LOGIN
“Kalau kamu nggak punya duit, jangan harap kamu bisa jadi menantu saya!” bentak Maria, calon mertua Tiko dengan nada kasar.
Hari ini sebenarnya adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Tiko dalam hidupnya. Betapa tidak, pemuda itu akan melangsungkan acara pernikahan dengan kekasih yang sangat dicintainya yang bernama Violet. Pernikahan itu sudah dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari oleh Tiko, dan hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakannya seandainya calon mertuanya tidak dengan tiba-tiba mencegat Tiko sebelum tiba di acara pernikahannya.
“Ada pa, Ma?” tanya Tiko dengan nada bingung ketika Maria menghadang Tiko untuk ke resepsi acara.
“Jangan panggil saya Mama, saya bukan ibumu,” jawab Maria dengan nada ketus. “Kok nanya ada apa sih? Seharusnya kamu mikir deh kalau saya jegal begini, pasti ada apa-apanya sama kamu!”
Mendengar perkataan Tante Maria, tentu saja membuat Tiko bingung bukan kepalang.
Kenapa Tante Maria jadi sepedas ini? Gumam Tiko dalam hati, seolah tak percaya dengan perubahan sikap Tante Maria.
Sore ini, Tiko sudah mengenakan setelan berupa jas hitam, dan bawahan hitam, terlihat sangat pas di tubuhnya yang kekar. Penampilannya terlihat sempurna, dengan rona wajah yang terlihat sangat bahagia. Namun, kebahagiaannya berangsur-angsur pudar ketika Maria, calon mertua Tiko, menyatakan keberatan atas pernikahan yang akan berlangsung. Musababnya: Mas kawin yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
“Kamu udah janji sama kami kalau kamu bakal ngasih mas kawin 200 Juta!” ujar Tante Maria tanpa tahu malu.
Perkataan Tante Maria diamini oleh Raul, kakak Vio, yang tiba-tiba nyelonong begitu saja, dan membuat keributan, membuat para tamu yang hadir di sana mengalihkan pandangan mereka menuju pusat keributan.
“Lo janjiin kami 200 Juta, tapi sampai sekarang lo cuman ngasih ke kita 100 juta. Berarti lo masih punya hutang sama kami 100 juta lagi!” bentak Raul dengan wajah seolah akan mengajak berantem.
Ya, Tiko tahu betul kalau Mas Kawin yang akan diberikan olehnya masih kurang seratus juta. Ini bukan tanpa alasan. Uang seratus juta yang diberikan oleh pemuda itu sebenarnya berasal dari pinjaman seorang sahabat yang telah berbaik hati kepadanya.
Bukannya Tiko tidak ingin lepas dari tanggung jawab membayar mahar sebesar dua ratus juta itu, karena sejujurnya Tiko tidak mempunyai uang sebanyak itu. Tiko sudah berusaha keras mencari kekurangan uang mas kawin yang diminta Keluarga Vio, tapi sampai tiba di hari pernikahannya, uang itu tidak kunjung datang.
Lagipula, sebenarnya Tiko tidak menjanjikan uang sebesar itu sebagai mas kawin, Keluarga Violet-lah yang memaksa untuk meminta uang sebanyak itu.
Tiko pikir, dengan membayarnya setengah dan berbicara jujur tentang kondisi keuangannya, Keluarga Vio akan menerima kondisinya apa adanya.
Lagipula, bukankah yang paling penting sekarang adalah pernikahanku dengan Vio berjalan lancar karena aku dan kekasihku adalah sepasang insan yang paling mencintai? gumam Tiko dalam hati.
Ketika berpikir seperti itu, muncullah Vio dari balik gerbang dengan gaun pengantin putih. Hari ini Violet terlihat sangat cantik bak seorang puteri raja yang akan dipinang seorang pangeran.
Kemunculan Vio di tengah prahara itu membuat Tiko merasa tenang.
Aku yakin Vio akan berada di pihakku dan mengerti akan kondisiku, aku harap Vio akan menjelaskan semua kekacauan ini kepada ibu dan kakak laki-lakinya, gumam Tiko dengan penuh pengharapan.
Langsung saja Tiko menghampiri Vio dan meminta perempuan itu menjelaskan semuanya kepada ibu dan kakak laki-lakinya.
“Sayang, bisa kamu jelasin semuanya sama Mama dan Kakakmu,” ucap Tiko kepada Vio dengan penuh harapan, sambil berusaha memegang pipi kanan calon pengantinnya yang cantik.
Betapa terkejutnya Tiko ketika tangan kanannya ditepiskan dengan sangat kasar oleh Vio sehingga semua tamu undangan yang hendak masuk menjadi ribut.
“Jangan sentuh aku, Tiko!” ujar Vio dengan nada ketus.
Sejak kapan Vio memanggil Tiko dengan sebutan nama?
Perlakuan Vio yang seperti itu tentu saja membuat Tiko terperangah.
Ada apa dengan Vio? Gumam Tiko sambil menatap wajah Vio dengan tidak percaya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Tiko seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dilakukan Vio barusan cuman ada di dalam khayalannya saja.
“Kamu bilang aku kenapa?” balas Vio dengan nada judes. “Harusnya kamu mikir Tiko kalau emang ada apa-apa sama kamu!”
“Betul!” ucap Tante Maria ikut-ikutan nimbrung. “Kamu tuh jangan belaga bloon begitu deh, Tiko. Jelas-jelas kamu itu sudah ingkar janji! Dan kami paling jijik dengan orang yang suka ingkar janji!”
“Dasar kamu orang miskin yang pura-pura kaya. Miskin mah miskin aja! Dasar kere!” bentak Raul tanpa malu-malu.
“Boleh aku bicara empat mata dengan Vio, Tante?” pinta Tiko kepada Tante Maria.
Masih ada harapan di benak Tiko kalau acara pernikahannya akan berjalan lancar. Dan Tiko masih menaruh harapan besar kepada Vio bahwa perempuan itu akan mengubah keputusannya.
“Sayang, kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik,” pinta Tiko kepada Violet.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tiko!” bantah Vio dengan nada ketus. Wajahnya yang cantik itu mendadak berubah menjadi sangat angkuh dan dingin.
“Bagaimana dengan janji sehidup semati kita, Sayang? Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu sangat mencintai aku apa adanya? Bahwa kita akan selalu bersama menjalani hari-hari kita meski badai menghalangi hubungan kita!”
“Kalau memang kamu cinta aku, seharusnya kamu tahu diri dong. Cowok sejati harus mau ngorbanin apa aja demi orang yang dicintainya. Berkorban seratus juta apa susahnya sih! Apalah artinya uang seratus juta kalau pada akhirnya kamu bakal bahagia selamanya dapetin cewek cantik macam aku. Aku mau tanya sama kamu, kamu beneran cinta aku nggak sih?”
“Tentu saja aku cinta kamu,” jawab Tiko dengan pandangan mata tajam ke arah Vio.
Di tengah-tengah keriuhan itu, tiba-tiba Salsa—sahabat Tiko, muncul dan mulai membantu Tiko supaya Vio bisa mengubah pikirannya.
“Tidak bisakah semua ini dibicarakan lagi!” pinta Salsa dengan nada memohon kepada Vio.
Mendengar perkataan Salsa yang seperti itu, sontak membuat Vio mendelikkan matanya ke arah sahabat Tiko itu.
“Ngapain kamu ikut campur urusan saya? Lagian kamu siapa? Pahlawan kesiangan?” cemooh Vio kepada Salsa.
“Iya ngapain sih kamu ikut campur masalah kami?” timpal Tante Maria. “Nggak usah ikut campur, ya. Anakku kan udah bilang kalau dia nggak mau nikah sama cowok yang nggak mau berkorban. Kalau dia nggak mau nikah sama sahabatmu, mending kalian nikah aja berdua sana. Sama-sama kere kan! Jadi kayanya kalian cocok deh! atau jangan-jangan emang kamu suka ya sama Tiko si kere ini!”
“Bukan begitu, Tante, saya cuman kasihan dengan sahabat saya!” ucap Salsa menjelaskan.
“Alah alesan, mending ngaku aja deh. Mending sekarang bawa aja deh sahabatmu yang kere ini. Saya udah enek ngelihat tampang miskinnya. Untung aja ya ketahuannya sebelum nikah, coba kalau udah nikah, bisa berabe, hidup anak saya bakal susah. Saya ga sudi punya menantu kere.
“Cukup! Cukup! Aku tanya sekali lagi sama kamu, Sayang,” ucap Tiko dengan menatap wajah Violet dalam-dalam. “Kamu lebih milih aku atau uang seratus juta itu?”
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







