تسجيل الدخول"Aku ingin langsung tidur, Rhea," ucap Elowen begitu tiba di kamar.
Rhea mengangguk dan tergesa menyiapkan tempat tidur untuk Elowen.Beberapa kali Elowen terlihat menghela napas. Bahunya naik turun dengan teratur dan kadang disertai dengan decakan kasar. Rhea memperhatikan ulah Elowen dengan sudut matanya."Apa semua baik-baik saja, Putri?" tanya Rhea.Elowen menoleh, mengulum senyum kemudian mengangguk."Iya, semua baik saja. Aku hanya kesal dengan Livia."RheaAngin musim dingin bertiup tajam menerpa menara-menara ibu kota Valtoria. Langit masih kelabu sejak pembubaran senat. Meski rakyat menyambutnya dengan gembira, tapi sepertinya ada api yang tersimpan di dalam sekam.Kerajaan kembali diguncang kabar baru.TOK TOK TOKSuara palu diketuk dengan keras.“Dengan ini, saya membagi kerajaan Valtoria menjadi dua bagian. Valtoria bagian utara dan barat menjadi kekuasaan saya. Sementara bagian selatan dan timur berada di bawah kekuasaan Tuan Lucan.”Suara Livia menggema memenuhi ruangan. Beberapa bangsawan menoleh dengan wajah penuh tanya. Tak lama suara bisikan terdengar memenuhi ruangan tersebut.Livia mengangkat dagu sambil mengedarkan pandangannya, memperhatikan semua yang ada di dalam aula.“Apa ada yang keberatan?” tanyanya kemudian.Rowan terdiam, ingin bertanya, tapi rasa takut lebih besar menyelimutinya.Lucan yang berada di ruangan tersebut hanya te
“Dia … bukan putri kandung saya,” ulang Tuan Tiberon.Wajahnya terlihat tegang. Matanya melotot dengan guratan otot yang melintang jelas di rautnya.Lucan tersenyum menyeringai. Perlahan menjauh kemudian kembali duduk di tempatnya.Tidak ada kata yang terucap. Hanya hening yang menemani dua pria paruh baya itu.“Saya rasa Anda tahu, Tuan.”Sekali lagi kalimat yang keluar dari mulut Lucan seperti pisau nan tajam. Tuan Tiberon mendongak. Matanya mengandung tanya sekaligus curiga.“Kebiasaan Anda mengkonsumsi mint dan beberapa herbal pahit sangat berpengaruh pada kesuburan. Saya yakin, Anda tahu itu.”Lucan menghentikan kalimatnya, menatap Tuan Tiberon sekilas kemudian tersenyum.“Ditambah … Anda selalu kalah di ranjang. Apa itu belum cukup membuat Anda curiga jika Livia bukan putri kandung Anda?”Jakun Tuan Tiberon naik turun, gelisah menelan ludah. Wajahnya men
Pintu terbuka dan ---“MINERVA!!!” seru Neil.Minerva berjalan terhuyung kemudian jatuh di pelukan Neil. Neil menangkap tubuhnya, menyentuh punggungnya dan ia melihat ada banyak darah di sana.“Minerva … apa yang terjadi?”Minerva membuka mata, napasnya tersenggal dengan wajah yang lelah menatap Neil.“Permaisuri Roxana … Permaisuri … dia ditahan di penjara bawah tanah.”“Apa!!!”Belum sempat Neil mengajukan pertanyaan lagi, Minerva sudah pingsan dalam pelukannya.“Neil rawat dia!! Aku akan memastikan kalau tidak ada yang mengikuti,” ucap Cassren.Ia langsung berlalu pergi keluar.Selang beberapa saat kemudian, Minerva tampak membuka mata perlahan. Ada Neil yang duduk di sampingnya dengan Elric dan Cassren yang duduk sedikit jauh sambil mengawasi.“Kenapa kamu bisa terluka, Minerva?” tanya Neil membuka pembicaraan.
“LIVIA!! Apa maksudmu?”Tuan Tiberon menerobos masuk ke istana Valtorium dan langsung bertemu Livia. Livia yang sedang duduk di singgasana hanya tersenyum datar.“Kenapa kamu membubarkan senat tanpa persetujuan Ayah? Ini salah, Livia.”Livia menghela napas kemudian bangkit.“Aku sengaja tidak memberi tahu Ayah karena Ayah pasti tidak akan menyetujuinya.”Tuan Tiberon terdiam. Tangannya terkepal di samping tubuh dengan matanya yang berkilatan penuh amarah.“Aku ingin menciptakan Valtoria yang baru. Sebuah tatanan pemerintahan yang hanya kaisar sebagai puncak pengambil keputusannya.”Tuan Tiberon mendengkus.“Ini tidak benar, Livia. Selama ini pendahulu kita yang membuat sistem seperti ini dan dengan adanya senat, hak-hak rakyat merasa terlindungi.”Livia mendekat menatap Tuan Tiberon dengan lembut.“Bukankah aku sudah memberi hak mereka. Aku membebas
Suasana pagi di istana Valtorium begitu suram. Entah karena awan hitam yang menggantung di langit pagi atau bisa jadi akan ada sesuatu yang terjadi.“Semua orang sudah kita singkirkan, Livia. Jadi, apa lagi yang kita tunggu?” ucap Lucan.Livia menoleh menatapnya dengan tajam.“Aku menunggu bagianku, Livia. Sesuai dengan janjimu.”Sebuah senyuman sinis terukir di wajah cantik Livia.“Tenang saja, Tuan Lucan. Setelah hari ini, pembagian Valtoria akan diatur.”Lucan mendengkus kasar.“Memangnya kenapa dengan hari ini? Aku sudah melakukan bagianku dan sudah saatnya menuntut hakku.”Livia tersenyum lagi. Ia berjalan mendekat sambil memainkkan jemari tangannya.“Hari ini … ada sesuatu yang akan aku lakukan. Untuk … mengubah Valtoria.”“Mengubah Valtoria?” Alis Lucan mengernyit tajam. “Memangnya apa yang kau lakukan untuk mengubah
“Apa-apaan ini?!” sergah penjaga itu kasar.Tangannya langsung mencengkeram dagu Minerva tanpa belas kasihan. Cahaya obor menyorot wajah wanita itu—penuh jelaga hitam, rambut kusut tak beraturan, pakaian compang-camping seperti pengemis yang tersesat dari lorong kematian.Minerva sengaja memutar matanya tidak fokus. Bibirnya bergetar.“Ukh … beb … beb ….”Tubuhnya dibuat gemetar aneh seolah kehilangan akal sehat. Bahkan ia sengaja mengeluarkan suara cekikikan lirih yang membuat kedua penjaga saling pandang jijik.“Dasar sialan! Orang gila kenapa nyasar ke sini?!” bentak salah satu penjaga.BRAK!Tubuh Minerva didorong begitu keras hingga nyaris jatuh ke tanah berbatu. Namun wanita itu segera merangkak mundur sambil tertawa kecil seperti orang tidak waras.“Hehehe … api … api makan manusia ….”“Pergi sana!! Sebelum kupeng
“Selamat pagi, Jenderal,” salam Raja Arshak menyapa Kael.Kael gegas bangkit dari duduknya, memberi salam sambil menganggukkan kepala. Usai mengamati Elowen di taman tadi, Kael memilih kembali ke ruangannya.Raja Arshak tersenyum, berjalan menghampiri kemudian duduk di d
“Dia baik-baik saja,” gumam Elowen lirih.Kael melihatnya kemudian kembali menatap perut Elowen tanpa mengalihkan tangannya. Elowen mengulum senyum kemudian dengan lembut tangannya menyentuh tangan Kael.Untuk beberapa saat Kael terdiam, kemudian tiba-tiba ia mendongak d
“Siapa pelakunya?” tanya Kael.Neil mendekat hendak bersuara, tapi tiba-tiba suaranya terhenti saat mendengar beberapa langkah mendekat.“Selamat pagi, Jenderal!!” sapa Drusilla.Wanita paruh baya yang tak lain adik dari Raja Arshak itu tersenyum sambi
Kereta seakan ikut menahan napas saat jari Elowen menyentuh punggung tangan Kael.Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk membuat suara Kael terputus di tenggorokan.Lentera berayun pelan di atas mereka, memantulkan cahaya hangat pada sampul buku yang kini terbuka di pangkuannya. Le