Share

Bab 5. Luka Baru

Author: Dian Alfina
last update Petsa ng paglalathala: 2023-08-23 11:21:54

Delia kini tengah duduk di depan jendela kamar. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.

Jika tidak ada Bara–teman Andrew–, mungkin ia masih menangis seperti wanita gila di pinggir jalan.

Kini ada satu lagi koleksi luka Delia, kali ini ia melakukannya hingga tiga kali.

Tak ada lagi tangisan meraung-raung, ia cukup bisa mengontrol dirinya setelah membuat luka yang kesekian kalinya.

Delia menatap nanar ke arah jendela, rambutnya kusut dan tidak ada kegiatan yang ia lakukan selain duduk merenung.

Mungkin besok ia akan pergi ke Dokter Rania, dokter yang biasa menangani Delia.

Sudah lama ia tidak mengkonsumsi obat, namun kali ini jika ia biarkan semakin lama Delia takut akan semakin parah.

Rafael tak pernah tau setelah kejadian tujuh tahun yang lalu, Delia pernah lebih parah dari malam ini.

Beberapa kali Delia mencoba bunuh diri untungnya selalu digagalkan oleh kedua orang tuanya.

Rafael tidak pernah tau sehancur apa mentalnya atas tuduhan yang tidak pernah Delia lakukan.

Ia juga tidak tau sebesar apa usaha Delia untuk menghilangkan traumanya.

"Dan sekarang aku sudah menjadi istrinya?" lirih Delia seolah tak percaya sembari menatap langit yang gelap, tidak ada bintang yang bersinar membuat hawa malam ini terasa lebih sunyi.

Bisa dibayangkan setiap kata yang keluar dari mulut Rafael hanyalah kebencian, "Apa lebih baik aku mati saja?"

****

“Raf?”

Ini sudah ketiga kalinya Rafael tak fokus saat berbicara dengan Gladis akibat panggilan Delia tadi.

Meski Rafael berusaha tak peduli, entah mengapa, ia jadi mendiamkan perempuan di sampingnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Delia seolah membuat Renata hadir kembali dalam ingatannya yang selama ini Rafael kubur.

Dulu, Renata sempat menuduh Rafael menyimpan rasa pada Delia karena bersikap baik padanya. Padahal, Rafael yakin ia tak merasakan apa pun untuk wanita itu. Ia hanya bersikap baik saja. Lalu, semua berakhir buruk dengan kematian Renata.

Rafael seketika menyugar rambutnya kasar. 

“Sorry, aku harus pergi.” Ia segera berdiri dan melangkah pergi–meninggalkan Gladis begitu saja. 

"Sayang, kau akan pergi ke mana?” tanya Galdis cemberut dan manja.

Namun, Rafael terus saja melangkah tanpa memedulikannya.

Pria itu tidak benar-benar mencintai Gladis. 

Wanita itu sengaja ia jadikan kekasih hanya untuk menghancurkan perasaan Delia. Toh, Rafael juga sudah memberikan bayaran yang setimpal untuknya. Dari tempat tinggal sampai barang-barang mewah yang selalu ia idamkan.

Tanpa disadarinya, Gladis mengepalkan tangan marah. "Sialan! Apa karena wanita pembunuh itu Rafael meninggalkanku?" kesalnya, “lihat saja! Akan kuberi pelajaran dia!”

Dalam diam, ia melihat Rafael yang langsung mengendarai mobilnya seperti kesetanan. Ia berusaha menemukan Delia, tapi tak menemukannya.

Menyadari tindakannya yang aneh, Rafael memukul setirnya. “Untuk apa aku mengkhawatirkan perempuan itu?”

Ia pun memutar balik arah, hingga mobil itu berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang sebentar lagi jatuh ke tangannya karena menikahi Delia.

Rafael melangkah lebar-lebar menuju ruangan yang terletak di lantai paling atas– satu-satunya tempat yang ingin Rafael kunjungi saat ini.

Pintu terbuka otomatis kemudian ia memukul tembok dengan keras, hingga membuat kubu-kubu tangannya memerah, "Sial!" teriaknya sekeras mungkin.

"Perempuan itu membuat kepalaku pecah!" pekik Rafael.

Matanya tak sengaja menatap pigura yang sengaja Rafael taruh di atas meja kerjanya. 

Terpampang jelas wajah Rafael dan Renata yang sedikit cemberut dalam foto yang diambil sebelum kecelakaan menimpa kekasihnya itu.

"Hingga hari ini aku belum bisa memaafkan dia Sayang," beo Rafael, “akan kubuktikan padamu bahwa aku tidak pernah mengkhianatimu. Delia harus merasakan sakit yang kau rasakan.”

Tangannya mengepal kencang.

Baginya, kematian Renata adalah salah Delia.

Hanya wanita itulah yang ada di tempat kejadian–membuat Rafael bersumpah menjebloskan Delia dengan tangannya sendiri waktu itu. Hanya saja, orang tua Delia membayar cukup mahal agar wanita itu aman, bahkan dari penyelidikan polisi yang sudah Rafael rancang sedemikian rupa.

Rafael seketika menyeringai kala teringat Delia sudah menjadi istrinya. Ia akan membalaskan dendam yang tersimpan begitu lama. 

"Meski dia adalah istriku, tapi dia harus menyadari dan menyesali setiap harinya karena merebut tempat yang seharusnya dimiliki Renata," ucapnya, “kejadian seperti tadi tidak boleh terulang.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Tak Diharapkan   17. Pesan Ancaman

    “Del?” Delia yang sedang menyalin soal ke dalam bukunya menoleh ketika mendengar panggilan Nina. “Ada apa?” Nina tidak menjawab. Ia justru menyerahkan ponselnya kepada Delia. Delia segera meletakkan pulpen yang berada di tangannya, lalu menerima ponsel milik Nina. Rupanya, Nina sedang menunjukkan sebuah pesan yang baru saja dikirim seseorang. Isinya berupa perintah agar Nina pergi ke belakang sekolah saat jam istirahat kedua. Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertera, Delia langsung tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. “Jangan datang sendiri. Nanti aku temani.” Nina mengernyit. “Memangnya kamu tahu siapa pengirim pesan ini, Del? Untuk apa dia memintaku datang ke sana?” Entah Nina yang terlalu polos atau memang belum menyadarinya. Namun, Delia tahu persis siapa pengirim pesan tersebut. ‘Renata.’ “Tahu. Pesan itu dari Renata.” Mulut Nina langsung terbuka sempurna. Gadis itu terlihat sangat terkejut mendengar pernyataan Delia. “Jangan takut. Nanti aku t

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 16. Kejadian Terulang

    "Del buruan!" sergah Andrew. "Iya, sebentar," Delia berlari kecil sambil memakai dasi yang belum sempat ia kaitkan. Lalu ia duduk di jok belakang motor Andrew, "Udah." "Nanti kau kemana?" "Gak kemana-mana, di rumah aja. Kenapa memangnya?" "Mau gak ikut aku pergi sebentar," "Haa? Aku gak denger kau ngomong apa?" Maklum mereka berbincang di atas motor, suara angin lebih dominan. "Nanti ikut aku!" "Kemana sih Ndrew?" "Ngopi bentar sama Bara," "Bara?" Andrew tampak mengangguk. "Bara siapa?" Dalam hati Delia bertanya, apakah juga sepupunya tersebut dan Bara sudah kenal sejak lama? "Kau gak kenal? Padahal kalian satu sekolah," "Ah Bara, sekedar tau saja. Memangnya kau sudah lama mengenalnya?" Andrew mengangguk, "Dulu kami satu sekolah waktu smp." Ternyata banyak fakta yang dulu tidak Delia tau dan di kesempatan hidupnya yang kedua ini, dia mulai mengetahui satu persatu fakta yang ada di masa depannya. "Oh boleh deh nanti," putusnya. Setelah sampai depan gerbang sekola

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 15. Kesempatan Kedua

    Delia belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi dalam hidupnya, terlebih dengan keadaannya sekarang. Ia kembali di waktu kala dirinya duduk di bangku sekolah.Atau semua kejadian memilukan itu hanyalah mimpi semata? Tapi kenapa ia merasa sangat lama dan nyata, jika benar itu mimpi. Dengan sedikit linglung, ia turun ke bawah. Seketika langkahnya terhenti ketika mendapati sang kakak, turut bergabung di meja makan bersama kedua orang tuanya. Pemandangan yang sangat Delia rindukan."Kakak di sini?" beonya, tanpa sadar air matanya menetes.Hal tersebut membuat ketiga orang yang tengah menunggunya untuk sarapan melongo. Mereka dibuat bingung dengan Delia.Buru-buru ia menghampiri Delina, -sang kakak kemudian memeluknya erat. "Maafin aku ya kak," ujarnya sambil tergugu.Delina cukup kaget dengan tingkah Delia, sontak ia menarik Delia untuk melepaskan pelukannya, "Dek lepasin dong. Aku lapar, kamu apa-apain sih?"Kejadian naas saat sang kakak terpental dari motor masih membekas di kepala D

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 14. Apa Ini?

    Delia terkapar di dalam kamar mandi yang penuh darah, setelah pagi tadi ia mendapat tamparan dan jambakan dari Rafael. Karena laki-laki itu tidak terima ketika Delia menceritakan bahwa dirinya telah dipermainkan oleh mendiang Renata. Delia menceritakan bahwa sebenarnya Renata tidak mencintai Rafael, diam-diam gadis itu menjalin hubungan di belakang Rafael dengan Tristan -seorang kapten basket di sekolahnya dulu.Terpaksa ia membuka rahasia yang selama ini Delia pendam, saat jam istirahat Delia hendak pergi ke uks dan tidak sengaja ia melihat Renata sedang berciuman dengan Tristan. Delia kaget hingga menjatuhkan buku dan bolpoinnya. Mendengar itu Renata dan Rafael menyudahi aktifitasnya, kemudian Renata mengajak Delia keluar area sekolah. Renata mengancam Delia bahkan hendak mendorong Delia ke tengah jalan raya, tapi karena Delia mundur alhasil Renata yang jatuh dan tertabrak mobil dari arah belakang hingga menyebabkan wanita itu tewas.Namun kejujuran yang Delia ucapkan tidak membuat

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 13. Nasib Buruk

    Delia tidak menjawab, ia lelah. Kepalanya juga kembali pusing. Dia menyesal karena terlambat mengetahui niat jahat Rafael. Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau Delia harus menjalani nasib buruk yang entah dia sendiri tidak tau kapan akan berakhir. Delia juga bingung, menderita yang bagaimana yang pria itu mau agar puas. Delia tidak akan tinggal diam, ia tetap akan melawan Rafael. Setidaknya meskipun dirinya tertatih melawan semua gemuruh di kepalanya, ia masih memiliki rasa ingin menjadi Delia dengan pribadi yang menyenangkan. Dulu ia hanya salah menjatuhkan hatinya pada iblis berwujud manusia dan berakhir seperti ini. Tetapi penyesalan itu tetaplah pernyesalan, tidak akan mengubah apapun dalam hidup Delia. Dalam benaknya ia tetap bertekad bahwa besok dirinya akan tetap bekerja. Apapun resikonya Delia tidak peduli, ia tau apa yang akan dilakukannya itu pasti menimbulkan amarah Rafael yang memuncak. Tapi biarlah, itulah tujuan Delia. Jika seandainya pun Rafael akan membunuhn

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 12. Topeng

    "Aku baik-baik saja, keluarlah aku ingin tidur," usir Delia. "Sialan kau memang Del, percuma saja aku mengkhawatirkanmu! Jadi khawatirkan dirimu saja sendiri sana!" Delia menyahut hanya dengan gumaman. "Tidak ada harga dirinya CEO di sini," cerocos Andrew lalu mengikuti perintah Delia. Andrew tidak benar-benar marah Delia, begitulah cara interaksi antara keduanya. Sebenarnya Andrew merasa ada kejanggalan pada Delia, sejak kapan wanita itu betah berada di kantor? Ia paling senang jika pulang lebih awal, tapi sekarang? "Lama-lama kepalaku pecah memikirkan Delia," monolog Andrew seraya turun ke bawah. Andrew tidak pulang ia akan menunggu Delia di coffe shop bawah. *** Pukul sembilan tepat Delia turun dengan wajah yang jauh lebih segar, tidur selama empat jam tanpa gangguan membuat semua energinya kembali penuh. Ia siap berperang dengan pikiran-pikiran jahatnya yang sering menyuruhnya untuk bunuh diri. Drt... Drt... Ponsel Delia bergetar membuyarkan lamunannya, dengan seg

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 7. Awal Kehancuran

    Semalam Rafael tidak pulang ke rumah. Delia cukup merasa lega. Setidaknya, ia bisa sedikit lebih bebas. Pagi ini, ia juga berniat pergi ke kantor. Bertemu banyak orang mungkin bisa mengurangi beban pikiran yang ditanggungnya. Setelan kemeja berwarna coklat ia padukan dengan rok span selutut, bl

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 6. Korban

    Rafael yang menjamah tubuh Gladis seketika menghentikan aksinya, gara-gara Delia yang merusak momen bersama Gladis membuat Renata hadir dalam ingatannya. Ia menjambak kasar rambutnya kala mengingat kondisi Renata yang tergeletak berlumuran darah. "Sayang kau akan pergi ke mana? Apa kau tidak ingin

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 4. Tidak Peduli

    Rafael meleparkan sebuah kunci kepada Delia, "Itu kunci kamarmu!" "Jadi di mana kamarku?" "Kamar pembantu!" Delia hanya mengangguk lalu pergi dari hadapannya. Ia berjalan ke belakang dengan gontai. Seolah tidak ada tenaga untuk menjawab Rafael. Instingnya membawa perempuan tersebut ke sebuah ru

  • Pernikahan Tak Diharapkan   Bab 3. Hinaan

    Setelah berhasil menenangkan diri, Delia sibuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Rafael dan Gladis selama satu setengah jam.Ia pun menghempaskan diri ke sofa sembari menyeka keringat yang turun di keningnya.Delia cukup lega menyelesaikan apa yang diperintah Rafael. Ia juga sudah memasak sesu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status