Se connecterDi ruang tengah, keluarga Rindu dan Seno masih berkumpul membicarakan banyak hal. Selain itu, mereka juga tengah melepas rindu karena telah lama tinggal berjauhan. Baik Cakra, Soni dan Sofi sudah bersahabat sejak masa abu-abu dulu. Jadi wajar saja jika mereka bisa dekat sampai sekarang. Apalagi sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga."Hesti belum isi juga sampai sekarang?" tanya Sofi sedikit berbisik.Soni melotot mendengar pertanyaan sensitif yang kembarannya tujukan pada Cakra. Tapi memang dasarnya Sofi, pria itu tak paham dengan kode yang diberikan Soni."Belum." balas Cakra singkat, tapi keduanya dapat menangkap dengan jelas suara pria itu yang terdengar lelah.Pluk"Sabar. Mungkin memang belum rejeki." timpal Soni menyemangati.Cakra tersenyum kecil sembari melempar tatapan ke arah Soni. Memang dari dulu, Soni tidak banyak bicara seperti Sofi. Pria itu juga pemikirannya lebih dewasa di antara mereka bertiga."Hm. Doakan saja yang terbaik." balasnya sembari mengulas senyum yan
Rindu tidak dapat menahan rasa gugupnya ketika bertemu dengan kedua kakak kembar Seno. Dua hari sebelum acara pernikahan mereka digelar, keluarga Seno yang masih tersisa akhirnya sampai di rumah Heru. Dan ini kali kedua dirinya bertemu dengan Soni dan Sofi.Jika Om Soni memiliki watak yang sebelas duabelas dengan Paman Cakra. Om Sofi justru paling ramah dari pada Om Soni dan Seno. Walaupun begitu, Rindu masih terlihat gugup bertemu dengan keduanya."Menang banyak kamu, No dapat yang bening-bening seperti Rindu." goda Sofi yang sejak tadi tak henti menggoda adiknya.Seno tampak memicing mendengar godaan kakaknya. Sedangkan Rindu hanya bisa mengulum senyum malu dengan kedua tangan yang saling bertautan."Sudah. Jangan digoda terus, Mas. Kamu tidak lihat wajah Rindu sudah seperti tomat rebus." timpal istri Sofi yang wataknya begitu mirip dengan pria itu. Sama-sama gesrek.Soni yang sejak tadi diam memperhatikan tingkah kembarannya hanya menghela napas berat. Tidak aneh lagi dengan sikap
Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam ketika Rindu terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering karena tidak sempat minum sebelum tidur.Gadis itu memutuskan untuk beranjak dari tempat berbaringnya. Lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur.Selama Hesti dan Cakra tinggal di rumah ini, Rindu dan Seno memang memutuskan untuk tidak sekamar. Selain karena mereka belum menikah, keduanya juga tidak ingin menimbulkan kesan yang buruk di mata Hesti dan Cakra. Walaupun sebenarnya semuanya telah mengetahui hubungan mereka yang di luar batas.Dalam keadaan yang gelap, Rindu dengan hati-hati berjalan menyusuri lorong kamar yang sepi. Gadis itu hampir sampai di tempat tujuannya saat mendapati sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.Rindu yang terkejut hampir saja memekik jika saja sosok itu tidak membungkam bibirnya dengan tangan."Paman." bisik Rindu begitu mencium aroma khas dari pria yang dia kenali."Kenapa belum tidur?" tanya pria itu dengan suara b
Rindu tidak dapat menahan senyum bahagianya ketika menyambut kedatangan bibi keduanya di bandara. Sebelumnya, Rindu sempat hilang kontak dengan Hesti karena ponsel sang bibi yang hilang.Rindu memang tidak terlalu dekat dengan keluarga bibi keduanya, Hesti. Hal itu karena setelah menikah, Hesti diboyong ke luar pulau oleh suaminya.Sedari dulu, Hanum dan Hesti sering terlibat konflik. Dan puncaknya ketika Hanum yang memutuskan hubungan dengan suami Hesti yang sekarang untuk bisa menikah dengan Seno. Sehingga sejak saat itu, hubungan mereka semakin merenggang dan dingin.Hesti tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampung halamannya. Selain karena suaminya yang tidak memberinya ijin, dia juga merasa malas jika harus bertemu dengan Hanum, sang kakak yang selalu iri padanya.Sejak dulu, Hesti hanya dekat dengan Heru. Kakak tertuanya itu selalu menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah. Sehingga ketika dia mendapat kabar jika kakaknya Heru beserta istrinya meninggal karena kecelakaan, He
Selama tiga hari Hanum di rawat di rumah sakit pengayoman. Dan selama itu dia terlihat sangat menyedihkan. Kini dia telah dimasukkan ke dalam sel. Berkumpul bersama dengan para tahanan yang lain.Hanum yang biasa bersolek dengan perhiasan yang selalu melekat di tangan dan jari manisnya, kini tampak berantakan dengan wajah kuyu yang selalu muram. Tidak ada lagi serentetan gelang yang menghiasi lengannya. Yang ada justru sepasang borgol yang melingkari pergelangan tangannya.Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat cukup jelas. Wajahnya pucat pasi tanpa sapuan bedak. Juga tatapannya yang biasa congkak, telah digantikan dengan tatapan sendu nan sayu.Setiap harinya Hanum hanya termenung dengan pandangan kosong. Tak dia hiraukan keadaan yang ada di sekelilingnya. Dia terlalu terpaku dengan problematika yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.Beberapa kali Hanum mengacuhkan pertanyaan dari para wanita yang menjadi teman satu selnya. Dan dari reaksi yang wanita itu berikan, membuat mereka
Greb"Apa kamu sudah lega sekarang?" tanya Seno memeluk Rindu dari belakang. Pria itu menumpukan dagunya di pundak gadis itu.Rindu bergeming dan menghela napas berat. Senyum samar tampak menghiasi wajahnya saat ini."Rindu lega karena bisa membongkar kejahatan Bibi selama ini dan memberikan pelajaran berharga untuknya, Paman. Tapi Rindu juga sedih karena sekarang Rindu tidak mempunyai siapa-siapa lagi." lirih Rindu di akhir kalimatnya.Seno mengeratkan dekapannya seolah ikut merasakan kesedihan yang Rindu rasakan. Beberapa kali dia mendaratkan kecupannya pada puncak kepala gadis itu."Kamu tidak sendirian, Sayang. Ada Paman, dan calon anak kita yang akan selalu menemani kamu." bisik Seno sembari mengelus perut Rindu.Pundak Rindu bergetar disusul dengan isakan kecil yang mulai terdengar dari bibir gadis itu. Rindu lantas berbalik, membenamkan wajahnya di dada Seno yang menjadi tempat ternyaman untuknya berkeluh kesah."Terimakasih karena Paman tidak meninggalkan Rindu." lirih Rindu m
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







