Thalia terdiam.

“Tidak ada tempat yang benar-benar aman selama kau masih menggunakan nama keluarga kita, nama Blaine.”

Thalia menatap ayahnya untuk yang kesekian kalinya. Kalimat itu perlahan membuat pikirannya kosong.

“Dan nama keluarga Tuan Childe, akan melindungimu ketika aku sudah tidak sanggup untuk melindungimu lagi.”

Perkataan itu keluar dengan mantap dari seorang Jonathan Blaine, sosok yang selama ini selalu Thalia percaya sebagai pahlawan terbaiknya, namun kini tampaknya masalah yang dialami oleh Jonathan tidak sesimpel itu sehingga mau tak mau Thalia harus menuruti keinginannya.

“Jadi… aku harus menikah dengan orang asing supaya aman?” nada suara Thalia mulai terdengar sedikit kesal.

“Dia bukan orang sembarangan.” Jonathan melangkah ke arah sofa, tempat dimana Childe duduk dengan santai sambil menyimak drama di antara anak dan ayah ini.

Thalia spontan menoleh kepada Childe. Pria itu masih duduk dengan tenang, tatapannya bertemu dengan mata Thalia. Kali ini Thalia tidak langsung mengalihkan pandangan.

“Apa sebenarnya pekerjaanmu?”

Childe tidak langsung menjawab, justru Jonathan yang menjawab. “Dia memiliki cukup kekuasaan untuk menjagamu.”

Thalia mengerutkan kening. “Jawaban Papa aneh.”

Childe akhirnya angkat bicara. “Pekerjaanku tidak akan menjadi masalah selama kamu mengikuti kesepakatan.”

Thalia menatapnya heran. “Kesepakatan?”

“Pernikahan ini, bukan pernikahan yang dibangun atas perasaan.” Suara Childe rendah dan datar saat mengatakannya hingga membuat Thalia sempat terdiam.

“Bagus,” jawab Thalia cepat.

Childe menatapnya, “aku juga tidak berniat memaksamu memiliki perasaan apapun terhadapku.”

Thalia sedikit terkejut. Setidaknya pria itu tidak terdengar seperti seseorang yang berharap banyak darinya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kerja sama.”

“Kerja sama?” ucap Thalia mengulangi perkataan Childe dengan bingung.

“Pernikahan ini akan menjadi hubungan kontraktual. Kau mendapatkan perlindungan. Aku mendapatkan sesuatu yang sudah disepakati ayahmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   13. Undangan di Tengah Malam

    "Nyonya Thalia, Tuan Moretti meminta Anda turun sekarang," ujar seorang pelayan dari balik pintu sambil mengetuknya dengan sopan. Thalia yang baru bangun beberapa menit lalu dan sedang duduk di tepi ranjang langsung mendengus kesal, ia melirik jam dinding yang menunjukkan angka 03.00 dini hari. Dia masih belum melupakan kejadian semalam, ketika Childe menyeretnya ke kamar dan menguncinya dari luar seolah dirinya seorang tahanan. "Kalau dia ingin bertemu denganku, suruh saja dia naik sendiri," balas Thalia sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Maaf, Nyonya, tetapi Tuan Moretti mengatakan bahwa ada pertemuan yang harus Anda hadiri sekarang dan meminta Anda berpakaian rapi," jawab pelayan itu dengan hati-hati. "Pertemuan jam tiga dini hari?" gumam Thalia pelan. Thalia terdiam sejenak sebelum bangkit dari ranjang. Dia tidak berniat menuruti perintah Childe begitu saja, tetapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada keinginannya untuk tetap berada di kamar. "Aku turun bukan kar

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   12. Tidak Ada Jalan Keluar

    "Kalau kalian pikir bisa menahanku di sini, kalian salah besar," gumam Thalia sambil melirik pintu yang masih tertutup rapat sebelum mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Ruangan itu luas, dilengkapi ranjang besar, lemari pakaian, meja rias, sofa, dan jendela tinggi yang menghadap ke belakang mansion. Semuanya tampak mewah. Namun, saat ini tidak ada satu pun benda di dalamnya yang terasa seperti miliknya. Pandangan Thalia berhenti pada jendela tersebut. Sebuah ide muncul di kepalanya. Jika pintu tidak bisa dibuka, dia masih bisa mencari jalan keluar melalui jendela. Thalia segera menghampiri meja kecil di dekat sofa. Tangannya bergerak cepat, menyibakkan beberapa barang yang berada di atasnya sebelum tangannya menemukan sebuah vas dekoratif yang cukup berat. Dia mengangkat benda itu dengan kedua tangan, lalu berjalan menuju jendela. "Bersiaplah menerima kekacauan ini!" Tanpa membuang waktu, Thalia mengayunkan vas itu ke arah kaca. BUK! Hasilnya tetap nihil. Kaca i

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   11. Tahanan Rumah

    "Jangan sentuh aku!" bentak Thalia sambil meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman pria itu. "Childe, lepaskan tanganku! Aku belum selesai bicara!" Childe tidak mengendurkan cengkeramannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong, membawa Thalia menuju kamar gadis itu tanpa menghiraukan rasa sakit yang dialaminya. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" seru Thalia sambil berusaha menahan langkah. "Aku istrimu, bukan tahananmu!" "Kalau kau terus melawan, kau hanya akan memperburuk keadaan," jawab Childe dingin sambil tetap menarik Thalia menuju kamar. "Persetan dengan keadaan!" balas Thalia sambil menatapnya penuh amarah. "Aku ingin tahu apa yang terjadi kepada Papa!" Childe akhirnya berhenti tepat di depan pintu kamar Thalia. Ia membuka pintu dengan tangan yang bebas, kemudian membawa gadis itu masuk. "Childe, apa yang kau lakukan?" tanya Thalia dengan suara mulai gemetar sambil mencoba melepaskan tangannya sekali lagi. Chile melepaskan cengkeramannya begitu mereka berada

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   10. Rahasia yang Terbongkar

    "Siapa orang itu?" tanya Childe sambil mengambil dokumen tersebut dari tangan bawahannya. Thalia langsung menegakkan tubuh. "Namanya belum bisa kami pastikan, Tuan," jawab pria itu sambil menggelengkan kepala. "Namun, catatan tersebut berkaitan dengan kesepakatan yang dibatalkan oleh Jonathan beberapa waktu lalu." Thalia merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Ingatan tentang percakapan ayahnya dan Childe pada malam sebelum pernikahannya langsung muncul kembali. Masalahnya ada pada kesepakatan itu, pihak mereka menganggap pembatalan tersebut sebagai penghinaan. Thalia menggenggam ujung gaunnya semakin erat. Kini, ia mulai memahami bahwa penembakan ayahnya mungkin memiliki hubungan dengan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. "Aku ingin seluruh catatan itu diperiksa kembali," ujar Childe sambil meletakkan dokumen di atas meja. "Jangan biarkan informasi ini keluar dari ruangan ini sebelum kita mengetahui siapa yang terlibat." "Dimengerti, Tuan," jawab bawahannya sam

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   9. Seseorang di Balik Bayangan

    "Ada hal-hal yang belum bisa ku bicarakan denganmu," jawab Childe sambil mengalihkan pandangan sesaat. Thalia langsung mendorong kursinya sedikit ke belakang. "Karena aku hanya istri kontrakmu?" tanya Thalia dengan senyum pahit sambil menatap cincin di jarinya. Childe kembali menatapnya sebelum menjawab. "Karena semakin sedikit yang kau ketahui sekarang, semakin kecil kemungkinan kau melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri," kata Childe sambil menegakkan tubuh. Thalia terdiam. Jawaban itu justru membuat kecurigaannya semakin besar. Perempuan itu menundukkan kepala, berpura-pura kembali memperhatikan sarapannya. Namun, pikirannya terus berputar mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terpecahkan. Jika Childe benar-benar ingin melindunginya, mengapa pria itu selalu menutup mulut setiap kali ia bertanya tentang kematian ayahnya? Dan jika Childe mengetahui sesuatu, apakah ia sengaja merahasiakannya? Sarapan berakhir tanpa percakapan yang penting. Thalia meninggalka

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   8. Kebohongan Childe

    "Kau terlambat sepuluh menit," ujar Childe sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Thalia langsung menatap Childe yang duduk di meja panjang. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, sementara sebuah tablet terletak di samping piring sarapannya. Thalia menarik kursi di seberangnya, kemudian duduk tanpa menunjukkan ekspresi bersalah. "Kalau begitu, kau bisa mulai sarapan tanpa menungguku," jawab Thalia sambil meletakkan kedua tangan di pangkuan. Childe menutup tablet di hadapannya sebelum memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat meja. "Aku ingin membicarakan jadwalmu hari ini," kata Childe sambil menatap Thalia. "Silakan sajikan sarapannya." Thalia memperhatikan hidangan yang diletakkan di hadapannya, lalu kembali memandang Childe. "Aku tidak punya jadwal apapun," jawab Thalia sambil mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan. "Aku hanya ingin menghabiskan hari ini di kamar." "Kau akan bertemu kepala pelayan, pengurus rumah, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status