LOGINMenghadapi sikap Ponirah yang agresif, Rendra hanya berkata dingin, "Bi Ponirah, aku nggak pernah merendahkan Clara."Ponirah membalas tanpa ragu, "Kalau begitu, Pak Rendra, tolong sekalian bermurah hati. Urus saja prosedurnya dengan Nona kami, kembalikan kebebasannya, biarkan dia menjalani hubungan dan menikah secara normal."Terus-menerus didesak untuk bercerai dari Clara, wajah Rendra menjadi tegang. Dia tidak lagi menanggapi Ponirah, lalu langsung berjalan menuju kamar rawat Clara.Di lorong, Ponirah membawa kotak makan sambil menoleh ke arah punggung Rendra. Dalam hati dia berpikir, untung saja tadi bertemu dengannya dan bisa meluapkan semua unek-unek. Kalau tidak, malam ini dia pasti akan terbangun karena amarah.Di dalam kamar rawat, Clara duduk diam di ranjang dan menunduk sambil membolak-balik buku di tangannya. Ekspresinya tampak sangat tenang.Saat Ponirah berbicara tadi, jaraknya tidak jauh dari kamar rawatnya. Pintunya tidak tertutup rapat. Semua ucapan itu dia dengar deng
Saat Caroline dan ibunya mengantar Rendra turun, Liona berkata dengan nada agak sendu, "Rendra, jangan salahkan Nenek karena terus mendesakmu. Kondisi tubuh Nenek memang nggak terlalu baik. Dia sendiri sudah punya kesiapan mental, jadi ingin lebih cepat melihat kamu dan Caroline menikah."Mendengar itu, Rendra menjawab singkat, "Aku mengerti."Begitu sampai di bawah gedung rawat inap tempat Clara dirawat, Rendra berhenti melangkah dan menatap kedua orang itu, "Bibi, cukup sampai di sini saja. Aku mau kembali menemani Clara.""Baik. Kalau begitu, Rendra, kamu juga jangan terlalu memaksakan diri. Jaga kesehatan," ujar Liona."Ya."Caroline pun berkata, "Kalau begitu, sampai besok, Rendra."Rendra melirik kedua orang itu sekilas, lalu berbalik dan kembali menuju gedung rawat inap tempat Clara dirawat.Sesampainya di lantai ortopedi dan keluar dari lift, baru saja Rendra berbelok memasuki lorong, dia melihat Ponirah sedang membawa kotak makan dan keluar dari kamar rawat Clara.Begitu melih
Kalau tidak membiarkannya begitu, mereka juga tidak punya cara untuk menghadapi Rendra.Ponirah segera menghampiri dan membantu Clara, sambil bergumam, "Entah Tuan Muda itu sebenarnya menantu keluarga mana. Kalau memang nggak bisa dipertahankan, lebih baik cepat-cepat urus saja prosedurnya, jangan terus menahan Nona. Menurutku, Pak Aidan itu cukup baik, perhatian, dan juga berperangai lembut."Clara tersenyum tipis tanpa menanggapi.Dalam hidup, sebenarnya tidak selalu harus ada pernikahan. Masih ada banyak hal lain yang jauh lebih bermakna untuk dilakukan.Sambil menopang Clara duduk di depan meja makan, Ponirah terus mengomel tentang Rendra dan Keluarga Winandy, sekaligus menceritakan kabar sang kakek, mengatakan bahwa akhir-akhir ini beliau agak sering batuk.....Pada saat yang sama, di gedung rawat inap sebelah.Saat Caroline mengajak Rendra mendorong pintu kamar dan masuk, dia tersenyum lebar sambil berkata kepada wanita tua yang duduk di ranjang, "Nenek, Rendra datang menjengukm
Hati Clara tersentuh. Sudah lama sekali dia tidak merasakan bagaimana rasanya punya seorang ibu.Karena itu, dia mengangguk kecil ke arah Aliyah. "Boleh."Melihat Clara mengiyakan, Aliyah langsung kegirangan. Alis kecilnya terangkat, dia memeluk lengan Clara dan menggesekkan pipinya ke sana, lalu berseru dengan penuh sukacita, "Mama."Melihat betapa bahagianya gadis kecil itu, telinga Clara langsung memerah.Untuk pertama kalinya dipanggil Mama, dia malah merasa sedikit malu.Sambil menunduk menatap Aliyah yang memandangnya penuh harap, Clara menguatkan diri sejenak dan menelan ludah, lalu menjawab, "Iya."Meski dia sudah berusaha sekuat tenaga dan sepenuh hati untuk menjawab, suara Clara tetap terdengar pelan. Namun, Aliyah mendengarnya.Begitu Clara menjawab, Aliyah semakin gembira. Pipinya terus menggesek tubuh Clara sambil memeluknya erat dan berkata manja, "Aku punya Mama. Aku juga punya Mama."Clara memandang Aliyah, seolah melihat dirinya sendiri di masa kecil.Karena itu, saat
Rendra tidak lagi mengatakan tidak akan bercerai. Dia hanya menyebut soal pemeriksaan dari atasan dan memintanya menunggu kabar. Clara pun tidak berkata apa-apa lagi. Meski Clara tahu beberapa niat di balik sikapnya, dia tidak membongkarnya.Hanya saja ... mereka tidak akan bisa lagi kembali ke titik seperti sebelum menikah.....Siang hari, Delisha datang mengantarkan makan siang untuk mereka berdua.Setelah makan, saat Rendra mengantar Delisha turun ke bawah, Delisha berkata, "Selama kaki Clara belum nyaman, kamu rawat dia baik-baik dan tunjukkan sikap yang benar. Usahakan dia bisa berubah pikiran."Rendra menjawab malas, "Ibu nggak perlu mengkhawatirkan urusanku. Aku sudah punya rencana."Sambil bicara, dia menutup pintu mobil untuk Delisha, lalu membiarkannya pulang lebih dulu.Saat kembali ke ruang rawat di lantai atas, Aliyah sudah datang menemui Clara dan duduk bersamanya di ranjang. Beberapa waktu lalu, Aliyah menjalani operasi koreksi tulang. Ruang rawatnya tidak jauh dari kam
Melihat yang datang adalah Rendra, Aidan tampak sedikit terkejut. "Rendra."Setelah masuk ke dalam ruangan dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa, Rendra tersenyum sambil menyapa, "Tumben Pak Aidan datang."Aidan berdiri dan berjabat tangan dengan Rendra, lalu tersenyum berkata, "Nggak juga. Aku sudah beberapa kali bertemu Bu Clara. Kamu juga datang menjenguk Bu Clara, ya?"Lalu dia bertanya lagi, "Caroline nggak ikut datang?"Begitu Aidan menyebut Caroline, Rendra menarik kembali tangannya dan tersenyum santai, "Pak Aidan ternyata cukup perhatian."Di atas ranjang, Clara melirik keduanya dan merasa suasananya sedikit aneh. Dia menatap Rendra, berniat memintanya membuatkan teh untuk Aidan, tetapi ponsel Aidan tiba-tiba berdering.Setelah mengeluarkan ponsel dari sakunya, Aidan menyapa Rendra sebentar, mengatakan ingin mengangkat telepon, lalu berjalan ke arah jendela untuk menjawab panggilan. Panggilan itu dari pimpinan lama, seorang atasan besar.Setelah menutup telepon, Aidan mela







