MasukMalam merayap semakin pekat ketika sebuah taksi tua membawa Sri dan Pak Surya membelah jalanan sepi menuju pinggiran kota. Di dalam kabin yang minim pencahayaan, keheningan terasa begitu mencekam.Pak Surya duduk di sudut kursi dengan wajah yang masih dipenuhi lebam keunguan dan sudut bibir yang dibalut plester obat, sementara tangannya terus gemetar menahan cemas. Di sampingnya, Sri menatap lurus ke luar jendela. Wajahnya datar, tetapi jemarinya mencengkeram erat tas kain usang yang berisi beberapa pakaian mereka.Taksi akhirnya berhenti di sebuah area remang-remang dekat sebuah gudang kosong yang terbengkalai yang Sri kunjungi kemarin. Begitu mereka turun, tiga orang pria berjaket kulit hitam yang tempo hari mengancam Sri sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, duduk Bu Sulastri di atas sebuah kursi plastik."Ibu!" desis Sri pelan, bergegas melangkah maju.Bu Sulastri mendongak. Wajah paruh bayanya tampak sangat pucat, matanya sembap
Tiga hari berlalu. Gedung pertemuan utama SMA Tunas Bangsa tampak megah dengan dekorasi bernuansa formal. Ratusan siswa berseragam rapi lengkap dengan toga kelulusan memenuhi kursi-kursi yang telah diatur rapi. Riuh rendah obrolan dan tawa bangga dari para orang tua memenuhi seisi ruangan. Namun, bagi Sri, semua kemegahan ini terasa hambar, seperti panggung sandiwara yang sebentar lagi tirainya akan ditutup paksa. Pagi ini, Sri tidak lagi mengenakan seragam sekolah biasanya. Di balik jubah toga hitam berbahan satin halus dengan samir beludru berwarna hijau tua khas SMA Tunas Bangsa, ia mengenakan kemeja putih katun berkerah tegak yang dipadukan dengan rok span hitam selutut yang sangat rapi. Rambut hitamnya yang panjang tidak lagi dikuncir asal-asalan, melainkan disanggul modern dengan gaya sederhana namun menyisakan keanggunan alami yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya dipoles riasan tipis, menonjolkan sepasang mata jernih dan tu
Malam semakin larut, namun kesunyian yang merayap di dalam rumah kontrakan itu justru terasa memekakkan telinga. Pendar lampu bohlam kuning yang temaram di ruang tamu seolah mempertegas kemalangan yang baru saja porak-poranda. Bau minyak tawon dan antiseptik menguar, bercampur dengan aroma debu dari sisa-sisa kekacauan siang tadi. Sri bergerak dalam diam, mengompres memar di pipi Pak Surya dengan gerakan yang mekanis. Tidak ada kelembutan, tidak pula ada kemarahan yang meledak-ledak. Tangannya hanya bergerak menyelesaikan tugas, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah luka-luka di wajah pria paruh baya itu. Selesai mengobati, Sri berdiri tanpa suara, membiarkan Pak Surya perlahan merebahkan tubuhnya yang ringkih di atas sofa lusuh yang sebagian busanya sudah melesak kempis. Sri beralih memunguti pecahan mangkuk kaca dan pot tanaman di sudut ruangan. Setiap gesekan sapu pada lantai semen yang dingin seolah bergema di dalam kepalanya yang k
“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe







