로그인Seno mengernyitkan dahinya saat merasakan benda kenyal yang tengah menghisap bibirnya beberapa kali. Masih dengan mata terpejam, pria itu berusaha untuk menyingkirkan beban berat yang ada di atas tubuhnya.Seno dibuat menggeram karena sepertinya sosok ini sengaja mengusik tidurnya. Membuatnya mendengus dan dengan kesal membuka lebar kedua matanya.DegPria itu dibuat berjengit saat melihat sosok yang ada di depannya saat ini . Seno pikir sejak tadi Hanum-lah yang telah mengganggunya. Tapi ternyata.."Pagi, Paman Sayang." sapa suara lembut nan mesra tersebut.Seno mengerjap merasa tidak percaya dengan sosok yang kini tengah tersenyum manis di depannya saat ini."Kok sapaan Rindu tidak jawab, Paman?" dengusan kesal dari sang empu membuat Seno akhirnya tersadar, jika yang ada di depannya saat ini memang benar-benar gadis itu."Ri-Rindu? Kamu-kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanya Seno kebingungan.Sadar jika posisi mereka saat ini benar-benar sangat dekat, Seno lantas segera bangun. Memb
Sedari tadi Rindu sudah beberapa kali memutar tubuhnya kesana kemari di atas ranjang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Namun tak ada tanda-tanda gadis itu akan tertidur.Helaan napas berat terdengar dari bibir kecil Rindu. Gadis itu tengah berbaring terlentang, dengan iris beningnya menghadap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Mengingat apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Seno beberapa jam lalu di bengkel.Rasa sedih baru mendera hati Rindu saat ini. Namun sudah terlambat jika gadis itu ingin menyesalinya. Dia bahkan menikmati apa yang Seno lakukan pada tubuhnya.Rindu kembali menarik napas beratnya. Rasa sesak berkerumun di dalam hatinya saat ini. Memang benar dia telah memutuskan untuk melakukan apapun demi membalaskan dendamnya. Bahkan Rindu akan memberikan kesuciannya pada Seno secara suka rela. Tapi tetap saja, Rindu hanyalah seorang gadis yang rapuh dan lemah. Yang berusaha tetap kuat demi membalas rasa sakit hatinya pada sang Bibi."Sekarang
Seno mendekap Rindu dengan begitu erat sesaat setelah permainan mereka selesai. Wajah pria itu tampak berseri karena baru saja mendapatkan servis dari sang keponakan."Terimakasih, Sayang. Paman senang sekali karena kamu mau memberikan harta berharga kamu untuk Paman." kata Seno mengecup puncak kepala Rindu dengan penuh kelembutan.Rindu yang masih merasa lemas hanya bisa mengangguk lemah. Rasanya memang sangat nikmat, tapi juga melelahkan setelahnya.Seno yang merasa sangat puas tak henti memuji Rindu dengan kata-kata manisnya. Membuat gadis itu tersipu dan hanya bisa menyembunyikan wajah merahnya di dekapan sang paman."Setelah ini, apa Paman akan meninggalkan Rindu?" pertanyaan itu keluar dari bibir Rindu setelah lama diam."Apa itu yang ada di pikiran kamu sekarang?" tanya Seno mengernyit tak suka.Rindu mendongakkan wajahnya, bertemu pandang dengan iris gelap milik Seno yang tengah menyorotnya dengan lurus."Bagaimanapun Rindu hanyalah keponakan yang tidak tahu diri karena sudah
Tubuh Rindu tersentak-sentak seiring dengan gerakan jari Seno yang ada di dalam dirinya. Kedua tangan mungilnya mencengkram tepian sofa dengan bibir yang tak berhenti mendesah.Di depannya kini, Seno tengah bersimpuh sembari memainkan jarinya di dalam lubang miliknya. Menari-nari dengan begitu lihai hingga membuat Rindu blingsatan."Ouchh.."Rindu memekik dengan bibir setengah terbuka kala merasakan jari Seno yang sengaja dihentakkan dengan kuat. Tubuhnya menegang dan tak henti menggeliat karena rangsangan tersebut.Tak cukup menyiksa Rindu dengan kedua jarinya yang terbenam sempurna di dalam milik gadis itu, bibir Seno juga ikut andil memberikan kenikmatan berlebih pada Rindu. Menjilat biji seukuran kacang kedelai yang terasa mengeras dengan gemas. Sesekali lidahnya akan terjulur menikmati cairan hangat yang terus membanjiri milik gadis itu.Rindu yang saat ini tengah dalam posisi setengah berbaring terus bergerak seiring dengan serangan jari dan mulut Seno yang tiada henti bermain d
Rindu membeku begitu mendengar apa yang Seno ucapkan. Jantungnya berpacu dengan begitu cepat tanpa bisa dia cegah. Pikirannya mulai melayang memikirkan apa yang akan terjadi nantinya jika Seno benar-benar melakukannya.Melihat wajah Rindu yang tampak tegang, Seno yang sudah dikuasai oleh kabut gairah lantas bangun dari pangkuan kekasih kecilnya itu. Sembari menenangkan dirinya agar tidak lepas kendali. Namun semakin dia berusaha meredamnya, dia semakin tidak bisa menahannya.Seno menatap Rindu penuh hasrat sembari menegakkan tubuhnya. Tangannya terulur mengelus wajah Rindu lalu turun menuju gundukan kenyal milik gadis itu yang membusung indah di balik dress selutut yang dia kenakan.Ditangkupnya kedua gunung kembar Rindu tanpa rasa canggung. Lalu diremasnya perlahan hingga menimbulkan desahan lirih dari bibir sang puan.Iris bening Rindu menatap wajah Seno dengan gelisah. Bibir bawahnya dia gigit, namun tubuhnya tak henti menggeliat merasakan remasan tangan Seno di gunung kembarnya. D
Seno dan Rindu benar-benar pergi bersama ke bengkel ketika jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Hanum sempat bertanya kenapa mereka pergi sepagi itu. Pasalnya bengkel milik Seno selalu buka pukul 9 pagi. Dan dengan tenang Seno menjawab jika mereka hendak mengecek persediaan bahan dan alat di gudang.Melihat tidak ada gerak-gerik yang aneh antara Seno dan Rindu, Hanum terlihat langsung percaya. Wanita itu tidak sekalipun menaruh curiga pada keduanya. Sehingga dia membiarkan mereka pergi begitu saja setelah sarapan selesai.Sepanjang perjalanan, pasangan kekasih gelap itu saling bercanda gurau. Sesekali dengan tingkah malu-malu Rindu akan mencubit pinggang Seno karena candaan pria itu.Perjalanan mereka tak membutuhkan waktu yang lama. Cukup sepuluh menit berkendara di jalanan desa, keduanya telah sampai di depan bengkel yang masih tergembok rapat.Seno menyodorkan kunci bengkel pada Rindu, meminta gadis itu untuk membukanya. Setelah pintu terbuka setengah, Seno lantas segera memasukkan







