LOGINArkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami muntah hebat. Hasil pemeriksaan dokter, Arkan mengalami dehidrasi tingkat sedang disertai dengan gastritis. Pria ini pun membutuhkan perawatan lebih lanjut. "Arkan.." lirih Fiona memanggil sambil menangis. Mendengar suara itu membuat mata Arkan yang terpejam jadi terbuka. Ia pun menatap ibunya dengan mata yang memerah. Pedih sekali hati Fiona melihat keadaan putranya saat ini. Ada selang infus yang terikat di tangannya. Begitu juga dengan wajah Arkan yang pucat pasih. Fiona meminta ampunan kepada Yang Kuasa karena selama ini tak memperhatikan kondisi putranya. "Nak.. apa yang terjadi?" "Aku nggak apa-apa." Jawab Arkan dengan helaan nafas berat. Fiona menggeleng sambil menangis. Dia sungguh bersedih dengan keadaan putranya. Kabar sakitnya Arkan juga sampai ke telinga keluarga besar, termasuk Brastya. Saat Aamir pulang ke rumah, ayahnya ini langsung mengajukan pertanyaan. "Arkan dirawat di rumah sakit." Ucap Brastya mema
"Aluna.." Farah menatap tak percaya ke arah wanita cantik yang berada di sisi Aamir. Aluna yang melihat wanita parah baya itu bergegas menyembunyikan anak kembarnya ke belakang. "Tante. Adel!" Aamir terkejut bukan main. "Sedang apa kalian disini?" "Kami ingin membeli makan siang. Jadi mampir kemari." Jawab Adelina masih terperangah. "Apa itu benar kamu, mbak Aluna?" Tanyanya. "Iya." Sahut Aluna dengan mulut bergetar. Dia lalu memandang Langit. "Langit." Langit mengerti. "Ayo kita pergi!" "Aluna!" Cegah Aamir. "Aluna." Kini Farah ikut memanggil. Matanya beralih pada dua anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. "Itu anakmu?" "Iya, anakku." Kedua tangan Aluna menggenggam kedua anaknya. Ia lalu berjalan melewati Farah dan Adel sambil dikawal oleh Langit. "Aluna!" Panggil Aamir mengejar. Pria ini tak memperdulikan kehadiran Farah
"Sepertinya kita tidak perlu menyewa jasa influencer lagi. Percuma!" Langit menyahuti perkataan Aluna saat morning meeting hari itu. "Kenapa, Langit? Apa kamu sudah putus asa?" Bagaimana tidak? Hampir satu bulan, ayam bakar langit itu beroperasi dan selama itu juga warung ayam geprek ini kehilangan pelanggan. Benar. Komentar ataupun ulasan negatif sudah tak ada lagi. Tapi capaian pelanggan yang datang merosot sampai 50%. Lama-lama kalau begini Langit bisa bangkrut juga. Apalagi ia tengah mengembangkan cabang di tempat lain. "Aku punya ide lain. Pasang banner saja diluar sana. Untuk pembelian dua porsi nasi ayam kita berikan gratis satu porsi. Tulis dengan huruf yang besar untuk menarik pelanggan! Ah, satu lagi, Endang. Menyamar lah menjadi pembeli di restoran ayam bakar depan. Aku ingin lihat apa yang menjadi daya tarik mereka!" Langit memberikan perintah. "S
"Mas Aamirr.." Astaga! Aluna sampai menatap wajah Langit yang semakin masam tak sedap dipandang. Di depan sana ada Aamir yang baru turun dari mobilnya. Pria itu seperti biasa memberikan senyum cerahnya. Kepribadiannya yang hangat membuat semua orang merasa nyaman akan kehadirannya. Tapi bagi Langit, Aamir bak guntur yang menyuramkan suasana hatinya. Ketika melihat pria itu berjalan mendekat ke arah Aluna, Langit sampai mendengkus kesal. "Hai, Aluna. Mawar bilang udah dua minggu kamu nggak ke salon. Jadi aku kemari!" Ujarnya terkekeh. "Hai, mas." Balas Aluna tersendat. "Aku lagi sibuk di warung makan." "Begitu, ya?" Aamir lalu memperhatikan warung makan yang tak memiliki pengunjung serta sang pemilik yang menatap dengan mata gagaknya dari jauh. "Hai, Langit. Apa kabar?" "Baik." Jawab Langit ketus. "Mau makan disini atau bawa pulang??" Lang
"Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan pria itu. Kamu tahu kalau Aamir itu bagian dari keluarga mantan suamimu, tapi kenapa kamu masih mau berdekatan dengannya?" Aluna sampai terperangah mendengar ucapan Langit. Pria itu nampak menggerutu selama perjalanan pulang ke rumah sewa. "Sudah kukatakan kalau mas Aamir itu berbeda, Langit. Dia baik padaku." "Aahhh!" Langit menggeleng. "Aku tahu betul watak pria itu, Aluna. Bisa jadi kebaikannya sekarang karena diam-diam ingin mengambil hak asuh anak-anakmu untuk Arkan!" Aluna tersentak akan ucapan langit. "Pikir saja, Aluna! Kamu sekarang berjuang sendirian menafkahi dua anakmu. Dan Aamir pasti mencari cela agar bisa membantu sepupunya mengambil mereka." "Tidak mungkin mas Aamir melakukan itu." Sela Aluna. "Pegang saja ucapanku, Aluna." Sahut Langit serius. Aluna jadi gelis
"Langit!" Langit menoleh dengan raut wajah yang berubah cepat. Dia yang sedang menggebu-gebu menjadi kesal karena melihat Aluna yang datang mengajak pengawalnya. Lagi-lagi pria itu. Sepupu mantan suaminya. Wanita ini bilang tak mau lagi berhubungan dengan keluarga mantan. Tapi kenapa sering kali Langit memergoki keduanya selalu bersama? Dan apa itu?? Kenapa si kembar begitu lengket pada Aamir? Bahkan Abi yang tak bersahabat pun sampai memeluk tak mau turun dari gendongan pria itu. "Apa yang terjadi?" Tanya Aluna mendekat. Langit berdeham. "Kita bicara di ruangan ku saja. Aryo ikut bergabung!" Suruhnya. Aluna mengangguk. Ia berjalan ke arah Aamir. "Mas, aku titip anak-anak sebentar ya. Aku mau ke ruangan Langit dulu." Ujar Aluna. "Tenang saja.. mereka aman bersamaku!" Sahut Aamir tersenyum.
Fiona baru saja keluar menikmati udara pagi. Benar kata Aluna, setidaknya untuk meregangkan tubuhnya, dia harus sedikit berolahraga dan menjemur tubuhnya sejenak. Setidaknya itu akan membawa dampak baik untuk kesehatan Fiona. Pagi ini, Fiona mengambil kursi dan duduk di tengah tama
Mendengar suara deru mobil membuat nyonya cerewet berkacak pinggang. Hebat sekali anak dan menantunya ini keluar malam hingga pukul 10 tanpa berpamitan.Enak saja! Apa dia pikir Fiona ini hansip sampai harus menunggu mereka pulang malam? Oh, Fiona tak terima! Mulut ini sudah ready untuk
Arkan pulang lebih cepat hari ini. Kue coklat yang tertinggal di resepsionis bahkan tak mau ditolehnya.Pria ini tahu kalau sejak pagi tadi Nindi mengirimi pesan. Tapi Arkan benar-benar tak mau membalasnya. Gara-gara kue coklat itulah yang membuat Aluna menjadi salah paham.Arka
Ompreng itu dilempar hingga isinya tercecer berhamburan ke lantai. Aluna lagi-lagi mengerjap air matanya. Ia merunduk untuk membereskan bekas makanan Fiona. Tapi wanita itu suka sekali menghardiknya."Dasar menantu nggak berguna! Apa kamu pikir mama kucing sampe dikasih ikan rebus itu!"







