ログインMatahari di Auravilla terasa sama hangatnya.Aku berdiri di luar studio restorasi seni pribadi itu, menatap melalui kaca.Di sana dia.Kayla.Dia duduk tenang di depan sebuah kanvas, merestorasi lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus yang rusak.Cahaya matahari keemasan jatuh di atasnya, sama seperti hari pertama kami bertemu.Dia tampak begitu fokus, begitu tenang, seolah kekacauan berdarah dari dunia kami tidak bisa menyentuhnya di tempat ini.Aku tidak berani masuk.Takut menghancurkan kedamaian ini.Tanganku gemetar.Akhirnya, aku mendorong pintu itu terbuka.Sebuah lonceng kecil berdenting. Dia tidak berbalik."Kayla ...." Suaraku seperti bisikan kasar.Tangannya berhenti sejenak, lalu kembali menorehkan cat di kanvas."Aku mengenali suara itu," katanya dengan suaranya yang begitu tenang. "Langkah kaki Reyhan Dirgantara. Aku bisa mengenalinya di mana pun."Aku melangkah beberapa langkah lebih dekat. Aku pun melihat lukisan yang sedang dia kerjakan.Bunda Maria menggendong bayi Yesus,
Jeritan dari ruang bawah tanah memecah keheningan malam.Aku berjalan menuruni tangga batu, setiap langkah terasa berat seperti batu nisan.Selena dirantai di tengah ruang interogasi. Gaunnya robek, dan wajahnya penuh ketakutan."Reyhan!" teriaknya dengan suaranya yang gemetar. "Tolong, lepaskan aku! Aku tidak melakukan apa-apa!"Aku berhenti di depannya dan menatapnya dengan tatapan dingin."Tidak melakukan apa-apa?" kataku perlahan. "Selena, barusan aku mendengar sebuah rekaman yang sangat menarik."Wajahnya langsung pucat."Itu ... itu palsu! Kayla yang memalsukannya!"Aku mengeluarkan pisau dari jaketku. Itu pusaka Keluarga Dirgantara."Selena, aku beri kamu satu kesempatan lagi." Ujung pisau itu menekan dagunya. "Katakan bagaimana anakku mati.""Aku tidak tahu!" Dia menggeleng panik. "Bayi itu lahir dalam kondisi mati! Dokter bisa membuktikannya!""Dokter?" Aku tersenyum tipis dan dingin. "Dokter Willi? Lucunya, dia mengalami sedikit ... kecelakaan tadi malam. Rem mobilnya blong.
Sudut Pandang Reyhan.Rumah besar itu sunyi. Sunyi yang mencekam.Aku mendorong pintu utama hingga terbuka. Hanya lorong-lorong kosong yang menyambutku.Lukisan-lukisan Kayla hilang. Piano kesayangannya hilang. Bahkan sepatu dansa yang biasa dia tinggalkan di dekat pintu ... juga hilang.Seolah-olah dia tidak pernah ada di sini.Aku berlari ke lantai atas dan membuka paksa pintu kamar kami. Sisi lemarinya kosong.Di meja riasnya, parfum, kotak perhiasan,dan riasannya semuanya hilang.Yang tersisa hanya barang-barangku, kesepian di ruangan besar ini.Aku mengacak-acak laci seperti orang gila, berharap menemukan sesuatu, tanda apa pun yang dia tinggalkan.Tapi tidak ada apa-apa.Dari bawah, aku mencium bau sesuatu yang terbakar. Perapian. Bara masih menyala di dalamnya.Aku mendekat. Jantungku sontak berhenti berdetak.Di antara abu hitam itu, aku mengenali beberapa huruf.Itu akta pernikahan kami. Dia membakar satu-satunya bukti kehidupan kami bersama. Tiga tahun … berubah menjadi abu.
Layar itu menyala. Gereja langsung menjadi sunyi senyap.Gambar pertama berasal dari kamera keamanan rumah sakit.Suara Reyhan yang dingin dan jelas bergema di seluruh kapel."Tidak ada yang boleh mengatakan kebenaran kepada Kayla. Aku ingin dia membesarkan putraku dengan Selena seolah-olah anak itu miliknya sendiri.""Dan obat baru dari rumah sakit itu … yang bisa memastikan seorang wanita tidak akan pernah bisa hamil lagi …. Pastikan Kayla mendapatkannya."Wajah Selena langsung pucat.Tangan Reyhan mulai gemetar. Bayi di pelukannya merasakan ketakutannya dan mulai menangis."Ini tidak mungkin .…" gumamnya.Tapi layar itu terus memutar.Berikutnya muncul foto-foto dan video dari ponsel Reyhan.Dia mengajari Selena menembak, tubuh mereka berdiri sangat dekat.Dia melukis potret Selena di dalam momen yang penuh kelembutan.Ada juga ... sebuah ciuman yang dalam di studio kaca Danau Elenora.Setiap gambar adalah bukti pengkhianatannya."Ya Tuhan, ini nyata?" Seseorang berbisik dari bangku
"Reyhan!" Selena terisak, menempelkan wajahnya ke dada pria itu."Dia cemburu padaku! Cemburu pada perhiasan yang ibumu berikan padaku, cemburu pada hadiah yang kamu belikan untukku!""Dia bilang dia akan membunuhku dan anak kita!"Aku berusaha bangkit dari tanah, darah menetes dari telapak tanganku yang tergores."Selena, kamu .…""Cukup!" Reyhan memotongku, matanya membara dengan amarah yang menakutkan."Hanya karena ibuku tidak menyukaimu, kamu harus melampiaskannya pada Selena?""Kamu mau tas dan perhiasan? Aku bisa membelikanmu apa saja!" Suaranya meninggi."Yang perlu kamu lakukan hanya patuh! Hentikan kecemburuan sialan ini!""Kita punya seorang ahli waris yang harus dibesarkan bersama! Aku tidak akan membiarkanmu bertindak seperti ini!"Ahli waris?Aku tidak bisa menahan tawa pahit yang lolos dari bibirku."Ahli waris apa, Reyhan? Emangnya ahli waris kita masih hidup?"Wajah Reyhan langsung pucat."Mengapa keamanan ditarik dari acara itu, Reyhan? Mengapa aku hampir mati kehabis
Selena terengah, dan menutup mulutnya dengan penuh kegembiraan."Reyhan, kamu terlalu baik padaku!"Dia berjinjit dan mencium pipi Reyhan.Udara di ruang tamu seketika hening.Reyhan mundur selangkah dengan canggung."Selena hanya … terlalu bersemangat," jelasnya sambil menatapku. "Kami tumbuh bersama, dia memang selalu lebih ekspresif. Dia baru saja punya bayi, dan tidak ada suami di sisinya … kamu harus mengerti, Kayla."Mengerti? Aku melihat senyum manja Selena, perutku terasa mual."Reyhan benar," kata Selena dengan suara lembut, tangannya mengusap kulit tas-tas mahal itu. "Sejak dulu hanya kamu yang selalu baik padaku."Jarinya pun menyentuh punggung tangan Reyhan, sentuhan yang begitu intim sampai terasa seperti sebuah tantangan.Melihat tatapanku yang tajam, Selena tiba-tiba memegangi dahinya, dan tubuhnya bergoyang seolah akan pingsan, lalu jatuh ke dalam pelukan Reyhan."Aku … tiba-tiba sangat pusing. Sangat lelah. Bisakah kamu membawaku ke atas untuk beristirahat?"Lengan Rey







