LOGIN“Aku tanya sama kamu sekali lagi, kamu lebih milih nikah sama aku atau uang dua ratus juta itu?” tanya Tiko meyakinkan Vio.
Di benak Tiko, dia ingin kalau calon istrinya mengatakan kalau perempuan itu lebih memilih Tiko daripada uang sebesar dua ratus juta.
Tapi ternyata, kejujuran yang keluar dari bibir tipis Vio itu membuat impiannya runtuh seketika. Angan-angan pernikahan bahagia dan menjalani hidup sederhana bersama orang yang dicintainya hilang tertimpa kata: tidak, aku tidak sudi menikah dengan orang yang tidak menepati janjinya!
“Jadi kamu lebih memilih uang dua ratus juta daripada menikah denganku?”
“Apa jawabanku terdengar kurang jelas di telingamu, Tiko? Kayanya kamu harus mengecek kupingmu ke THT deh! apa jangan-jangan kamu udah budeg ya?” bentak Vio dengan nada ketus.
Pernyataan Vio membuat Tiko serasa dijatuhkan dari langit ke tujuh.
Tega-teganya orang yang paling dicintainya selama ini mengatakan hal sekasar itu kepada dirinya? Apa jangan-jangan selama ini dirinya memang tidak pernah benar-benar mengenal calon istrinya?
“Baiklah kalau memang itu yang menjadi keputusanmu!” ucap Tiko dengan nada kecewa. “Aku akan membatalkan upacara pernikahan ini, tapi dengan satu syarat!”
“Apa itu?” tanya Vio dengan penasaran.
“Kamu harus ngembaliin uang seratus juta yang aku kasih ke kamu!”
“Apa? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Vio dengan keheranan sekaligus tak percaya.
“Sepertinya kupingmu yang harus diperiksa ke THT deh,” jawab Tiko dengan sepenuh emosi.
Napasnya memberat dan tatapan matanya dingin. Tiko tidak percaya kalau hari yang paling dinanti-nantikannya, dan akan menjadi hari paling membahagiakannya berubah menjadi hari paling buruknya sepanjang hidup.
“Berani-beraninya kamu bilang tidak sopan begitu sama kakakku!” ujar Raul yang kini mencoba menghajar Tiko. Kedua tangannya mencengkram kerah kemeja Tiko, dan mendaratkan tinjunya di wajah Tiko dengan sekuat tenaga sehingga membuat tubuh Tiko tersungkur ke lantai.
Kejadian itu sontak membuat para tamu yang hadir menjadi riuh. Para tamu itu dengan cepat membuka ponsel mereka masing-masing dan merekam kejadian itu.
“Gila! Bakal viral nih!” tukas seorang tamu dengan penuh antusias.
“Lagian ngapain sih kalau nggak punya duit pengin pake nikah segala” timpal seorang tamu lain tanpa perasaan.
“Dasar bego!” timpal yang lain.
“Pokoknya aku minta uang mas kawin seratus jutaku kembali!” tukas Tiko bersikeras, sambil mengelap darah yang keluar dari mulutnya.
“Dasar calon menantu yang tidak tahu malu!” bentak Tante Maria. “Kalau kamu tahu diri, kamu nggak bakal ngomong nggak pake otak macam begitu. Tentu saja saya akan mengabulkan permintaanmu buat membatalkan rencana pernikahan ini. Tapi kami nggak bakal balikin uang seratus juta itu...”
“Lagian uang seratus juta itu udah aku abisin!” ujar Vio tanpa tahu malu. “Menurutmu uang seratus juta itu gede banget ya? Uang seratus juta itu nggak ada apa-apanya. Buat beli satu tas bermerek aja nggak cukup. Aku nggak nyangka ternyata kamu orangnya itungan dan pelit ya! Untung aku nggak jadi nikah sama kamu, ihhh, coba kalau nikah, aku nggak bisa ngebayangin punya lakik pelit macam kamu!”
Semua yang dituduhkan kepada Tiko tidak benar adanya. Sebagai seorang lelaki, Tiko adalah tipe orang yang mau mengorbankan semuanya demi orang yang dicintainya. Demi untuk memenuhi mas kawin untuk Vio, Tiko rela meminjam uang dan bekerja keras banting tulang. Tapi tetap saja uang itu tidak cukup memenuhi keinginan Vioa.
Lagipula, alasan kenapa dia meminta kembali mas kawin yang telah diberikannya adalah karena dia sudah muak dengan sifat materialistis Keluarga Vioa.
Kok ada ya orang bisa sematre itu, pikir Tiko.
“Kamu nggak apa-apa, Tiko!” ujar Salsa, mencoba membantu lelaki itu bangkit.
“Aku nggak apa-apa, Salsa. Luka ini nggak berarti apa-apa dibanding sakit hati yang aku terima,” tukas Tiko.
“Tapi aku merasa beruntung karena sudah dibukakan kebusukan mereka sebelum aku benar-benar jadi bagian keluarga mereka. Bisa kamu bayangin seandainya aku menikah sama perempuan macam begini. Mungkin hidupku akan berakhir tidak bahagia....”
Plak! Plak!
Dua tamparan keras mendarat di kedua pipi Tiko dan membuat pipi lelaki itu memerah.
“Berani-beraninya kamu ngomong begitu sama anak saya! Dasar kamu aja yang sampah! Kere! nggak punya duit jangan harap bisa bahagiain anak saya!” bentak Tante Maria kepada Tiko.
“Sudah tante, hentikan! Jangan hina Tiko seperti itu lagi!” ucap Salsa membela Tiko.
“Kamu jangan ikut campur deh! mending kalian pergi dari sini! Saya udah enek sama Tiko calon menantu miskin ini. Kalian sepertinya cocok karena sama sama berkasta rendah!”
“Kami memang miskin, Tante, tapi kami masih punya harga diri,” bela Salsa.
“Emang harga dirimu berapa sih? Seratus ribu cukup?” ujar Tante Maria sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. “Kayanya uang seratus ribu terlalu kegedean buat kalian! Mending saya kasih uang sepuluh ribu aja!”
Tante Maria mengeluarkan uang sepuluh ribuan dan melemparkan uang itu kepada Tiko dan Salsa.
“Sebaiknya kita pergi dari sini, Tiko! Mereka tidak pantas mendapat semua kebaikanmu!”
“Hus! Hus! Pergi sana! Kalian manusia manusia tidak berguna!” ujar Raul.
“Aku juga tidak sudi dekat dekat dengan keluarga matre!” bantah Tiko dengan nada emosi.
Perkataan Tiko sontak membuat Raul kembali naik pitam. Ketika Raul hendak menghajar kembali Tiko, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari belakang mereka.
“Hentikan!” ujar Vioa dengan dingin.
Semua mata tertuju pada Vio. Para tamu menyangka kalau akhirnya hati Vioa menjadi luluh dan merasa kasihan kepada Tiko. Dan pernikahan itu akhirnya kembali dilangsungkan.
Langkah-langkah pendek Vio membuat para tamu menahan napas untuk melihat aksi yang lebih seru selanjutnya.
Begitu juga dengan Tiko. Tiko mengira kalau Vio sudah mengubah kembali keputusannya, dan akan membelanya habis-habisan, dan bahkan akan melawan ibu dan kakaknya, Raul.
Tiko menatap Vio dengan penuh harap. Ada seutas senyum tersungging di bibir Vio ketika menatap wajah Tiko.
“Kamu kenapa sih? Apa kamu mau berubah pikiran dan mau lanjutin nikah sama si kere inih?” tanya Tante Maria kepada anak semata wayangnya.
“Lepasin dia!” perintah Vio kepada Raul. Kemudian Raul segera melepaskan cengkramannya dari kerah Tiko.
Vio mendekati Tiko, dan tanpa aba-aba, tiba-tiba Vio meludahi wajah Tiko dengan sangat cepat.
Piuhhhh!
“Cepat pergi dari sini! Aku tidak sudi punya calon suami kere dan nggak mau berkorban macam kamu.”
Senyum jahat tercetak di bibir Tante Maria dan Raul.
Kelakuan Vio tentu saja membuat hati Tiko serasa hancur.
Karena tak kuat menahan malu, Tiko segera pergi dari kerumunan orang, meninggalkan Salsa seorang diri.
Hujan turun ketika Tiko berusaha kabur dari kejaran para tamu. Di tengah hujan itulah, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Tiko membuka ponselnya, dan ternyata sebuah pesan singkat dari ibunya: Tiko, Mama sudah kirimkan uang sejumlah 10 Milyar ke rekeningmu. Jangan tanya dari mana, mama akan menceritakan semuanya setelah kita ketemu…
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







