ログインBermacam-macam perhiasan terhampar di depan mata Aluna. Bukan sekedar bualan belaka, Arkan benar-benar mengajak istrinya ke toko perhiasan pagi ini.
Namun saat sampai disana, nyali Aluna menciut. Ia langsung memundurkan diri."Kayaknya nggak usah beli perhiasan, mas." Ujar Aluna tersendat."Kenapa?" Arkan keheranan."Itu.. aku... sayang uangnya, mas." Jawab Aluna sambil menundukkan wajah. Apalagi dilihatnya harga emas yang tengah melonjak naik."Ja"Tunggu sebentar. Aluna akan tetap disini!" Tegas Langit. Langkah Arkan langsung terhenti. Dia menoleh dan menatap pria yang sedang memandangnya tajam. Pria itu memberikannya atapan permusuhan. Padahal Arkan belum tahu siapa pria yang sejak tadi duduk di sisi mantan istrinya. "Dia harus disini menjaga anaknya." Sambung Langit. Arkan menatap Aluna dengan getir. Sementara wanita itu tak mau membalas tatapannya. "Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar saja, Aluna.." ucap Arkan. Tak ada nada paksaan dari pria itu membuat Aluna akhirnya mengalah. Ia pun mengangguk dan bangkit berdiri. Wanita ini lalu mengikuti Arkan dari belakang. Keduanya menuju area luar rumah sakit. Tepatnya di sebuah taman yang berada di daerah belakang instalasi rawat inap anak. Ada meja dan kursi yang terpajang disana. Arkan lalu mengajak Aluna duduk saling berhadapan. Arkan menatap lekat wajah
Hati orang tua mana yang tak hancur jika melihat anaknya yang jatuh sakit. Begitu juga dengan Fiona yang semakin teriris saat melihat keadaan putranya, Arkan. Ditangannya masih terpasang infus, tapi Arkan nekat mendonorkan darah demi putrinya. Demi anak yang selama ini terpisah darinya. Tanpa memperdulikan resiko yang terjadi padanya, Arkan tetap mengalirkan darah itu untuk disalurkan pada putrinya. Dan setelah mendonorkan darahnya, Arkan menandatangani sebuah surat dimana ia ingin pulang paksa. Dimana ia memaksa rawat jalan dengan kondisinya yang belum benar pulih. "Arkan.." panggil Fiona. Arkan hanya menoleh sekilas. Ia lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan pergi ke sebuah tempat. "Maaf, tante.." ucap Adelina menahan tangis. "Aku tidak tahan lagi.." Adelina berkunjung ke kamar Arkan sore ini. Oleh karena tak tahan melihat Aluna yang bersusah hati seorang d
Bukan salah mobil yang masuk ke area parkiran tanpa melihat anak kecil yang sedang berlarian. Ditha berlari dengan tersenyum lebar. Anak sekecil itu tak mengerti akan bahaya. Terlebih Ditha menjadi anak Aluna yang paling aktif dan sulit dicegah. Tubuh mungilnya ditabrak. Dada itu terlindas oleh ban besar. Mobil itu berjalan masuk dengan pelan. Namun beban yang menimpa Ditha begitu berat hingga membuat anak itu tak sadarkan diri. Noda darah berwarna merah keluar dari lubang hidung dan sela mulutnya. Aluna histeris. Langit yang melihat itu langsung membawa Ditha ke rumah sakit. Disana, Ditha mendapat tindakan. Tak hanya Aluna dan Langit. Dua wanita yang mengaku nenek dari Ditha juga ikut menyusul ke rumah sakit tempat Sinar bekerja. Sesampainya disana, Ditha langsung diberikan tindakan. Anak ini di rontgen dan diberikan cairan melalui infus. "Banyak banget perdarahannya, mbak. Siap-siap saja untuk mendonor jika diperlukan. Stok darah di rumah sakit ini lagi kosong!" Seru Sinar me
"Kamu yakin, Aluna?" Langit memandang ragu pada wanita yang tengah menyiapkan dua buah hatinya itu. Aluna mendesah pelan lalu mengangguk. "Kalau mereka malah berusaha mengintimidasimu dengan anak-anak ini bagaimana?" "Maka mereka akan salah lawan!" Sahut Aluna tanpa takut. "Aluna.." panggil Langit sekali lagi. Aluna membalas tatapan pria ini. "Setidaknya aku harus memberikan hukuman pada mereka. Dimana dulu mereka semua pernah meragukan darah yang mengalir di kedua tubuh anakku. Hari ini, aku ingin menampar mereka dengan kenyataan." "Baiklah. Aku ikuti ucapanmu. Tapi jika terjadi sesuatu, aku nggak segan untuk bertindak!" Ujar Langit mengingatkan. Aluna tersenyum dan mengangguk lagi. Dua orang dewasa ini membawa dua anak kecil yang tampak kegirangan. Dipakaikan baju rapi lalu diajak keluar itu sama saja dengan bermain di taman hiburan. Senyum tak lep
"Bagaimana keadaan Arkan, mbak?"Pada siang hari Farah datang seorang diri mengunjungi keponakannya. Di atas ranjang Arkan terlihat masih tertidur dengan nyenyak."Begitulah. Tadi masih ada muntah dua kali. Makannya juga masih sedikit.""Kasihan sekali.." gumam Farah memandang lekat Arkan. "Dari hasil usg juga ditemukan tukak di lambungnya.." sambung Fiona."Oh, apa itu?""Semacam sakit yang lumayan parah di lambung. Arkan memang ada sakit maag. Biasanya dia rutin minum obat. Tapi.. beberapa bulan ke belakang Arkan nggak memperhatikan dirinya sendiri. Dia makan atau tidak aku juga kadang tidak tahu."Fiona jadi merasa bersalah karena kurang perhatian pada putra tunggalnya. Ah, bukan karena tidak perhatian. Lebih tepatnya Arkan yang tak mau menerima kasih sayang dari ibunya sendiri."Apa mbak Fiona sudah memberitahu Arkan kalau kita sudah menemukan anak-anaknya?"Fiona mendelik ke arah adiknya. Wanita i
Arkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami muntah hebat. Hasil pemeriksaan dokter, Arkan mengalami dehidrasi tingkat sedang disertai dengan gastritis. Pria ini pun membutuhkan perawatan lebih lanjut. "Arkan.." lirih Fiona memanggil sambil menangis. Mendengar suara itu membuat mata Arkan yang terpejam jadi terbuka. Ia pun menatap ibunya dengan mata yang memerah. Pedih sekali hati Fiona melihat keadaan putranya saat ini. Ada selang infus yang terikat di tangannya. Begitu juga dengan wajah Arkan yang pucat pasih. Fiona meminta ampunan kepada Yang Kuasa karena selama ini tak memperhatikan kondisi putranya. "Nak.. apa yang terjadi?" "Aku nggak apa-apa." Jawab Arkan dengan helaan nafas berat. Fiona menggeleng sambil menangis. Dia sungguh bersedih dengan keadaan putranya. Kabar sakitnya Arkan juga sampai ke telinga keluarga besar, termasuk Brastya. Saat Aamir pulang ke rumah, ayahnya ini langsung mengajukan pertanyaan. "Arkan dirawat di rumah sakit." Ucap Brastya mema
"Hai, Aluna.. apa kabar?"Aluna terkesiap. Ia lalu bangkit berdiri dan membalas pelukan Mawar."Mbak Mawar yang punya salon ini?" Tanya Aluna tak percaya.Mawar melepaskan pelukannya sambil terkekeh."Benar..""Astaga!" Aluna terperangah. Harusnya ia c
Tidak ada Aluna, maka pagi ini Asih yang menjadi pelampiasan wanita paruh baya ini.Biasanya Aluna akan mengantar makanan tepat waktu. Lebih tepatnya sebelum mengurus dirinya sendiri. Ia dengan sabar membujuk makan Fiona yang banyak tingkah. Lalu membantu ambilkan obat dan mengukur tekan
Aluna keluar dari kamarnya sambil menggeret koper. Nindi yang kebetulan keluar dari kamar untuk mengambil minum langsung terhenyak. Begitu juga Fiona yang baru saja masuk dari luar setelah berjemur. "Mau kemana kamu, Aluna?" Tanya Fiona keheranan. "Pergi, ma."
Fiona baru saja keluar menikmati udara pagi. Benar kata Aluna, setidaknya untuk meregangkan tubuhnya, dia harus sedikit berolahraga dan menjemur tubuhnya sejenak. Setidaknya itu akan membawa dampak baik untuk kesehatan Fiona. Pagi ini, Fiona mengambil kursi dan duduk di tengah tama







