Share

Ancaman.

Author: Azzurra
last update publish date: 2026-03-20 12:55:42
Setelah pembicaraan tegang dengan Daniel, Dalton merasa ruangan kerjanya semakin menyempit. Daniel kini berani bersuara.

"Lancang." Dalton mengepalkan kedua tangan.

Jika Daniel berani berontak maka dia benar-benar dalam masalah. Asisten pribadinya ini sepertinya sudah mulai berani menginterupsi apa yang Dalton lakukan, pria ini menyugar rambutnya. isi kepalanya berfikir.

Bukan, bukan Daniel yang mulai lancang tapi ini adalah efek kegelisahan Daniel karna Dalton kini mulai melemah.

Lemah
Azzurra

Terimakasih sudah membaca Tinggalkan jejak teman, beri ulasan terbaik, like komen dan share,

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kecurigaan.

    Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area dermaga," ucap Julian sambil menunjukkan tabletnya pada Mikail. "Ada tiga titik buta di sana. Jika Sam datang membawa pasukan, mereka akan terjebak di area terbuka sebelum bisa mendekati dermaga pribadi itu." Mikail hanya mengangguk kecil. Ia duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas tuts keyboard. "Aku sudah memasang firewall berlapis pada semua server firma hukumku. Begitu ada upaya peretasan atau akses ilegal menggunakan namaku atau namamu, sistem akan langsung melacak lokasi GPS pengirimnya secara real-time." Mikail berhenti sejenak, menatap layar yang menampilkan foto buram Sam yang dikirim oleh Daniel. "Aku masih bertanya-tanya apa maksud Daniel dengan 'kewajiban darah'. Di dun

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Strategi.

    Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan ku dengan Mikail ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus berhati-hati, Daniel," suara Dalton terden

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   The Ghost

    Di tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat. Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati lukisan itu. "Lukisan yang bagus. Tapi sayangnya, sejarah di baliknya tidak seindah warnanya," ucap Daniel tanpa menoleh. Mikail tidak bergeming. "Kebanyakan orang di sini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, Tuan ...?" "Daniel. Hanya seorang kurir yang membawa kabar tentang sebuah aset yang mulai bocor ke permukaan," jawab Daniel tenang. Ia menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan logo Obsidian yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak terkena cahaya dengan sudut tertentu. Mikail melirik kartu itu. Untuk pertama kalinya, otot rahangnya mengeras. Sebagai 'The Ghost', dia tahu persis logo itu—sebuah organisasi y

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menenangkan Ayah.

    Pintu kamar utama yang terbuat dari kayu jati hitam tertutup rapat, meredam seluruh kebisingan dunia luar. Ana berdiri mematung di tengah ruangan yang luas itu. Ia belum melepas jaket kulitnya, tangannya masih terasa kaku. Kalimat ayahnya yang mengatakan, Tatapannya kini seperti tatapan seorang pe

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kelinci Cantik

    Layar digital di kabin jet menampilkan cetak biru pelabuhan pusat. Dalton berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas dari titik merah yang menandakan posisi Silas. "Silas ingin aku datang menyerah," suara Dalton berat, menggetarkan dinding jet. "Dia ingin aku berlutut di depa

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Ratu Mafia

    Koper-koper sudah masuk ke dalam kendaraan yang akan membawa mereka ke landasan pacu. Di dalam Ger yang kini terasa lebih sunyi, Ana berdiri mematung di dekat pintu tenda. Ia sudah mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuhnya, matanya menatap jauh keluar tenda. Dalton mendekat, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Latihan

    Cahaya matahari pagi Mongolia yang pucat menembus bagian atas Ger, membangunkan Ana dari tidur terdalam yang pernah ia rasakan. Tubuhnya terasa ringan namun bertenaga. Di sampingnya, Dalton sudah tidak ada, namun aroma kopinya yang kuat memenuhi ruangan.Ana melangkah keluar dengan pakai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status