Share

Pilihan yang Menghancurkan
Pilihan yang Menghancurkan
Author: Peachy

Bab 1

Author: Peachy
Aku terbangun dari mimpi buruk tentang bayiku yang lahir mati, hanya untuk mendapati mimpi buruk baru sudah menungguku. Di lorong, aku mendengar suamiku, Bos Reyhan Dirgantara, sedang bersekongkol dengan dokter.

"Bos, bayinya sudah mati. Bagaimana kalau Nyonya curiga?" tambah Willi, dokter itu, dengan gugup.

Rasa sakit menusuk perutku, tapi aku harus mendengar sisa rencana gilanya.

"Dia tidak akan curiga." Suaranya terdengar sangat tenang, bahkan menakutkan. "Aku akan membawakan putra Selena untuknya. Aku akan bilang itu anak kami. Soal yang satunya lagi, yang mati itu … hapus semua catatan medisnya."

"Dia juga anakku. Tapi dia sudah mati. Carikan tempat pemakaman yang layak dan kuburkan dia." Suaranya sempat terdengar rapuh sejenak, lalu kembali dingin.

"Dan satu hal lagi. Berikan pada Kayla obat sterilisasi baru yang dimiliki rumah sakit itu."

Suara Dokter Willi bergetar. "Bos, obat itu … Nyonya baru saja melahirkan bayi yang mati. Tubuhnya sangat lemah. Dia bisa mandul. Permanen."

"Lakukan." Suara Reyhan sedingin es. "Aku sudah berjanji pada Selena bahwa putranya akan menjadi satu-satunya ahli warisku. Kayla tidak boleh punya anak lagi. Tidak boleh ada masalah di kemudian hari. Satu suntikan lebih baik daripada membuatnya menderita lewat satu musibah demi satu musibah. Mengerti maksudku, Dokter Willi?"

Aku menggigit bibir begitu keras sampai merasakan darah, berusaha menahan dorongan untuk berteriak.

"Perhiasan, uang, bahkan sebuah rumah mewah … aku akan memberinya apa pun yang dia mau. Itu akan menebus semuanya."

Tidak ada perhiasan di dunia ini yang lebih berharga daripada anakku.

Aku mengendalikan tubuhku yang gemetar dan bersembunyi di tangga darurat, memaksa diriku tetap diam.

Tapi ketika wakil Reyhan, Alex datang, duniaku benar-benar hancur.

"Bos, kami sudah menyelidikinya … serangan Keluarga Aryatama itu … sepertinya pekerjaan orang dalam. Orang-orang kita di gerbang timur ditarik pergi oleh perintah pemindahan palsu. Dan perintah itu ditandatangani tepat saat Anda sedang … bersama Nona Selena."

Reyhan terdiam cukup lama. Ketika akhirnya berbicara, nada suaranya sangat santai.

"Ya sudah, biarkan saja begitu. Keluarga Aryatama memberiku alasan yang sempurna, bukan? Aku memang sedang mencari cara agar Kayla kehilangan anak kami tanpa terlihat seperti kesalahanku."

Duniaku bukan hanya runtuh. Semuanya berubah menjadi abu.

Air mata jatuh tanpa suara di pipiku. Aku menutup mulut dengan tangan yang gemetar, takut mengeluarkan sedikit pun suara.

Bayiku sudah mati.

Karena dia tidur dengan Selena, putri yatim dari sahabat terbaik ibunya.

Karena dia menarik pasukan keamanan hanya untuk menyenangkan wanita simpanannya.

Dia memilih menyelamatkan Selena, dan membiarkan putra kami mati.

Dan aku bahkan tidak pernah sempat melihat wajahnya.

Rasa sakit itu begitu besar, seolah jantungku dicabik keluar dari dadaku.

Setelah Reyhan pergi, aku mengerahkan sisa tenagaku untuk kembali ke kamar dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Terikat pada kursi roda ini, aku terlalu lemah untuk membalas dendam.

Satu-satunya pilihanku sekarang adalah bertahan. Menunggu kesempatan untuk membalas.

Aku menutup mata, dan membiarkan air mata membasahi bantal.

Ketika aku membuka mata lagi, Reyhan sudah duduk di samping tempat tidurku, menggendong bayi yang terbungkus kain bedong.

Dia tersenyum seperti ayah yang bangga, menatap bayi itu dengan cinta yang begitu jelas.

"Kayla, kamu sudah bangun?" katanya penuh kegembiraan. "Lihatlah putra kita yang tampan."

Putra kita?

Tawa pahit hampir lolos dari bibirku.

Itu putra Selena.

"Aku sangat bahagia kamu memberiku harta yang begitu berharga." Reyhan berdiri dan dengan hati-hati menyerahkan bayi itu kepadaku. "Dia akan dicintai oleh kita semua. Dia akan menjadi ahli waris keluarga kita."

Aku menerima bayi itu dengan kaku, dan menatap wajah kecil yang asing itu.

Ini bukan anakku.

Gelombang amarah yang besar menerjangku, tetapi tubuhku yang lemah tidak mampu menahannya.

Tiba-tiba, rasa sakit tajam seperti sobekan menjalar di perutku.

"Ah .…"

Aku membungkuk kesakitan saat darah mulai merembes membasahi seprai.

"Kayla!" teriak Reyhan. "Panggil dokter! Sekarang!"

Dokter Willi bergegas masuk. Begitu melihat darah itu, dia langsung memberi perintah dengan cepat.

"Perdarahan pasca melahirkan! Kita harus bergerak sekarang!"

Kesadaranku mulai memudar, tapi aku masih bisa mendengar suara Reyhan dengan dingin dan jelas.

"Lakukan sekarang. Suntikkan obatnya."

Obat yang akan membuatku mandul selamanya.

Aku ingin melawan, ingin berteriak, tapi tubuhku tidak mau patuh.

Jarum menusuk kulit lenganku.

Kegelapan menelanku sepenuhnya.

Ketika aku bangun, Reyhan duduk di samping tempat tidur, matanya memerah.

"Kayla, kamu benar-benar membuatku ketakutan," katanya sambil menggenggam tanganku, suaranya tercekat emosi. "Para dokter … mereka bilang karena persalinannya sulit dan kamu kehilangan banyak darah, rahimmu mengalami kerusakan yang tidak bisa dipulihkan. Kamu … kamu tidak bisa punya anak lagi."

Setetes air mata mengalir di pipinya.

"Itu semua gara-gara bajingan Keluarga Aryatama! Kalau bukan karena serangan mereka, semua ini tidak akan terjadi. Aku akan membuat mereka membayar dengan nyawa mereka!"

Aktor yang luar biasa.

Jika aku tidak mengetahui kebenarannya, mungkin aku benar-benar akan terharu.

"Syukurlah kita sudah memiliki ahli waris." Reyhan mengusap pipiku. "Kalau tidak, kurasa aku bisa benar-benar kehilangan akal."

Aku menutup mata. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang penuh kebohongan lagi.

"Aku akan mengambilkan sup untukmu," kata Reyhan sambil berdiri. "Untuk sementara bayi itu akan aku kirim ke rumah ibuku. Kamu perlu istirahat."

Kupikir dia akan pergi.

Namun setelah mengirim bayi itu, dia tidak memanggil perawat. Dia kembali sendiri dengan membawa semangkuk sup.

"Nah, buka mulut."

Dia menyuapiku sendok demi sendok, gerakannya lembut dan hati-hati.

Seorang bos mafia sendiri melayaniku dengan penuh perhatian. Itu sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

"Aku meminta koki membuatkan kaldu. Resep lama. Ini baik untukmu."

Jika aku tidak tahu kebenarannya, aku mungkin akan mengira dia adalah suami yang penuh kasih.

Namun dia bukan. Dia adalah musuhku.

Reyhan merawatku selama tujuh hari penuh, tetapi itu tidak sedikit pun meredakan kebencian di hatiku.

Pada malam ketujuh, dia kelelahan dan tertidur di kursi di samping tempat tidurku.

Dengan tangan gemetar, aku menyelipkan tanganku ke dalam jasnya dan menemukan sebuah ponsel terkunci yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku mencoba tanggal ulang tahun pernikahan kami. Tanggal perkiraan kelahiran putra kami. Tidak berhasil.

Dengan rasa pahit yang menekan, aku memasukkan tanggal ulang tahun Selena.

Ponsel itu terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 8

    Matahari di Auravilla terasa sama hangatnya.Aku berdiri di luar studio restorasi seni pribadi itu, menatap melalui kaca.Di sana dia.Kayla.Dia duduk tenang di depan sebuah kanvas, merestorasi lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus yang rusak.Cahaya matahari keemasan jatuh di atasnya, sama seperti hari pertama kami bertemu.Dia tampak begitu fokus, begitu tenang, seolah kekacauan berdarah dari dunia kami tidak bisa menyentuhnya di tempat ini.Aku tidak berani masuk.Takut menghancurkan kedamaian ini.Tanganku gemetar.Akhirnya, aku mendorong pintu itu terbuka.Sebuah lonceng kecil berdenting. Dia tidak berbalik."Kayla ...." Suaraku seperti bisikan kasar.Tangannya berhenti sejenak, lalu kembali menorehkan cat di kanvas."Aku mengenali suara itu," katanya dengan suaranya yang begitu tenang. "Langkah kaki Reyhan Dirgantara. Aku bisa mengenalinya di mana pun."Aku melangkah beberapa langkah lebih dekat. Aku pun melihat lukisan yang sedang dia kerjakan.Bunda Maria menggendong bayi Yesus,

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 7

    Jeritan dari ruang bawah tanah memecah keheningan malam.Aku berjalan menuruni tangga batu, setiap langkah terasa berat seperti batu nisan.Selena dirantai di tengah ruang interogasi. Gaunnya robek, dan wajahnya penuh ketakutan."Reyhan!" teriaknya dengan suaranya yang gemetar. "Tolong, lepaskan aku! Aku tidak melakukan apa-apa!"Aku berhenti di depannya dan menatapnya dengan tatapan dingin."Tidak melakukan apa-apa?" kataku perlahan. "Selena, barusan aku mendengar sebuah rekaman yang sangat menarik."Wajahnya langsung pucat."Itu ... itu palsu! Kayla yang memalsukannya!"Aku mengeluarkan pisau dari jaketku. Itu pusaka Keluarga Dirgantara."Selena, aku beri kamu satu kesempatan lagi." Ujung pisau itu menekan dagunya. "Katakan bagaimana anakku mati.""Aku tidak tahu!" Dia menggeleng panik. "Bayi itu lahir dalam kondisi mati! Dokter bisa membuktikannya!""Dokter?" Aku tersenyum tipis dan dingin. "Dokter Willi? Lucunya, dia mengalami sedikit ... kecelakaan tadi malam. Rem mobilnya blong.

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 6

    Sudut Pandang Reyhan.Rumah besar itu sunyi. Sunyi yang mencekam.Aku mendorong pintu utama hingga terbuka. Hanya lorong-lorong kosong yang menyambutku.Lukisan-lukisan Kayla hilang. Piano kesayangannya hilang. Bahkan sepatu dansa yang biasa dia tinggalkan di dekat pintu ... juga hilang.Seolah-olah dia tidak pernah ada di sini.Aku berlari ke lantai atas dan membuka paksa pintu kamar kami. Sisi lemarinya kosong.Di meja riasnya, parfum, kotak perhiasan,dan riasannya semuanya hilang.Yang tersisa hanya barang-barangku, kesepian di ruangan besar ini.Aku mengacak-acak laci seperti orang gila, berharap menemukan sesuatu, tanda apa pun yang dia tinggalkan.Tapi tidak ada apa-apa.Dari bawah, aku mencium bau sesuatu yang terbakar. Perapian. Bara masih menyala di dalamnya.Aku mendekat. Jantungku sontak berhenti berdetak.Di antara abu hitam itu, aku mengenali beberapa huruf.Itu akta pernikahan kami. Dia membakar satu-satunya bukti kehidupan kami bersama. Tiga tahun … berubah menjadi abu.

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 5

    Layar itu menyala. Gereja langsung menjadi sunyi senyap.Gambar pertama berasal dari kamera keamanan rumah sakit.Suara Reyhan yang dingin dan jelas bergema di seluruh kapel."Tidak ada yang boleh mengatakan kebenaran kepada Kayla. Aku ingin dia membesarkan putraku dengan Selena seolah-olah anak itu miliknya sendiri.""Dan obat baru dari rumah sakit itu … yang bisa memastikan seorang wanita tidak akan pernah bisa hamil lagi …. Pastikan Kayla mendapatkannya."Wajah Selena langsung pucat.Tangan Reyhan mulai gemetar. Bayi di pelukannya merasakan ketakutannya dan mulai menangis."Ini tidak mungkin .…" gumamnya.Tapi layar itu terus memutar.Berikutnya muncul foto-foto dan video dari ponsel Reyhan.Dia mengajari Selena menembak, tubuh mereka berdiri sangat dekat.Dia melukis potret Selena di dalam momen yang penuh kelembutan.Ada juga ... sebuah ciuman yang dalam di studio kaca Danau Elenora.Setiap gambar adalah bukti pengkhianatannya."Ya Tuhan, ini nyata?" Seseorang berbisik dari bangku

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 4

    "Reyhan!" Selena terisak, menempelkan wajahnya ke dada pria itu."Dia cemburu padaku! Cemburu pada perhiasan yang ibumu berikan padaku, cemburu pada hadiah yang kamu belikan untukku!""Dia bilang dia akan membunuhku dan anak kita!"Aku berusaha bangkit dari tanah, darah menetes dari telapak tanganku yang tergores."Selena, kamu .…""Cukup!" Reyhan memotongku, matanya membara dengan amarah yang menakutkan."Hanya karena ibuku tidak menyukaimu, kamu harus melampiaskannya pada Selena?""Kamu mau tas dan perhiasan? Aku bisa membelikanmu apa saja!" Suaranya meninggi."Yang perlu kamu lakukan hanya patuh! Hentikan kecemburuan sialan ini!""Kita punya seorang ahli waris yang harus dibesarkan bersama! Aku tidak akan membiarkanmu bertindak seperti ini!"Ahli waris?Aku tidak bisa menahan tawa pahit yang lolos dari bibirku."Ahli waris apa, Reyhan? Emangnya ahli waris kita masih hidup?"Wajah Reyhan langsung pucat."Mengapa keamanan ditarik dari acara itu, Reyhan? Mengapa aku hampir mati kehabis

  • Pilihan yang Menghancurkan   Bab 3

    Selena terengah, dan menutup mulutnya dengan penuh kegembiraan."Reyhan, kamu terlalu baik padaku!"Dia berjinjit dan mencium pipi Reyhan.Udara di ruang tamu seketika hening.Reyhan mundur selangkah dengan canggung."Selena hanya … terlalu bersemangat," jelasnya sambil menatapku. "Kami tumbuh bersama, dia memang selalu lebih ekspresif. Dia baru saja punya bayi, dan tidak ada suami di sisinya … kamu harus mengerti, Kayla."Mengerti? Aku melihat senyum manja Selena, perutku terasa mual."Reyhan benar," kata Selena dengan suara lembut, tangannya mengusap kulit tas-tas mahal itu. "Sejak dulu hanya kamu yang selalu baik padaku."Jarinya pun menyentuh punggung tangan Reyhan, sentuhan yang begitu intim sampai terasa seperti sebuah tantangan.Melihat tatapanku yang tajam, Selena tiba-tiba memegangi dahinya, dan tubuhnya bergoyang seolah akan pingsan, lalu jatuh ke dalam pelukan Reyhan."Aku … tiba-tiba sangat pusing. Sangat lelah. Bisakah kamu membawaku ke atas untuk beristirahat?"Lengan Rey

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status