Home / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Pertama Kalinya [+]

Share

PPS | Pertama Kalinya [+]

Author: Karl Valerie
last update publish date: 2026-05-19 15:31:58

Rindu membeku begitu mendengar apa yang Seno ucapkan. Jantungnya berpacu dengan begitu cepat tanpa bisa dia cegah. Pikirannya mulai melayang memikirkan apa yang akan terjadi nantinya jika Seno benar-benar melakukannya.

Melihat wajah Rindu yang tampak tegang, Seno yang sudah dikuasai oleh kabut gairah lantas bangun dari pangkuan kekasih kecilnya itu. Sembari menenangkan dirinya agar tidak lepas kendali. Namun semakin dia berusaha meredamnya, dia semakin tidak bisa menahannya.

Seno menatap Rindu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kebahagiaan yang Lengkap [EXTRA CHAPTER]

    Rindu mele-nguh di tengah lelapnya ketika merasakan kecupan-kecupan kecil di sekitar tengkuknya. Wanita yang telah memiliki dua orang anak itu tampak terusik dan berusaha menghalau sentuhan tersebut. Namun bukannya berhenti, seseorang itu justru seolah sengaja ingin mengganggu tidurnya. Mendengus kesal, wanita itu lantas berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat. Hal pertama yang Rindu lihat saat pertama kali adalah wajah sang suami yang tersenyum menatapnya. "Sayang ih, aku masih ngantuk." keluh Rindu mengusap matanya beberapa kali. Tanpa merasa bersalah, Seno justru tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi. Membuat Rindu langsung menyadari apa yang pria itu inginkan. "Pengen, Yang." rengek Seno mempoutkan bibirnya. Menampilkan raut menggemaskan untuk membuat Rindu luluh. Setelah hampir setahun menikah, keduanya tak lagi memakai bahasa yang kaku seperti dulu lagi. Rindu tampak menghembuskan napas berat sebelum membelai kepala belakang suami tuanya itu. Sebenarnya di

  • Pesona Paman Seno   PPS | Bersama Si Kembar [EXTRA CHAPTER]

    Seno tak langsung pergi ke showroom begitu keluar dari ruang ICU, tempat dimana Rindu berada. Dengan gontai pria itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai ramai karena telah masuk waktu jam besuk. Namun faktanya, begitu ramai orang yang berlalu-lalang di sekitarnya, Seno justru merasakan hampa. Separuh jiwanya telah kosong selama sebulan ini. Dan semakin hari, rasanya begitu berat hidup yang dia jalani. Pria itu menghentikan langkahnya ketika sampai di taman rumah sakit. Dia bisa melihat beberapa pasien yang tengah berjemur, atau sekedar menikmati embun pagi bersama anggota keluarganya. Seno tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca. Mengingat akan Rindu yang masih berbaring di atas brankar rumah sakit dalam keadaan koma. Sudah sebulan lebih berlalu, tapi Tuhan masih belum merelakan Rindu kembali padanya. Seno sadar dirinya adalah pendosa. Pria itu berpikiran jika apa yang tengah dia alami adalah sebuah teguran untuknya. Dimana dia pernah menyakiti hati Hanum dengan bers

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kepergian [EXTRA CHAPTER]

    Seno menatap kedua putra kembarnya yang terlelap di gendongan kedua kakak iparnya. Pagi ini Martha dan Diana kembali berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Rindu yang masih belum sadar dari komanya. Sudah sebulan berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Rindu akan bangun. Pihak rumah sakit mengatakan pada Seno jika hanya keajaiban yang dapat diandalkan untuk saat ini. "Pagi ini kamu jadi pergi ke showroom, No?" tanya Diana sembari menimang salah satu putra Seno. Sampai detik ini pria itu masih belum memberikan nama pada mereka. "Iya, Mbak. Ada yang harus Seno urus di sana. Tapi.." ucapan Seno terhenti saat dirinya melirik ke arah Rindu. Menyadari apa yang Seno khawatirkan, Martha akhirnya menyela ucapan pria itu. "Tidak usah khawatir. Mbak dan Diana akan menjaganya. Hesti juga sebentar lagi akan datang ke sini." timpal Martha. Seno akhirnya mengangguk dan beranjak dari kursinya. Pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu selang beberapa menit dia ke

  • Pesona Paman Seno   PPS | Rindu Koma [EXTRA CHAPTER]

    Rindu terbangun di sebuah tempat yang begitu asing. Netra beningnya tampak kebingungan saat tak mendapati siapapun di tempat ini. "Rindu.." Panggilan lembut yang terdengar samar di telinganya, membuat Rindu menoleh. Gadis itu membelalak saat mendapati dua orang yang sangat dia rindukan kini telah berada di depannya. Dengan mengenakan pakaian serba putih. "Bunda.. Ayah.." seru Rindu dengan dada membuncah senang. Gadis itu berlari menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat. Tangis Rindu seketika pecah setelah sekian lama memendam rindu, akhirnya dia bisa bertemu dengan ayah dan ibunya. "Rindu kangen kalian.. hiks.." isak Rindu pilu. Pelukannya pada sang ibu mengerat. Apalagi ketika merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. "Ayah dan Bunda juga kangen kamu, Sayang." kata Rinda dengan lembut. Rindu mendongak, menatap kedua orang tuanya dengan berkaca-kaca. Pipinya telah basah akan air mata yang tak dapat dia bendung. "Kenapa kalian ninggalin Rindu sendiri?"

  • Pesona Paman Seno   PPS | Anak yang Dinantikan [EXTRA CHAPTER] #2

    Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana cara dia bisa segera sampai di rumah sakit agar Rindu lekas mendapat pertolongan. Tak sampai dua puluh menit, Seno akhirnya tiba di rumah sakit. Pria itu kembali membopong Rindu keluar dari mobil dan berlari menuju UGD. "Tolong jangan tinggalkan aku, Sayang. Kamu pasti bisa bertahan. Aku yakin kamu kuat." Seno tak henti menggenggam tangan dingin Rindu. "Pak, Ibu Rindu harus segera mendapat tindakan medis karena mengalami pendarahan hebat. Tolong Anda tanda tangani surat persetujuan untuk melakukan operasi agar kami bisa segera menanganinya." kata seorang suster menginterupsi. Tanpa pikir panjang Seno langsung menyetujuinya. Dengan tangan gemetar pria itu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Selanjutnya, Rindu segera di bawa ke ruang operasi. Kandungan gadis itu mengalami masalah dan harus segera dilakukan tindakan lebih lanjut. Jika tidak, nyawa kedua bayi

  • Pesona Paman Seno   PPS | Anak yang Dinantikan [EXTRA CHAPTER] #1

    Rindu tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk Seno, suaminya. Biasanya pria itu akan pulang pukul 6 petang. Dan sejak pukul 4 sore, Rindu sudah berkutat di dalam dapur. "Biar saya saja, Non Rindu. Nanti Bapak bisa marah melihat Non Rindu ada di dapur." bujuk Mbok Inem, asisten rumah tangga yang baru seminggu bekerja di rumah Rindu. Rindu tersenyum tipis sembari menggeleng. "Tidak apa-apa, Mbok. Rindu sedang ingin memasakkan sesuatu untuk Mas Seno. Lebih baik Mbok Inem lanjutkan mengepelnya saja." tolak Rindu halus. Gadis itu memang keras kepala sekali sejak dulu. Sudah Seno larang Rindu untuk beraktivitas di dapur, tapi dia tetap saja membangkang. Mbok Inem yang mulai lelah membujuk Rindu akhirnya menyerah. Dengan ragu wanita paruh baya itu melanjutkan aktivitasnya mengepel lantai rumah. "Ya sudah kalau begitu, Mbok mau melanjutkan mengepel di ruang tengah. Nanti jangan kesana dulu ya, Non." kata Mbok Inem memperingati, takut Rindu tiba-tiba datang kesana saat keadaan la

  • Pesona Paman Seno   PPS | Perhatian Rindu

    Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mencari Perhatian

    Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tarik Ulur

    Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Pura-Pura Polos

    Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status