แชร์

Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya
Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya
ผู้แต่ง: Yunaza

Bab 1

ผู้เขียน: Yunaza
"Ivy, gosip besar! Adikku yang pendiam itu ternyata diam-diam pacaran di belakangku!"

Mendengar itu, tangan Ivy yang memegang ponsel tanpa sadar membeku. Karena dia sendiri adalah objek gosip yang dimaksud sahabatnya. Dia dan adik sahabatnya sudah menjalin hubungan rahasia selama empat tahun.

Awalnya karena mempertimbangkan hubungan dengan sahabatnya, ditambah lagi saat dia bersama Theo, Theo baru saja lulus SMA, jadi dia tidak pernah jujur pada sahabatnya.

Hanya saja, tak disangka Theo yang baru lulus kuliah sudah mengumumkan hubungan itu.

Memikirkan hal itu, Ivy tanpa sadar tersenyum tipis. "Dia sudah bilang ke kamu?"

Nada Kelly terdengar bersemangat. "Pacarnya itu kayaknya baru pulang ke tanah air hari ini. Dia sampai bikin pesta penyambutan di kelab ...."

Ivy menyela, "Kamu nggak salah?"

"Nggak mungkin salah. Anak itu biasanya dingin ke siapa pun, tapi malam ini dia bukan cuma gantiin cewek itu minum, tapi juga kasih hadiah. Dari awal sampai akhir matanya nggak lepas dari cewek itu, tatapannya lembut banget sampai bikin aku merinding ...."

Kelly masih terus mengoceh, tetapi Ivy sudah tak bisa mendengar apa pun lagi. Dia bahkan mulai meragukan apakah dirinya salah dengar.

Ivy tersadar, berusaha keras menahan getaran di ujung suaranya, lalu pura-pura bertanya dengan tenang, "Mereka sudah berapa lama bersama?"

"Itu aku nggak tahu, tapi setahuku dia sudah lama ngejar cewek itu."

"Kamu tahu nggak, anak itu ternyata setia banget. Dari zaman SMA sudah ngejar cewek itu. Nilainya waktu itu bahkan cukup buat masuk universitas top, tapi dia malah ganti pilihan demi cewek itu. Terus kamu tebak kelanjutannya gimana?"

"Cewek itu sudah suka orang lain, sampai ngejar pria pujaannya ke luar negeri. Adikku sampai depresi cukup lama gara-gara itu."

"Terus cewek itu kena masalah di luar negeri. Begitu adikku dengar, dia langsung nyusul malam itu juga. Selama beberapa tahun ini tiket pesawat bolak-baliknya sudah banyak banget ...."

"Ini semua aku juga dengar dari ibuku. Aku jadi penasaran banget cewek itu orang macam apa. Bisa bikin Theo yang dingin begitu nggak bisa lupain dia selama bertahun-tahun. Eh, hari ini akhirnya aku lihat orangnya langsung. Kamu tahu apa yang aku lihat?"

Setelah terdiam beberapa detik, Ivy baru mengeluarkan dua kata dengan susah payah. "Nggak tahu."

"Cewek itu mirip banget sama kamu! Terutama matanya, aku sampai kaget waktu pertama kali lihat. Keluargamu benar-benar nggak punya anak perempuan yang hilang atau apa, 'kan?"

Setiap kata yang masuk ke telinga Ivy seperti petir yang menggelegar, membuat telinganya berdengung.

Sebuah dugaan mulai menyebar di hatinya. Dia merasa seluruh darah di tubuhnya membeku dan anggota tubuhnya dingin sampai ke tulang.

Dia tiba-tiba teringat hari kelulusan SMA Theo, saat pria itu mabuk berat di KTV. Kelly sedang bepergian, jadi dia diminta untuk menjemputnya.

Dengan susah payah, dia membawa Theo pulang. Begitu masuk pintu, bibirnya langsung disergap. Gerakannya kuat dan kasar, membuatnya tak bisa menghindar.

Aroma alkohol dingin khas tubuh remaja itu menyelimutinya. Perlahan, dia dibuat pusing oleh bau alkohol yang memabukkan itu, hampir tak bisa berdiri.

Theo justru tertawa santai melihat gerakannya yang kaku. "Kak, belum pernah ciuman?"

Ivy seketika tersadar, mendorongnya menjauh. "Theo, buka matamu dan lihat jelas siapa aku."

Theo tak peduli, tiba-tiba mendekat sambil tersenyum. Tubuh panasnya menempel erat pada Ivy. "Aku tahu kok. Kak, kamu suka aku."

Nada yang sangat yakin.

Seperti rahasia yang terbongkar, Ivy menunduk dengan agak malu. "Mana ada ...."

"Jangan buru-buru menyangkal." Theo mengangkat dagunya dengan santai. Saat mata mereka bertemu, dia melihat bayangannya di mata hitam remaja itu, seperti bintang di langit malam.

"Kak, matamu nggak bisa bohong. Aku kasih kamu kesempatan, dorong aku ...."

Aroma alkohol yang menyelimuti sekitarnya menghantam kesadarannya yang tersisa. Entah kenapa, jantung yang tadinya berdebar kacau tiba-tiba menjadi tenang. Dia menatap mata remaja itu, tetapi tiba-tiba bibirnya terasa lembut.

Tanpa memberinya kesempatan, Theo menahan tengkuknya dan mencium bibirnya dengan lembut.

Ivy perlahan tenggelam dalam ciuman yang lembut dan penuh keterikatan itu, tak mampu melepaskan diri.

Hari itu adalah pertama kalinya baginya. Theo seolah-olah tak kenal lelah, terus bersamanya sepanjang malam yang kacau.

Saat mencapai puncak, dia menunduk mencium mata Ivy. Suaranya malas dan berat, "Buka matamu dan lihat aku. Matamu ... sangat indah."

Ternyata yang dia katakan hari itu bukan "sangat indah", melainkan "sangat mirip dia". Ternyata dia mabuk sampai tidak sadarkan diri karena cinta tak terbalasnya. Wanita yang dia cintai pergi ke luar negeri demi pria lain.

Ternyata bersamanya hanya karena pelampiasan. Bahkan kebiasaannya menatap matanya saat terbawa perasaan ... juga karena ... menganggapnya sebagai pengganti!

Air mata yang selama ini ditahan akhirnya runtuh. Ivy menahan isakan, lalu langsung menutup telepon.

Saat itu juga terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ivy menenangkan emosinya, lalu membuka pintu.

"Kak Ivy, Kak Theo minum terlalu banyak. Aku antar dia pulang ke sini."

Ivy mengucapkan terima kasih, lalu menerima Theo. Jarang sekali Theo bersikap patuh. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Ivy dan menggosok pelan, lalu bergumam samar, "Jangan pergi ... Gaia."

Begitu kata-kata itu keluar, seluruh ruang tamu menjadi sunyi senyap.

"Eee ... Kak Ivy, jangan salah paham. Hari ini ada teman yang ulang tahun, Kak Theo cuma keasyikan minum, jadi nggak ingin teman-temannya pergi."

Ivy mengangguk dengan tidak acuh.

Melihat ekspresinya yang tenang, Ethan diam-diam menghela napas lega. Setelah membantu membaringkan Theo ke tempat tidur, dia segera pergi seperti melarikan diri.

Ivy duduk di tepi tempat tidur, entah kenapa melirik ponsel di meja samping. Selama empat tahun berpacaran, dia tak pernah memeriksa ponsel Theo. Sekarang dia hanya ingin memastikan satu hal, apakah yang dikatakan Kelly itu benar atau tidak.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 10

    Seolah-olah sudah menduga dia akan menolak, Theo tidak menunjukkan reaksi berarti terhadap sikapnya.Dia mematikan rokok di ujung jarinya, lalu saat kembali menatap ke arah kamar di lantai tujuh, tatapannya menjadi suram."Ivy, kamu cabut laporan secara sukarela atau aku cari cara supaya kamu mencab

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 9

    Setelah menutup telepon, Ivy mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan tertidur dalam keadaan setengah sadar.Sampai suara bel membangunkannya, dia baru sadar hari sudah gelap. Dengan kepala yang masih berat, Ivy berjalan membuka pintu.Baru saja terbuka sedikit, pintu tiba-tiba

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 8

    Begitu kata-kata itu terlontar, Theo seolah-olah tersadar dari mimpi, lalu langsung melepaskan tangannya.Ivy mengusap pergelangan tangannya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun."Kenapa? Sudah benar-benar jatuh cinta ya? Kalau begitu, perlu aku restui kalian? Soal anak, kamu juga nggak p

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 7

    Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor."Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?""Nggak perlu, jangan bilang k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status